OPTIMALISASI PENCEGAHAN TRANSMISI VERTIKAL HIV/AIDS DENGAN EKSTRAKSI BANLEC PADA PISANG

20 Feb

When a woman is able to give birth, that is a gift. But when an HIV-positive woman is able to give birth, and the baby turns out to be negative, that is a miracle

 

HIV/AIDS dan Transmisi Vertikal

AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) dapat diartikan sebagai kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang termasuk family retroviridae. HIV/AIDS adalah salah satu masalah besar yang mengancam Indonesia dan banyak Negara di dunia. HIV/AIDS menyebabkan berbagai krisis pembangunan Negara, krisis ekonomi, pendidikan dan juga krisis kemanusiaan. Dengan kata lain HIV/AIDS menyebabkan krisis multidimensi.

Krisis multidimensi khususnya krisis kemanusiaan tidak hanya mengancam orang dewasa tetapi saat ini HIV/AIDS juga mengancam jiwa anak-anak Indonesia. Hal ini terjadi karena krisis ekonomi yang makin mengancam negara Indonesia juga mengancam rencana pencegahan dan pengobatan konvensional yang seharusnya dapat menekan persentase morbiditas dan mortalitas anak penderita HIV/AIDS. Berdasarkan data Kemenkes tahun 2010, dalam empat tahun terakhir kasus HIV/AIDS pada anak-anak Indonesia meningkat 700%. Pada 15 Januari 2004 diketahui jumlah HIV pada anak sebanyak 158 anak, kemudian pada 1 Desember 2009, diketahui jumlahnya sudah meningkat menjadi 691 anak dan pada 2010 kembali meningkat menjadi 1.119 anak.

Peningkatan penyebaran virus mematikan ini terjadi karena penularan dari ibu HIV+ ke bayi semakin tidak terkendali. Cairan yang dikeluarkan oleh ibu seperti plasenta, darah, dan ASI menjadi penyebab utama mudahnya terjadi penularan ke bayi. Bayi dapat menjadi terinfeksi di dalam kandungan (intrauterin), selama proses persalinan (intrapartum), atau melalui ASI.

Pada waktu bayi dalam kandungan, bayi mendapat zat makanan dan O2 dari darah ibu yang dipompakan ke darah bayi, walaupun begitu umumnya darah ibu tidak bercampur dengan darah bayi, sehingga tidak semua bayi yang dikandung ibu dengan HIV positif tertular HIV saat dalam kandungan. Pada kebanyakan wanita yang terinfeksi, HIV tidak dapat menular dari ibu ke anak melewati plasenta, dan plasenta malah melindungi fetus dari HIV. Tetapi perlindungan ini dapat rusak ketika imunitas ibu menjadi lemah. Penularan pada proses persalinan terjadi ketika kontak antara darah ibu, maupun lendir ibu dan bayi sehingga virus HIV dapat masuk kedalam tubuh bayi. Makin lama proses persalinan berlangsung, makin lama kontak antara bayi dengan cairan tubuh ibu, makin tinggi resiko tertular. Sedangkan, penularan melalui ASI terjadi pada minggu-minggu pertama menyusui. Semakin lama bayi menyusui semakin besar persentase penularan HIV ke bayi. Bila ibu ODHA tidak menyusui bayinya maka kemungkinan bayinya terinfeksi HIV berkisar sekitar 15-30%, bila menyusui sampai 6 bulan kemungkinan terinfeksi 25-35%, dan bila masa menyusui diperpanjang sampai 18-24 bulan maka risiko terinfeksi meningkat menjadi 30-45%.

Penularan dari ibu ke bayi ini termasuk ke dalam transmisi vertikal penyebaran HIV/AIDS. Saat ini, laju transmisi vertikal dari ibu ke bayi (MTCT) bervariasi dari 13% hingga 40% pada perempuan yang tidak diobati. Persentase transmisi vertikal dari ibu ke bayi berkisar sekitar 5-10% selama kehamilan, 10-20% saat persalinan dan menyusui bila disusui sampai 2 tahun. Dengan demikian pencegahan penularan vertikal dari ibu ke bayi menjadi penting. Karena hal tersebutlah yang dapat menurunkan persentase morbiditas dan mortalitas HIV/AIDS pada anak, serta merupakan upaya pembangunan bangsa dalam hal memajukan generasi muda.

Langkah pencegahan transmisi vertikal HIV/AIDS yang dilakukan pada ibu hamil terkait juga dengan Undang-Undang Dasar 1945, tentang Pembangunan Anak Indonesia sebagai bagian dari Pembangunan Sumber Daya Manusia yang Berkualitas. Hal ini tertulis pada pasal 28 b (2) yang berbunyi, bahwa “setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”. Jelaslah didalam undang-undang ini tersirat, bahwa suatu pencegahan transmisi vertikal dari ibu ke bayi (PMTCT) adalah suatu langkah yang sangat berperan penting untuk memajukan masa depan Bangsa.

Saat ini, pencegahan yang sudah dicanangkan di seluruh dunia termasuk Indonesia adalah pemberian obat antiretroviral (ARV) kepada ibu hamil. ARV bekerja langsung menghambat replikasi (penggandaan diri HIV). Tujuan dari pemberian obat ini adalah untuk meningkatkan kadar CD4 dan mengurangi viral load (jumlah virus dalam darah) pada tubuh ibu. Hal ini dikarenakan, ketika terjadi peningkatan viral load maka akan memudahkan terjadinya peningkatan replikasi HIV dan kecepatan penghancuran sel CD4 dalam tubuh, sedangkan penurunan jumlah CD4 dapat memudahkan terjadinya peningkatan kerusakan pada sistem imunitas tubuh ibu. ART juga dapat menurunkan persentase transmisi vertikal dari ibu ke bayi saat kehamilan. Pemberian ART ini biasanya diberikan ketika sudah ada indikasi pemberian ART pada ibu hamil, tetapi beberapa dokter menyarankan agar pemberian ART tidak diberikan pada kehamilan triwulan pertama karena akan berdampak buruk pada janin yang dikandungnya.

 

Optimalisasi Pencegahan Transmisi Vertikal HIV/AIDS

Sebagai optimalisasi pencegahan terhadap transmisi vertikal penyebaran HIV pada bayi, kini terdapat solusi terbaru untuk ibu hamil HIV+. Pencegahan transmisi vertikal dari ibu ke bayi (PMTCT) dapat dioptimalkan dengan mengkonsumsi pisang pada ibu hamil.

Pisang selain terkenal sebagai buah utama pemberi energi yang mengandung banyak mineral, kalium, dan karbohidrat, serta sebagai buah yang sangat baik untuk ibu hamil karena kandungan asam folatnya. Ternyata pisang juga memiliki kandungan Banlec atau lektin yang dapat digunakan sebagai optimalisasi pencegah penularan HIV, khususnya HIV-1.

Lektin terkenal sebagai suatu protein pengikat karbohidrat yang menyebabkan aglutinasi sel atau mengendapkan glikokonjugat. Di antara berbagai manfaatnya, lektin digunakan untuk memurnikan glikoprotein tertentu, sebagai alat untuk melacak profil glikoprotein permukaan sel, dan sebagai reagen untuk menghasilkan sel mutan yang defisien dalam enzim tertentu. Dalam kaitannya dengan hal ini, mengkonsumsi pisang sebagai optimalisasi pencegahan transmisi vertikal HIV/AIDS dari ibu ke bayi (PMTCT) yaitu, karena kandungan lektin (BanLec) yang dimiliki oleh pisang dapat berikatan langsung dengan amplop protein HIV, glikoprotein 120 (gp120) yang kaya akan gula (Mannose). Dapat diketahui, bahwa gp120 pada HIV dapat berikatan langsung dengan CD4+ pada sel T dan makrofag, serta reseptor kemokin (CXCR4 dan CCR5) yang pada akhirnya akan menyebabkan infeksi dan merusak sistem kekebalan tubuh pada manusia. Oleh karena itu, mengkonsumsi pisang pada ibu hamil HIV sangat berperan penting dalam mencegah terjadinya transmisi vertikal. Karena, ketika lektin pisang tersebut berikatan dengan gp120 yang kaya akan monosse, ikatan langsung yang seharusnya terjadi antara gp120 dengan CD4+ pada sel T dan makrofag, serta reseptor kemokin (CXCR4 dan CCR5) akan terhambat dan terjadi pemblokiran virus untuk masuk ke sel tubuh ibu HIV dan akhirnya akan mencegah proses replikasi virus di dalam tubuh ibu. Selain dapat berikatan dengan gp120, BanLec juga dapat berikatan dengan amplop-amplop protein yang terdapat pada HIV salah satunya adalah gp41 yang merupakan amplop protein pembantu gp120 untuk masuk ke dalam sel tubuh manusia. Dari sinilah, kenapa pisang dapat digunakan sebagai optimalisasi pencegahan transmisi vertikal HIV dari ibu ke bayi, khususnya HIV-1.

 

Untung vs Rugi

Berbeda halnya dengan terapi ARV, pisang adalah buah yang sangat mudah ditemukan oleh masyarakat Indonesia karena dapat ditemukan di semua pelosok negeri dan terjangkau pula harganya. Mudahnya resistensi yang terjadi pada ARV mendorong lektin pada pisang sebagai salah satu gagasan terbaru optimalisasi pencegahan transmisi vertikal, karena ketika terjadi resistensi terhadap ARV lektin yang dimiliki pisang dapat menggantikan kerja ARV secara optimal dan bekerja dengan jangka panjang yang tidak mudah resisten. Bagi ibu hamil yang terinfeksi HIV, dapat mengkonsumsi pisang satu kali sehari setelah makan sebagai pelengkap pola makan 4 sehat 5 sempurna atau dapat di jus yang berfungsi untuk mencegah transmisi vertikal pada masa kehamilan (intrauterin) dan masa menyusui, serta sebagai obat oles pada vagina untuk mencegah transmisi vertikal HIV/AIDS saat proses persalinan (intrapartum).

Dengan mudahnya pemanfaatan buah pisang sebagai pencegah transmisi vertikal HIV/AIDS dari ibu ke bayi, dapat menjadikan buah pisang sebagai salah satu lahan mata pencaharian bagi masyarakat Indonesia yang mudah dibudidayakan dengan cara berkebun.

Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa dengan buah pisang krisis multidimensi yang terjadi di negara Indonesia baik dari segi kemanusiaan ataupun ekonomi dapat menurun. Karena dengan adanya buah pisang dapat  menurunkan morbiditas dan mortalitas transmisi vertikal pada bayi sehingga tercapailah cita-cita bangsa untuk menjalani Undang-Undang Dasar 1945 dalam melindungi masa depan generasi penerus, serta meningkatkan ekonomi Indonesia dengan pembudidayaan pisang sebagai lahan berkebun.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Adelberg, Melnick, & Jawets. 2007. Mikrobiologi Kedokteran, edisi 23. Jakarta : EGC
  2. Baratawidaja, Garna, Karnean. 2009. IMUNOLOGI DASAR, edisi ke-8. Jakarta : EGC.
  3. Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular & Penyehatan Lingkungan. 2003. PEDOMAN NASIONAL PERAWATAN, DUKUNGAN DAN PENGOBATAN BAGI ODHA. Jakarta : Departemen  Kesehatan RI
  4. Laporan Utama dari Majalah Keluarga Mandiri (Gemari), edisi 119/Tahun XI. Desember 2010. HIV/AIDS Mengancam Anak Bangsa dan Permasalahan Anak Masih Tinggi. Jakarta. Hlm. 12-13 dan 40
  5. Murey, K, Robert, dkk. 2009. BIOKIMIA HARPER, edisi 27. Jakarta : EGC.
  6. Swanson, D, Michael, dkk. 2010. A Lectin Isolated from Banana is a Potent Inhibitor of HIV Replication. Michigan : The American Society for Biochemistry and Moleclar Biology, The Journal of Biological Chemistry.
  7. Tsegaye, Solomon, Theodros, dan Pohlmann, Stefan. 2010. The Multiple Facets of HIV Attachment to Dendritic Cell Lectins. Oxford : Cellular Microbiology.
  8. Zubairi, Djoerban, dan Samsuridjal, Djauzi. 2006. Ilmu Penyakit Dalam (HIV/AIDS DI INDONESIA), edisi IV. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
  9. 2010. Pisang Lindungi Wanita dari HIV. Makassar : Artikel Kesehatan Kedokteran, Keperawatan & Kebidanan. www.ArtikelKesehatanFKUNHAS.com. Senin, 27 Desember 2010

 

Askariasis

18 Feb

Skenario

Seorang anak laki-laki, 9 tahun diantar ibunya ke puskesmas karena dalam 3 minggu ini batuk-batuk terus disertai demam ringan, nafsu makan berkurang, buang air besar sering cair dan kadang sakit perut. Berat badannya berkurang. Pemeriksaan darah : eosinofil 15%. Pemetikasaan foto thorax ditemukan infiltrat.

Kata/Kalimat Kunci

  • Anak laki-laki, 9 tahun
  • Batuk-batuk
  • Demam ringan
  • Nafsu makan berkurang
  • Buang air besar cair dan Sakit perut
  • Berat badan berkurang
  • Eosinofil 15%
  • Infiltrat

Pertanyaan

  1. Jelaskan dan sebutkan klasifikasi helminth !
  2. Jelaskan dan sebutkan klasifikasi helminth yang termasuk “soil transmittedhelminth” dan “non-soil transmitted helminth” !
  3. Jelaskan patomekanisme dari skenario !
  4. Jelaskan langkah-langkah diagnostik yang harus dilakukan untuk skenario!
  5. Jelaskan dignosis banding dari skenario !
    1. Definisi dan Etiologi
    2. Daur hidup dan Patomekanisme
    3. Manifestasi Klinis
    4. Pemeriksaan penunjang
    5. Pengobatan
    6. Profilaksis dan Pemberantasan
    7. Epidemiologi dan Cara penularan

Hipotesis

Setelah brainstorming pada pertemuan pertama kelompok 1 (satu) menentukan hipotesis sementara bahwa dari gejala dan tanda yang ada pada skenario pasien menderita Askariasis.

Pembahasan

Berdasarkan jalur hidup cacing dibagi menjadi dua bagian, yaitu : Soil Transmitted Helminths (STH) dan Non-soil Transmitted Helminth (NSTH) . Ini dibedakan karena jika STH dapat hidup di tanah sedangkan NSTH tidak hidup di tanah.

Berdasarkan taksonomi helmint terbagi menjadi :

1. Nemalthelminthes (cacing gilik, nematoda)

Staduim dewasa yang termasuk dalam kelas ini adalah kelas Nematoda. Nematoda juga dibagi menjadi dua bagian kembali yaitu Nematoda usus dan nematoda jaringan. Untuk nematoda usus dibagi menjadi nematoda STH (soil transmitted helminth) dan non-STH.

Nematoda Usus Nematoda Jaringan
STH (soil transmitted helminth) 

Ascaris lumbricoides

Trichuris trichiura

Ancylostoma duodenale

Ancylostoma branziliense

Ancylostoma caninum

Necator americanus

Strongiloides stercoralis

Non-STH

Oxyuris vermicularis

Trichinella spiralis

Wuchereria bancrofti  

Brugia malayi

Brugia timori

Oncocerca volvulus

Loa loa

2. Platyhelminthes (cacing pipih)

Cacing dewasa yang termasuk Platyhelminthes yaitu kelas Trematoda (cacing daun) dan kelas Cestoda (cacing pita).

Trematoda Cestoda
Trematoda Hati 

Clonorchis sinensis

Opisthochis felineus

Opisthoirchis viverrini

Fasciola

Trematoda Usus

Fasciolopsis buski

Echinostomatidae

Heterophyidae

Trematoda Paru

Paragonimus westermani

Trematoda Darah

Schistosoma japonicum

Schistosoma mansoni

Schistosoma haematobium

Taenia saginata  

Taenia solium

Diphyllobothrium latum

Hymenolepis nana

Echinococcus granulosus

Echinooccus multilocularis

 

Dari kasus yang telah di analisis saat ini kelompok kami menyimpulkan kasus pada skenario tersebut adalah Askariasis, jadi kami menjelaskan gejala-gejala tersebut berdasarkan alur hidup dan patomekanisme Askariasis.

Daur Hidup Ascaris lumbricoides

Manusia merupakan satu-satunya hospes definitif Ascaris lumbricoides, jika tertelan telur yang infektif, maka didalam usus halus bagian atas telur akan pecah dan melepaskan larva infektif dan menembus dinding usus masuk kedalam vena porta hati yang kemudian bersama dengan aliran darah menuju jantung kanan dan selanjutnya melalui arteri pulmonalis ke paru-paru dengan masa migrasi berlangsung selama sekitar 15 hari. Dalam paru-paru larva tumbuh dan berganti kulit sebanyak 2 kali, kemudian keluar dari kapiler, masuk ke alveolus dan seterusnya larva masuk sampai ke bronkus, trakhea, laring dan kemudian ke faring, berpindah ke osepagus dan tertelan melalui saliva atau merayap melalui epiglotis masuk kedalam traktus digestivus. Terakhir larva sampai kedalam usus halus bagian atas, larva berganti kulit lagi menjadi cacing dewasa. Umur cacing dewasa kira-kira satu tahun, dan kemudian keluar secara spontan.

Siklus hidup cacing ascaris mempunyai masa yang cukup panjang, dua bulan sejak infeksi pertama terjadi, seekor cacing betina mulai mampu mengeluarkan 200.000–250.000 butir telur setiap harinya, waktu yang diperlukan adalah 3 – 4 minggu untuk tumbuh menjadi bentuk infektif.  Jumlah telur ascaris yang cukup besar dan dapat hidup selama beberapa tahun maka larvanya dapat tersebar dimana-mana, menyebar melalui tanah, air, ataupun melalui binatang. Maka bila makanan atau minuman yang mengandung telur ascaris infektif masuk kedalam tubuh maka siklus hidup cacing akan berlanjut sehingga larva itu berubah menjadi cacing. Jadi larva cacing ascaris hanya dapat menginfeksi tubuh melalui makanan yang tidak dimasak ataupun melalui kontak langsung dengan kulit.

 

Patomekanisme Gejala & Tanda pada Kasus

Batuk-batuk selama 3 minggu

Pada dasarnya mekanisme batuk dapat dibagi menjadi tiga fase, yaitu fase inspirasi, fase kompresi dan fase ekspirasi. Batuk biasanya bermula dari inhalasi sejumlah udara, kemudian glotis akan menutup dan tekanan di dalam paru akan meningkat yang akhirnya diikuti dengan pembukaan glotis secara tiba-tiba dan ekspirasi sejumlah udara dalam kecepatan tertentu.

Fase inspirasi dimulai dengan inspirasi singkat dan cepat dari sejumlah besar udara, pada saat ini glotis secara refleks sudah terbuka. Volume udara yang diinspirasi sangat bervariasi jumlahnya, berkisar antara 200 sampai 3500 ml di atas kapasitas residu fungsional. Setelah udara di inspirasi, maka mulailah fase kompresi dimana glotis akan tertutup selama 0,2 detik. Pada masa ini, tekanan di paru dan abdomen akan meningkat sampai 50/­100 mmHg. Tertutupnya glotis merupakan ciri khas batuk, yang membedakannya dengan manuver ekspirasi paksa lain karena akan menghasilkan tenaga yang berbeda. Tekanan yang didapatkan bila glotis tertutup adalah 10 sampai 100% lebih besar daripada cara ekspirasi paksa yang lain. Di pihak lain, batuk juga dapat terjadi tanpa penutupan glotis. Kemudian, secara aktif glotis akan terbuka dan berlangsunglah fase ekspirasi. Udara akan keluar dan menggetarkan jaringan saluran napas serta udara yang ada sehingga menimbulkan suara batuk yang kita kenal. Arus udara ekspirasi yang maksimal akan tercapai dalam waktu 30­50 detik setelah glotis terbuka, yang kemudian diikuti dengan arus yang menetap. Kecepatan udara yang dihasilkan dapat mencapai 16.000 sampai 24.000 cm per menit, dan pada fase ini dapat dijumpai pengurangan diameter trakea sampai 80%.

 

Refleks Batuk

Refleks batuk terdiri dari 5 komponen utama yaitu reseptor batuk, serabut saraf aferen, pusat batuk, susunan saraf  eferen dan efektor. Batuk bermula dari suatu rangsang pada reseptor batuk. Reseptor ini berupa serabut saraf non mielin halus yang terletak baik di dalam maupun di luar rongga toraks. Yang terletak di dalam rongga toraks antara lain terdapat di laring, trakea, bronkus dan di pleura. Jumlah reseptor akan semakin berkurang pada cabang-cabang bronkus yang kecil, dan sejumlah besar reseptor didapat di laring, trakea, karina dan daerah percabangan bronkus. Reseptor bahkan juga ditemui di saluran telinga, lambung, hilus, sinus paranasalis, perikardial dan diafragma.

Serabut aferen terpenting ada pada cabang nervus vagus, yang mengalirkan rangsang dari laring, trakea, bronkus, pleura, lambung dan juga rangsang dari telinga melalui cabang Arnold dari n. Vagus. Nervus trigeminus menyalurkan rangsang dari sinus paranasalis, nervus glosofaringeus menyalurkan rangsang dari faring dan nervus frenikus menyalurkan rangsang dari perikardium dan diafragma.

Serabut aferen membawa rangsang ini ke pusat batuk yang terletak di medula oblongata, di dekat pusat pernapasan dan pusat muntah. Kemudian dari sini oleh serabut-serabut eferen nervus vagus, frenikus, interkostal dan lumbar, trigeminus, fasialis, hipoglosus dan nervus lainnya menuju ke efektor. Efektor ini terdiri dari otot-otot laring, trakea, bronkus, diafragma, otot-otot interkostal dan lain-lain. Di daerah efektor inilah mekanisme batuk kemudian terjadi.

Jika dihubungkan dengan skenario, batuk yag terjadi dikarenakan  perkembang biakan larva yang melewati bronkus, trakea, laring, dan faring serta esofagus merangsang resptor batuk yang ada pada saluran napas tersebut merangsang N.Vagus untuk mengalirkan reseptor tersebut ke medulla oblongata dan akhirnya merangsang nucleus otak, khususnya pusat batuk.

 

Demam Ringan

Demam atau febris merupakan suatu keadaan dimana terjadi peningkatan suhu tubuh, dimana suhu tersebut melebihi dari suhu tubuh normal (>37,2oC).

Proses perubahan suhu yang terjadi saat tubuh dalam keadaan sakit lebih dikarenakan oleh zat toksin yang masuk kedalam tubuh. Umumnya, keadaan sakit terjadi karena adanya proses peradangan (inflamasi) di dalam tubuh. Proses peradangan itu sendiri sebenarnya merupakan mekanisme pertahanan dasar tubuh terhadap adanya serangan yang mengancam keadaan fisiologis tubuh. Proses peradangan diawali dengan masuknya zat toksin (mikroorganisme, yaitu cacing Ascaris lumbricoides) kedalam tubuh kita. Mikroorganisme (MO) yang masuk kedalam tubuh umumnya memiliki suatu zat toksin tertentu yang dikenal sebagai pirogen eksogen. Dengan masuknya MO tersebut, tubuh akan berusaha melawan dan mencegahnya dengan memerintahkan tentara pertahanan tubuh antara lain berupa leukosit, makrofag, dan limfosit untuk memakannya (fagositosit). Dengan adanya proses fagositosit ini, tentara-tentara tubuh itu akan mengeluarkan senjata, berupa zat kimia yang dikenal sebagai pirogen endogen (khususnya IL-1) yang berfungsi sebagai anti infeksi. Pirogen endogen yang keluar, selanjutnya akan merangsang sel-sel endotel hipotalamus untuk mengeluarkan suatu substansi yakni asam arakhidonat. Asam arakhidonat dapat keluar dengan adanya bantuan enzim fosfolipase A2. Asam arakhidonat yang dikeluarkan oleh hipotalamus akan pemacu pengeluaran prostaglandin (PGE2). Pengeluaran prostaglandin dibantu oleh enzim siklooksigenase (COX). Pengeluaran prostaglandin akan mempengaruhi kerja dari termostat hipotalamus. Sebagai kompensasinya, hipotalamus akan meningkatkan titik patokan suhu tubuh (di atas suhu normal). Adanya peningkatan titik patokan ini dikarenakan termostat tubuh (hipotalamus) merasa bahwa suhu tubuh sekarang dibawah batas normal. Akibatnya terjadilah respon dingin/menggigil. Adanya proses mengigil (pergerakan otot rangka) ini ditujukan untuk menghasilkan panas tubuh yang lebih banyak dan terjadilah demam.

 

BAB cair

Ketika larva cacing Ascaris lumbricoides masuk ke dalam tubuh manusis melalui makanan yang akhirnya masuk ke dalam usus, maka di dalam usus akan terjadi reaksi inflamasi agar tetap terjadi pertahanan tubuh pada tubuh hospes. Saat terjadi reaksi inflamai dalam usus maka terjadi peningkatan sekresi cairan dan elektrolit yang akhirnya akan menyebabkan isis rongga dalam usus meningkat dan ankhirnya BAB cair (diare).

 

Sakit Perut

Sakit perut dapat dihubungkan karena terjadinya penumpukan cacing dalam usus yang pada dasarnya daur hidup larva dalam usus akan mengembangbiakan cacing sebanyak 20 sampai 20.000, dan dapat juga terjadi karena sifat Ascaris lumbricoides yang dapat merusak usus dengan cara memakan protein-protein yang masuk melalui makanan dari hospes sehingga menyebabkan gerakan peristaltik pada usus berlebihan.

 

Berat Badan Berkurang

Berat badan berkurang terjadi karena hubungan antara anoreksia, BAB cair dan sakit perut.

 

Eosinofil 15%

Jika dilihat pada kadar normalnya yang sebesar 1-4% pada kasus di  skenario ini terjadi eosinofilia. Eosinofilia adalah tingginya rasio eosinofil di dalam plasma darah. Eosinofilia bukan merupakan suatu penyakit, tetapi merupakan respon terhadap suatu penyakit. Peningkatan jumlah eosinofil dalam darah dipicu sekresi interleukin-5 oleh sel T, mastosit dan makrofag, biasanya menunjukkan respon yang tepat terhadap sel-sel abnormal, parasit atau bahan-bahan penyebab reaksi alergi (alergen).

Pada awalnya eosinofil terjadi pada sumsum tulang. Tetapi setelah dibuat di dalam sumsum tulang, eosinofil akan memasuki aliran darah dan tinggal dalam darah hanya beberapa jam, kemudian masuk ke dalam jaringan di seluruh tubuh. Jika suatu bahan asing masuk ke dalam tubuh, akan terdeteksi oleh limfosit dan neutrofil, yang akan melepaskan bahan untuk menarik eosinofil ke daerah ini. Eosinofil kemudian melepaskan bahan racun yang dapat membunuh parasit dan menghancurkan sel-sel yang abnormal.

 

Infiltrat

Adanya infiltrat pada pada saat pemeriksaan paru-paru pasien karena ketika terjadi daur hidup cacing pada tubuh manusia, cacing tersebut melewati paru-paru dan membuat kerusakan pada paru-paru sehingga sel leukosit yang ada di paru-paru menggumpan dan membentuk konsolidasi.

 

Diagnosis Banding

Askariasis

Definisi & etiologi

Askariasis adalah suatu penyakit parasit yang disebabkan oleh cacing Ascaris lumbricoides

Manifestasis Klinis

  • Batuk
  • Demam
  • Eosinofilia
  • Infiltrat (menghilang dalam waktu 3 minggu)
  • Mual
  • Nafsu makan berkurang
  • Diare atau konstipasi
  • Malnutrisi
  • Malabsorpsi
  • Obstruksi usus (ileum)

Epidemiologi & Cara Penularan

Di Indonesia prevalensi askariasis tinggi, terutama pada anak. Frekuensinya 60-90%. Kurangnya pemakaian jamban keluarga menimbulkan pencemaran tanah dengan tinja di sekitar halaman rumah, di bawah pohon, di tempat memncuci dan di tempat pembuanagn sampah. Tanah liat, kelembaban tinggi dan suhu 25-30oC merupakan kondisi yang sangat baik untuk berkembangnya telur Ascaris lumbricoides menjadi bentuk infektif.

 

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan tinja secara langsung untuk mengetahui cacing tersebut.

Pengobatan

Untuk perorangan dapat digunakan bermacam-macam obat misalnya piperasin, pirantel pamoat 10 mg/kg berat badan, dosis tunggal mebendazol 500 mg atau albendazol 400 mg.

Untuk pengobatan masal perlu beberapa syarat, yaitu :

  • Obat mudah diterima masyarakat
  • Aturan pemakaian sederhana
  • Mempunyai efek samping yang minim
  • Bersifat polivalen, sehingga berkhasiat terhadap beberapa jenis cacing
  • Harganya murah

Obat yang diberikan untuk pengobatan massal adalah albendazol 400 mg 2 kali setahun.

Ancylostomiasis

Definisi dan Etiologi

Ancylostomiasis adalah penyakit parasit yang disebabkan oleh cacing Ancylostoma duodenale


Epidemiologi dan Cara Penularan

Insidensi tinggi ditemukan pada penduduk di Indonesia, terutama di daerah pedesaan, khususnya di perkebunan. Seringkali pekerja perkebunan yang langsung berhubungan dengan tanah mendapat infeksi lebih dari 70%

Kebiasaan defekasi di tanah dan pemakaian tinja sebagai pupuk kebun (di berbagai daerah tertentu) penting dalam penyebaran infeksi. Tanah yang baik untuk pertumbuhan larva ialah tanah gembur (pasir, humus) dengan suhu optimum 23o-25o C.

 

Daur Hidup & Patomekanisme

Telur dikeluarkan dengan tinja dan setelah menetas dalam waktu 1-1,5 hari, kelurlah larva rabditoform. Dalam waktu ± 3 hari larva rabditiform tumbuh menjadi larva filariform, yang dapat menembus kulit dan dapat hidup selama 7-8 minggu di tanah.

Telur cacing tambang yang besarnya ± 60×40 mikron, berbentuk bujru dan mempunyai dinding tipis. Di dalamnya terdapat beberapa sel. Larva rabditiform panjangnya ± 250 mikron, sedangkan larva filariform panjangnya ± 600 mikron

 

Daur hidup :

Telur –> larva rabditiform –> larva filariform –> menembus kulit –> kapiler darah –> jantung kanan –> paru –> bronkus –> trakea –> laring –> usus halus

Manifestasi Klinik

1. Stadium larva :

Ground itch dan penyakit wakana dengan gejala mual, muntah, iritasi faring, batuk, sakit leher, dan serak

2. Stadium dewasa

  • Anemia hipokrom mikrositer
  • Eosinofilia
  • Daya tahan tubuh berkurang
  • Prestasi kerja menurun

Pemeriksaan Penunjang

  • Pemeriksaan tinja dengan pemeriksaan mikroskop
  • Biakan Harada-Mori

Pengobatan

Dengan pemberian pirantel pamoat 10mg/kg berat badan

Profilasksis dan Pemberantasan Penyakit Cacing

1. Memutuskan daur hidup dengan cara :

  • Defekasi di jamban
  • Menjaga kebersihan, cukup air bersih di jamban, untuk mandi dan cuci tangan teratur
  • Memberi pengobatan masal dengan obat entelmintik yang efektif, terutama kepada golongan rawan

2. Penyuluhan kepada masyarakat mengenai sanitasi lingkungan yang baik dan cara menghindari infeksi cacing

3. Menggunakan alas kaki bila bermain di tempat yang bertanah gembur

4. Dilakukan penyuluhan tentang parasit ini

5. Membiasakan tidak menggunakan tinja sebagai pupuk

TB Paru

Definisi dan Etiologi

Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit yang dapat diobati, yang disebabkan oleh bakteri (kuman) Mycobacterium tuberculosis. TBC dapat merusakkan paru-paru atau bagian tubuh lain dan mengakibatkan penyakit parah.

 

Patomekanisme

1. Tuberkulosis Primer

Penularan tuberkulosis paru terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersihkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara sekitar kita. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara selama 1-2 jam tergantung, pada ada tidaknya sinar ultraviolet, vemtilasi yang buruk dan kelembaban. Dalm suasana lembab dan gelap kuman dapat tahan berhari-hari sampai berbulan-bulan. Bila partikel infeksi ini terisap oleh orang sehat, ia akan menempel menempel pada saluran napas atau jaringan paru. Partikel dapat masuk ke alveolar bila ukuran partikel <5 μ. Kuman akan dihadapi pertama kali oleh neutrofil, kemudian baru oleh makrofag. Kebanyakan partikel ini akan mati atau dibersihkan oleh makrofag keluar dari percabangan trakeobronkial bersama gerakan silia dengan sekretnya.

Bila kuman menetap di jaringan paru, berkembang biak dalam sito-plasma makrofag. Di sini ia dapat terbawa masuk ke organ tubuh lainnya. Kuman yang bersarang di jaringan paru akan berbentuk sarang tuberkulosis pneumonia kecil dan disebut sarang primer atau efek primer atau sarang (fokus) Ghon. Sarang primer ini dapat terjadi di setiap bagian jaringan paru. Bila menjala sampai ke pleura, maka terjadilah efusi pleura. Kuman dapat juga masuk saluran gastrointestinal, jaringan limfe, orofaring, dan kulit, terjadi limfadenopati regional kemudian bakteri masuk ke dalam vena dan menjalar ke seluruh organ seperti paru, otak, ginjal, tulang. Bila masuk ke artei pulmonalis maka akan terjadi penjalaran ke seluruh bagian paru menjadi TB milier.

Dari sarang primer akan timbul peradangan saluran getah bening menuju hilus (limfangitis lokal), dan juga diikuti pembesaran kelenjar getah bening hilus (limfadenitis regional). Sarang primer limfangitis lokal + limfadenitis regional = kompleks primer (Ranke). Semua proses ini memakan waktu 3-8 minggu. Kompleks primer ini selanjutnya dapat menjadi :

  • Sembuh sama sekali tanpa meniggalkan cacat. Ini yang banyak terjadi.
  • Sembuh dengan meniggalkan sedikit bekas berupa garis-garis fibrotik, kalsifikasi di hilus, keadaan ini terdapat pada lesi pnemonia yang luasnya >5 mm dan ± 10% diantaranya dapat terjadi reaktivasi lagi karena kuman yang dormant.
  • Berkomplikasi dan menyebar secara : a). Per kontinuitatum, yakni menyebar ke sekitarnya, b). Secara bronkogen pada paru yang bersangkutan maupun paru di sebelahnya. Kuman dapat juga tertelan bersama sputum dan ludah sehingga menyebar ke usus, c). Secara limfogen, ke organ tubuh lain-lainnya, d). Secara hematogen, ke organ tubuh lainnya.

2. Tuberkulosis Pasca Primer (Tuberkulosis Sekunder)

Kuman yang dormant pada tuberkulosis primer akan muncul bertahun-tahun kemudian sebagai infeksi endogen menjadi tuberkulosis dewasa (tuberkulosis post primer = TB pasca primer = TB sekunder) mayoritas terinfeksi mencapai 90%. Tuberkulosis sekunder terjadi karena imunitas menurun seperti malnutrisi, alkohol. Penyakit maligna, diabetes, AIDS, gagal ginjal. Tuberkulosis pasca-primer ini dimulai dengan sarang dini yang berlokasi di regio atas paru (bagian apikal-posterior lobus superior atau inferior). Invasinya adalah ke daerah parenkim paru-paru dan tidak ke nodus hiler paru.

Sarang dini ini muka-mula juga berbentuk sarang pneumonia kecil. Dalam 3-10 minggu sarang ini menjadi tuberkel yakni suatu granuloma yang terdiri dari sel-sel Histosit dan sel Datia-Langhans (sel besar dengan benyak inti) yang dikelilingi oleh sel-sel limfosit dan berbagai jaringan ikat.

TB pasca primer juga dapat berasal dari infeksi eksogen dari usia muda menjadi TB usia tua (elderly tuberculosis). Tergantung dari jumlah kuman, virulensi-nya dan imunitas pasien, sarang dini ini dapat menjadi :

  • Direabsorbsi kembali dan sembuh tanpa meninggalkan cacat.
  • Sarang mula-mula meluas, tetapi segera menyembuh dengan serbukan jaringan fibrosis. Ada yang membungkus diri menjadi keras, menimbulkan perkapuran. Sarang dini yang meluas sebagai granuloma berkembang menghancurkan jaringan ikat sekitarnya dan bagian tengahnya mengalami nekrosis, menjadi lembek membentuk jaringan keju. Bila jaringan keju dibatukkan keluar akan terjadilah kavitas. Kavitas ini mula-mula berbanding tipis, lama-lama dindingnya menebal karena infiltrasi jaringan fibroblas dalam jumlah besar, sehingga menjdi kavitas sklerotik (kronik). Terjadinya perkijuan dan kavitas adalah karena hidrolisis protein lipid dan asam nukleat oleh enzim yang diproduksi oleh makrofag, dan proses yang berlebihan sitokin dengan TNF-nya. Bentuk perkijuan lain yang jarang adalah cryptic disseminate TB yang terjadi pada imunodefisiensi dan usia lanjut.

Individu yang pernah mengalami infeksi primer biasanya mempunyai mekanisme daya kekebalan tubuh terhadap basil TB, hal ini dapat terlihat pada tes tuberkulin yang menimbulkan hasil reaksi positif. Jika orang sehat yang pernah mengalami infeksi primer mengalami penurunan daya tahan tubuh, ada kemungkinan terjadi reaktivasi basil TB yang sebelumnya berada dalam keadaan dorman. Reaktivasi biasanya terjadi beberapa tahun setelah infeksi. Penurunan daya tahan tubuh dapat disebabkan oleh bertambahnya umum (proses menua), alkoholisme, defisisnsi nutrisi, sakit berat, diabetes, melitus dan HIV/AIDS

 

Cara Penularan

Tuberculosis paru adalah penyakit radang parenkim paru karena infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis paru termasuk suatu pneumonia, yaitu pneumonia yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis paru mencakup 80% dari keseluruhan kejadian penyakit tuberkulosis, sedangkan 20% selebihnya merupakan tuberkulosis ekstrapulmonar.

Tuberkulosis paru merupakan penyakit menular yang cukup pesat tingkat penularannya. Penularan penyakit biasanya terjadi melalui udara dengan inhalasi droplet nucleus yang mengandung basil tuberkulosis berukuran 1-5 μm yang dapat melewati atau menembus system mukosilier saluran nafas, sehingga dapat mencapai dan bersarang di bronkiolus dan alveolus. Kuman TB paru menyebar dari seorang penderita TB paru positif yang terbuka kepada orang lain. penyakit yang berkembang biasanya menahun, usia yang sering terserang TB paru adalah 15-40 tahun, sehingga dampak kerugian ekonomi bagi kesehatan masyarakat cukup besar berupa menurunnya produktivitas dan mahalnya pengobatan.

 

Epidemiologi

Indonesia adalah negeri dengan prevalensi TB ke-3 tertinggi di dunia setelah Cina dan India. Pada tahun 1998 diperkirakan TB di China, India, dan Indonesia berturut turut 1.828.000, 1.414.000, dan 591.000 kasus. Perkiraan kejadian BTA di sputum yang positif di Indonesia adalah 266.000 tahun 1998. Berdasarkan survei kesehatan rumah tangga 1985 dan survei kesehatan nasional 2001, TB menempati ranking nomor 3 sebagai penyebab kematian tertinggi di Indonesia. prevalensi nasional terakhir TB paru diperkirakan 0,24%. Sampai sekarang angka kejadian TB di Indonesia relatif terlepas dari angka pandemi infeksi HIV karena masih relatif rendahnya infeksi HIV, tapi hal ini mungkin akan berubah dimasa datang melihat semakin meningkatnya laporan infeksi HIV dari tahun ketahun. Suatu survei mengenai prevalensi TB yang dilaksanakan di 15 provinsi Indonesia tahun 1972-1982 diperlihatkan pada tabel di bawah ini :

Tabel 1. Prevalensi TB diantara Tahun 1979-1982 di 15 Provinsi di Indonesia

Tahun survei

Provinsi

Jumlah Penduduk tahun 1982 (juta)

Pevalensi Positif Hapusan BTA Sputum (%)

1979

1980

1980

1980

1980

1980

1980

1980

1980

1980

1980

1981

1981

1981

1982

Jawa Tengah

Bali

DKI Jaya

DI Yogyakarta

Jawa Timur

Sumatera Utara

Sulawesi Selatan

Sumatera Selatan

Jawa Barat

Kalimantan Barat

Sumatera Barat

Aceh

Kalimantan Barat

Sulawesi Utara

Nusa Tenggara Timur

26,2

2,5

7,0

2,8

30,0

8,8

6,2

4,9

28,9

2,6

3,5

2,7

1,3

2,2

2,8

0,13

0,08

0,16

0,31

0,34

0,53

0,45

0,42

0,31

0,14

0,38

0,15

0,52

0,30

0,74

 

Manifestasi Klinis

  • Demam.
  • Batuk/Batuk Darah.
  • Sesak Napas.
  • Nyeri Dada.
  • Malaise

Pemeriksaan Penunjang

  • Tuberculin skin testing
  • Pemeriksaan radiologis
  • Pemeriksaan darah
  • Pemeriksaan sputum

Penatalaksanaan

Penderita TB harus diobati, dan pengobatannya harus adekuat. Pengobatan TB memakan waktu minimal 6 bulan. Dalam memberantas penyakit tuberkulosis, negara mempunyai pedoman dalam pengobatan TB yang disebut program pemberantasan TB (National Tuberculosis Programme). Prinsip pengobatan TB adalah menggunakan multidrugs regimen, hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya resistensi basi TB terhadap obat. Obat anti tuberkulosis dibagi dalam dua golongan besar, yaitu oabt lini pertama dan obat lini kedua.

Beberapa obat yang termasuk obat anti TB lini pertama adalah : isoniazid (H), etambutol (E), streptomisin (S), pirazinamid (Z), rifampisin (R), dan tiosetazon (T), sedangkan yang termasuk obat lini kedua adalah : etionamide, sikloserin, PAS, amikasin, kanamisisn, kapreomisisn, siprofloksasin, ofloksasin, klofazimin, dan rifambutin.

Terdapat dua alternatif terapi pada TB paru, yaitu :

1. Terapi jangka panjang (terapi tanpa rifampisin)

Terapi ini menggunakan isonizid, etambutol, streptomisin, pirazinamid, dalam jangka waktu 24 bulan atau dua bulan.

 

2. Terapi jangka pendek

Terapi ini menggunakan regimen rifampisin, isoniazid, dan pirazinamid dalam jangka waktu 6 minimal 6 bulan, dan    terdapat kemungkinan bahwa terapi dilanjutkan sampai 9 bulan. Terapi jangka pendek memerlukan biaya mahal karena harga obat rifampisisn yang tinggi ssehingga tidak setiap orang mampu membiayai pengobatannya. Pada kondisi seperti ini, diberikan terapi jangka panjang yngtidak terlalu berat pembiayaannya dibandingkan terapi jangka pendek.

Dosis yang dianjurkan oleh International Union Against Tuberculosis adalah dosis pemberian setiap hari berbeda dengan dosis pemberian intermittan, perlu diingat bahwa dosis pemberian setiap hari berbeda dengan dosis intermitten.

Dosis obat lini pertama :

Nama Obat

 

Dosis yang direkomendasikan

Dosis pemberian setiap hari

Dosis pemberian intermitten

mg/kgBB

Maksimum (mg)

mg/kgBB

Maksimum (mg)

Isoniazid (H) 

Rifampisin (R)

Pirazinamid (Z)

Streptomisin (S)

Etambutol (E)

Tiosetazon (T)

5 mg 

10 mg

35 mg

15-20 mg

15-25 mg

4 mg (anak)

300 mg 

600 mg

2500 mg

750-1000 mg

1800 mg

150 mg

15 mg 

15 mg

50 mg

15-20 mg

750 mg (seminggu 2 kali) 

600 mg (seminggu 2 kali)

750-1000 mg

Dosis obat lini kedua untuk mengobati pasien HIV yang terinfeksi oleh multidrug-resistant tuberculosis :

Nama Obat

Dosis yang direkomendasikan

Etionamide 

Sikloserin

PAS

Amikasin

Kanamisin

Kapreomisin

Siprofloksasin

Ofloksasin

Klofazimin

Rifabutin

250 mg 2-4 kali sehari 

250-1000 mg/hari dosis terbagi

12-16 gram/hari dosis terbagi

15 mg/kgBB/hari, 5 hari/minggu IV atau IM

15 mg/kgBB/hari, g hari/minggu, IM

15 mg/kgBB/hari, 5 hari/minggu, IM

500-750 mg, 2 kali sehari

400 mg, 2 kali sehari

200-300 mg/hari

150-300 mg/hari

 

 


 

 

 

 

Panduan obat anti tuberkulosis menurut Program Pemberantasan TB paru (P2TB-paru) yang digunakan di Indonesia sesuai dengan rekomendasi WHO ada tiga :

Kategori 1 2HRZE/2H3R3
Kategori 2 2HRZES/HRZE/5H3R3E3
Kategori 3 2HRZ/4H3R3

 

 

Profilaksis

Promotif

  1. Penyuluhan kepada masyarakat apa itu TBC
  2. Pemberitahuan baik melalui spanduk/iklan tentang bahaya TBC, cara penularan, cara pencegahan, faktor resiko
  3. Mensosialisasiklan BCG di masyarakat.

Preventif

  1. Vaksinasi BCG
  2. Menggunakan isoniazid (INH)
  3. Membersihkan lingkungan dari tempat yang kotor dan lembab.
  4. Bila ada gejala-gejala TBC segera ke Puskesmas/RS, agar dapat diketahui secara dini

Kuratif

Pengobatan tuberkulosis terutama pada pemberian obat antimikroba dalam jangka waktu yang lama.


Kita Sama dengan Barang ? What’s the Mean ?

8 Mar

Setelah saya baca beberapa buku karangan pak Agus Mustofa, saya jadi lebih banyak tahu seperti apa manusia itu. Inilah salah satu dari isi buku karangan beliau dari judul buku “Melawan Kematian

 

Aku, Sel yang Mengatur Kehidupan dan Kematian

Maha Besar Allah dengan segala Keagungan-Nya, dengan segala apa yang diciptakan-Nya. Allah menciptakan manusia dengan segala kesempurnaan yang tak terhitung harganya dan dengan segala keseimbangannya, ini telah dijelaskan oleh-Nya dalam kitab suci al-Qur’an yang artinya.

Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (sistem tubuh) mu seimbang, dan bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu” (QS. al-Infithaar : 7-8)

Kita, manusia di ciptakan begitu rumit. Kerumitan penyempurnaan kita bermula dari pertemuan antara dua sel, yaitu sel telur dan sperma di dalam rahim. Dari satu sel, menjadi dua sel, menjadi empat sel, menjadi 8 sel, dan begitu seterusnya hingga menjadi bertriliun sel yang ada dalam tubuh kita. Dari sel, kita dijadikan oleh-Nya menjadi jaringan dan akhirnya menjadi berbagai macam organ yang memiliki fungsi yang sangat sempurna hingga menyeimbangkan kita sampai saat ini. Subhanallah . . .

Sel dapat hidup dengan sendirinya dalam tubuh manusia. Ia menyerap berbagai macam zat yang ada di lingkungan dalam tubuh manusia. Di dalam sel ada kode-kode genetika yang berfungsi menegeluarkan perintah. Pusatnya ada di dalam inti sel. Ada sekitar 3-5 miliar kode genetika yang memberikan perintah agar sel tetap mempertahankan kehidupannya. Untuk itu sel dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas. Mulai dari membran sel yang bertugas menjadi benteng dan pintu keluar masuknya zat-zat kebutuhan hidupnya. Disini ada mekanisme screening yang berfungsi mengatur keluar masuknya zat-zat yang berbahaya bagi tubuh. Pengaturan membran sel itu di perintah oleh inti sel. Lalu zat-zat tersebut masuk ke dalam, lantas diolah menjadi protein-protein yang dibutuhkan. Pabriknya ada di dalam ribosom. Pasokan listriknya ada di mitokondria. Tatacara pembuatannya dikeluarkan oleh inti sel, sebagai pusat komando. Dan hasil-hasilnya, dibawa oleh bagian transportasi endoplasmic reticulum untuk didistribusikan sesuai perintah dari inti sel yang akhirnya akan bereplikasi. Di dalam inti sel inilah terdapat gen-gen yang dapat memerintahkan apakah masih dapat hidup atau tidak. Dari gen inilah ternyata adanya pemutaran kehidupan dan kematian bagi kita sebagai manusia.

Di dalam inti sel Allah telah menempatkan jatah waktu hidup kita di dalam gen yang sangat kecil. Dari untaian gen yang disebut telomer, manusia dapat mengetahui pendek dan panjangnya kehidupan. Subhanallah . . . begitu cermatnya Allah menciptakan kita. Pada orang-orang yang berusia tua, ternyata telomer mereka lebih pendek dibandingkan yang berusia muda. Hal ini terjadi dikarenakan adanya mekanisme telomerase alias replikasi yang unik di dalam sel-sel kita. Setiap kali sel terjadi pengkopian kode-kode genetika untuk mereplikasi sel itu selalu saja ada yang tertinggal. Ibarat halnya kita mengkopi sebuah buku yang tidak kita kopi dari awal sampai akhir, pasti ketika kita mengkopi ada saja halaman yang kita tinggal. Begitulah halnya proses telomerase dalam tubuh kita. Inilah yang membedakan pula antara manusia yang tua dan muda. Proses telomerase juga dapat menurunkan gen tersebut kepada keluarga yang berarti bahwa ketika telomer sang ayah atau ibu panjang maka berarti telomer yng dimiliki sang anak panjang yang mengartikan pula bahwa kelurga tersebut insyaallah berumur panjang. Inilah keajaiban yang ternyata kita tidak mengetahuinya secara terperinci bagaimana kita di cipatakan seutuhnya. Subhanallah . . .

 

Kita dan Barang Ternyata Sama

Ya, kita sama halnya dengan barang. Kenapa begitu ? karena ketika kita berada dalam rahim ibu, Allah telah menyiapkan jatah hidup kita seberapa lama kita akan hidup. Life Time atau jatah hidup yang kita miliki selama ini dapat berubah tergantung dari pola hidup kita. Selama kita menjaga Life Time tersebut maka life time kita akan semakin panjang. Ya kaya barang aja, yang sudah ditentukan oleh pabrik waktu kadarluarsanya atau garansinya. Kalau kita pakai barang itu dengan baik, ya . . . barang tersebut akan baik dan tidak akan kita bawa ke tukang service. Sama kaya kita kan ? kalau kita jaga pola hidup kita, ya kita tidak akan bolak-balik ke dokter untuk berobat.

Tapi pada kenyataanya, selama ini kita telah salah kaprah dalam mengerti semua itu. Selama ini kita berpikir bahwa jika kita meninggal pada umur, misalnya 20 tahun itulah kehendak Allah. Jika kita meninggal karena kita bunuh diri contohnya, kita berpikir bahwa itu adalah aturan Allah yang sudah di atur di lauhhilmahfuz. Semua yang kita pikirkan, salah. Jatah hidup yang Allah tentukan selama kita masih berada di kandungan Mamah ternyata tergantung dari pola hidup kita sendiri. Jika kita amburadul dalam hidup, seperti makan sembarangan yang jelas-jelas tidak baik bagi kesehatan itulah yang menentukan kahidupan kita, misalnya kita sudah ditentukan life time-nya 100 tahun tapi karena pola hidup kita yang amburadul ya bisa jadi kita meninggal pada umur 50 tahun. Contohnya lagi, Kalau kita meninggal karena bunuh diri, bukan berarti Allah telah benar-benar mengatur semuanya. Tapi memang Allah lah yang mengabulkan apa yang kita inginkan atau kita ucapkan. Kita berpikir ingin bunuh diri ya Allah pasti akan kabulkan . . .

 

Saatnya kita Melawan Kematian

Ternyata Kita Bisa Melawan Kematian

Don’t negative thinking dulu !!

Maksud dari melawan kematian disini ya gampang-gampang aja sich, kita cuma cukup bersyukur pada Allah yang telah menciptakan kita begitu sempurna. Bersyukur bukan berarti habis solat kita mengucapkan Alhamdulillah dan mengangkat tangan, tapi bersyukur disini ya kita jaga apa yang sudah Allah ciptakan kepada kita. Gampang kan ?! ngomong sich gampang, but kalau melakukannya emank agak sulit. Maka dari itu, tidak hanya dengan usaha aja tapi juga dengan do’a supaya kita minta bantuan kepada-Nya.

 

Ternyata terbukti Pribahasa “lebih baik mencegah daripada mengobati

PRAKTIKUM ANATOMI DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

18 Feb

Praktikum anatomi adalah proses belajar mengajar yang wajib dilaksanakan bagi seluruh mahasiswa-mahasiswi Fakultas Kedokteran seluruh dunia. Karena dari proses belajar mengajar inilah seseorang dapat dikatakan dokter karena mereka mengetahui dimana letak organ yang menimbulkan penyakit dari pasien mereka. Nabi menjelaskan dalam Hadistnya bahwa “Mu’min dan Mu’minat wajib menuntut ilmu dari dalam kandungan hingga dalam liang lahat”, dari sinilah kesimpulan didapatkan bahwa selama ilmu tersebut dapat bermanfaat dan menjadikan seseorang selalu mengingat Allah serta dapat selalu bersyukur, orang tersebut berhak untuk menuntut ilmu apapun. Tetapi kini timbul pertanyaan bagi kalangan mahasiswa kedokteran, apakah mempelajari struktur tubuh manusia dengan cara pembedahan diperbolehkan dalam pandangan Islam ?

Pertanyaan tersebut terjawab dalam regulasi seputar donor mayat untuk keperluan pendidikan selama ini diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 18 Tahun 1981. Di sana diatur ketentuan persetujuan keluarga jenazah, lokasi baku operasi bedah, status mayat tak dikenal, dan sebagainya. Meski sudah diatur negara, tetapi masih ada pasal yang menyerahkan urusan pada ketentuan agama. Pada ketentuan agama, al-Qur’an dan Hadist tidak menggambarkan bahwa diperbolehkan atau tidaknya menggunakan mayat untuk mempelajarinya. Dalam hal ini Islam sebagai agama yang telah disempurnakan oleh Allah telah menetapkan beberapa kaedah untuk menjawab permasalahan tersebut. Diantara kaedah tersebut hukum Islam adalah :

“Apabila berbenturan antara dua kemaslahatan maka dilakukan yang paling banyak maslahatnya juga apabila berbenturan antara dua mafsadah maka di lakukan yang paling ringan mafsadahnya” (Al Qowaid Al Fiqhiyah Syaikh As Sa’di hal : 45-48)

Dari kaedah Islam inilah dapat disimpulkan, bahwa melaksanakan praktikum anatomi untuk mahasiswa-mahasiswi kedokteran dibolehkan selama tidak menimbulkan banyak mudhorot pada saat melaksanakannya.

PINTAR DENGAN MIMPI

18 Feb

Apa sih TIDUR ?

Tidur merupakan keadaan tidak sadar yang relatif lebih responsif terhadap rangsangan internal. Perbedaan tidur dengan keadaan tidak sadar lainnya adalah pada keadaan tidur siklusnya dapat diprediksi dan kurang respons terhadap rangsangan eksternal. Otak berangsur-angsur menjadi kurang responsif terhadap rangsang visual, auditori dan rangsangan lingkungan lainnya. Tidur dianggap sebagai keadaan pasif yang dimulai dari input sensoric walaupun mekanisme inisiasi aktif juga mempengaruhi keadaan tidur. Faktor homeostatik (faktor S) maupun faktor sirkadian (faktor C) juga berinteraksi untuk menentukan waktu dan kualitas tidur.

Tidur memiliki dua tipe. Pertama, tidur gelombang lambat yaitu tidur nyenyak yang terjadi pada jam-jam pertama sesudah terjaga sebelumnya. Tidur tipe ini, aktivitas yang terjadi pada otak sangat kuat dan frekuensinya sangat rendah. Sedangkan yang kedua, tidur REM (Rapid Eye Movement) yaitu tidur yang mengaktifkan pergerakan mata dengan cepat meskipun orang tetap tertidur, dan tidur ini terjadi pada episode-episode tertentu serta hanya meliputi 25% dari seluruh masa tidur.

Mimpi. Pada dasarnya mimpi terjadi pada kedua tipe tidur tersebut, tetapi mimpi yang terjadi memiliki perbedaan yang signifikan. Perbedaan antara mimpi-mimpi yang timbul sewaktu tidur gelombang lambat dan mimpi pada tidur REM adalah bahwa mimpi yang timbul pada tahap tidur REM lebih sering melibatkan aktifitas otot dan menghasilkan mimpi yang sangat aktif. Sedangkan mimpi yang terjadi pada tipe tidur gelombang lambat, biasanya tidak dapat diingat dan juga menghasilkan mimpi buruk. Maka dari itu, karena mimpi pada tidur tipe gelombang lambat tidak dapat diingat, sering dikatakan tipe gelombang lambat disebut “TIDUR TANPA MIMPI”.

Tidur memiliki fungsi yang berbeda. Fungsi tidur adalah restorative (memperbaiki) kembali organ – organ tubuh. Kegiatan memperbaiki kembali tersebut berbeda saat Rapid Eye Movement (REM) dan Nonrapid Eye Movement (NREM) atau tipe tidur gelombang lambat. Nonrapid Eye Movement akan mempengaruhi proses anabolik dan sintesis makromolekul ribonukleic acid (RNA). Rapid Eye Movement akan mempengaruhi pembentukan hubungan baru pada korteks dan sistem neuroendokrin yang menuju otak. Selain fungsi di atas, tidur dapat juga digunakan sebagai tanda terdapatnya kelainan pada tubuh yaitu terdapatnya gangguan tidur yang menjadi peringatan dini keadaan patologis yang terjadi di tubuh.

 

Hubungan TIDUR vs Kecerdasan Otak

Dari semua penjelasan diatas terjadi hubungan yang dapat disimpulkan antara Mimpi dan Proses Kecerdasan Otak. Mimpi yang terjadi pada tipe tidur REM lebih memiliki hubungan erat dengan kecerdasan otak. Karena tidak hanya mengaktifkan seluruh otot tubuh, tetapi juga pada saat tidur REM aktifitas yang terjadi pada otak sangat aktif, dan metabolisme di seluruh otak meningkat sebanyak 20%. Namun, aktifitas otak tidak disalurkan ke arah yang sesuai agar orang itu siaga penuh terhadap keadaan sekelilingnya sehingga, menyebabkan orang tersebut tetap tertidur. Serta, kesimpulan juga didapat dari fungsi tidur REM yaitu terjadinya pemulihan pada korteks yang memang fungsi utamanya adalah mengatur pikiran, memori, dan bahasa.

 

Fakta dan Realita

Mimpi yang dapat mencerdaskan otak sudah dibuktikan dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh psikiatris Sara Mednick. Mednick mengungkapkan, “bahwa tidur dan bermimpi yang melibatkan REM (Rapid Eye Movement) dapat membuat seseorang lebih pintar, meningkatkan ketajaman memory dan menambah kreatifitas.” Mednick menguji sekelompok responden dengan tes analogi kata. Misalnya untuk jawaban keripik : asin, sementara permen : . . ., (manis). Saat jeda sambil menunggu sesi berikut, sambil diawasi, para responden dipersilahkan untuk tidur. Sebagian menunjukkan tidur dengan REM, tanpa REM dan sebagian sama sekali tidak tidur.

Di sesi kedua, peserta yang tertidur dengan REM menunjukan perbaikan perolehan nilai sebesar 40 persen. Sisanya, kata Mednick, termasuk yang tidur tapi tanpa REM, tidak menunjukan peningkatan berarti. “Dari percobaan ini kita mengetahui bahwa tidur dengan REM membantu meningkatkan kemampuan partisipan dalam melihat koneksi antar hal-hal yang nampaknya tidak berhubungan,” tutur Mednick.

Sementara Mednick juga melakukan tes kedua dan ketiga yang berfungsi menguji ingatan para partisipan. Hasil dari sesi ini menunjukkan bahwa tidur dengan REM berperan dalam membantu orang-orang mengikat memori (berupa rangkaian kata) dari tes sebelumnya dan menggunakannya dalam konteks yang berbeda-beda.

Di penelitian terpisah, ilmuwan Universitas Harvard menyimpulkan bahwa tidur nyenyak membantu seseorang berimajinasi dan merencanakan masa depan dengan lebih baik. “Saat membayangkan kejadian di masa mendatang, kita mengkombinasikan berbagai aspek pengalaman yang sudah terjadi,” tutur Daniel Schacter, seorang psikolog dari universitas tersebut. Menurutnya, area di otak yang menangani memori, seperti hippocampus, meningkatkan aktivitas saat seseorang ditanya tentang bayangan masa depannya (interactive brain map).

 

References :

  1. Arif Riadi Arifin, Ratnawati, dan Erlina Burhan. Fisiologi Tidur dan Pernapasan. Jakarta : Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI – SMF Paru RSUP Persahabatan (File PDF)
  2. Arthur C. Guyton, MD, dan John E. Hall, PhD. Buku Ajar FISIOLOGI KEDOKTERAN, edisi 11. Jakarta : EGC
  3. Unduh dari : www.kesehatan-liputan6sctv.com (20 Agustus 2010, 17:19)

Buah Kurma dalam Pandangan Medis

18 Feb

Kurma yang mempunyai nama latin phoenix dactilifera sudah dikenal sejak zaman paleolitik. Kurma merupakan sejenis tanaman palma yang banyak ditanam di daerah jazirah Arab dan sebagian orang menganggap kurma hanya hidup di padang pasir. Namun di daerah lain yang memiliki tinggal kekeringan cukup tinggi, kurma dapat pula hidup.

Menurut Prof Dr Ir Ali Khomsan, MS, kurma memiliki kandungan nutrisi yang berguna bagi tubuh. “Setidaknya gula (glukosa) menjadi komponen utama dengan komposisi yang mencapai 50 persen dari seluruh kandungan buahnya,” katanya. Guru besar IPB ini juga mengatakan, kandungannya lebih besar dibandingkan buah-buahan lainnya yang hanya mencapai 20-30 persen saja.

Pada kurma yang masih lembek (matang di pohon dan belum dijemur) kandungan gulanya sekitar 60%. Sedangkan kurma yang telah dikeringkan kandungannya cukup tinggi, sekitar 70%. Kandungan gula dalam kurma memiliki daya serap yang buruk, sekitar 45-50 menit sehingga waktu untuk pengolahan menjadi nutrisi yang disalurkan ke dalam darah menjadi lumayan lama.

Buah padang pasir ini juga mengandung berbagai vitamin yang diperlukan oleh tubuh. Vitamin A, thiamin, riboflavin, zat besi, vitamin B berada dalam buah kurma. Riboflavin dan niasin misalnya, akan membantu melepaskan energi dari makanan, sementara thiamin membantu melepaskan energi dari karbohidrat. Vitamin A dan niasin memainkan peranan dalam membentuk dan memelihara kulit yang sehat. Thiamin berperan penting bagi sel-sel saraf, sementara niasin menjaga fungsi normal saraf.

Mineral juga sangat banyak ditemukan dalam kurma. Magnesium dan kalium setidaknya berada dalam jumlah yang cukup bisa diandalkan untuk membantu kinerja tubuh menjadi lebih baik. “Banyak juga terkandung serat-serat seperti layaknya buah yang lainnya,” tutur Prof Ali. Menurut beliau, serat tersebut dapat membuat pencernaan menjadi baik. Kandungan kurma membuat usus menjadi lunak dan mengaktifkannya sehingga secara alamiah seseorang secara mudah dapat buang air besar.

Kandungan kalium kurma yang tinggi, menurut Prof Ali sangat menguntungkan jantung dan pembuluh darah. Denyut nadi menjadi semakin teratur dan otot-otot menjadi kontraksi sehingga membantu menstabilkan tekanan darah. Potasium yang tinggi juga ada dalam kurma. Sekedar pengingat saja kalau potasium mempunyai manfaat untuk mengendalikan tekanan darah, membersihkan karbon dioksida dalam darah serta memicu kerja otot dan simpul saraf.

Zat tannin yang tinggi pada kurma dapat digunakan sebagai anti diare. Kurma juga dapat digunakan sebagai obat flu, radang tenggorokan, mengatasi mabuk serta meningkatkan trombosit dalam darah bagi mereka yang terkena demam berdarah. Caranya yaitu dengan memblender 500 gram kurma yang telah dibuang kulitnya, kemudian campur dengan lima gelas air putih sampai halus. Hasil dari blenderan tersebut diminum sebanyak satu gelas tiap satu jam selama sehari.

Mereka yang terkena sakit kepala juga dapat terobati dengan mengkonsumsi buah kurma. Karena ternyata dalam kurma terdapat zat salisilat (suatu zat yang lazim dipakai sebagai bahan baku obat sakit kepala, penghilang rasa sakit hingga demam). Tetapi kurma sebaiknya tidak dimakan oleh mereka yang memiliki penyakit diabetes. Bukannya membaik, kurma akan membuat kadar gula penderita diabetes yang sudah cukup tinggi menjadi lebih tinggi.

Penelitian yang terbaru menyatakan bahwa buah kurma basah mempunyai pengaruh mengontrol laju gerak rahim dan menambah masa systolennya (kontraksi jantung ketika darah dipompa ke pembuluh nadi). Secara kedokteran perempuan hamil yang akan melahirkan itu sangat membutuhkan minuman dan makanan yang kaya akan unsur gula, hal ini karena banyaknya kontraksi otot-otot rahim ketika akan mengeluarkan bayi, terlebih lagi apabila hal itu membutuhkan waktu yang lama. Kandungan gula dan vitamin B1 sangat membantu untuk mengontrol laju gerak rahim dan menambah masa sistolennya (kontraksi jantung ketika darah dipompa ke pembuluh nadi). Dan kedua unsur itu banyak terkandung dalam kurma basah. Kandungan gula dalam kurma basah sangat mudah untuk dicerna dengan cepat oleh tubuh.

Kadar besi dan Kalsium yang dikandung buah kurma matang sangat mencukupi dan penting sekali dalam proses pembentukan air susu ibu. Kadar zat besi dan Kalsium yang dikandung buah kurma dapat menggantikan tenaga ibu yang terkuras saat melahirkan atau menyusui. Zat besi dan Kalsium merupakan dua unsur efektif dan penting bagi pertumbuhan bayi. Alasannya, dua unsur ini merupakan unsur yang paling berpengaruh dalam pembentukan darah dan tulang sumsum.

Kurma basah mencegah terjadi pendarahan bagi perempuan-perempuan ketika melahirkan dan mempercepat proses pengembalian posisi rahim seperti sedia kala sebelum waktu hamil yang berikutnya. Hal ini karena dalam kurma segar terkandung hormon yang menyerupai hormon oxytocine yang dapat membantu proses kalahiran. Hormon oxytocine adalah hormon yang salah satu fungsinya membantu ketika wanita atau pun hewan betina melahirkan dan menyusui. Memudahkan persalinan dan membantu keselamatan sang ibu dan bayinya.

cat : Tugas ESAI kuliah dr. Anwar Wardy, Sp.S

Sumber            : www.almanhaj.or.id/content/2228/slash/0

 

Penyakit Kronik Jakarta

18 Feb

Penyakit kronik adalah penyakit yang dialami selama lebih dari 3 minggu. Penyakit inilah yang dari dulu hingga saat ini dialami oleh Jakarta, penyakit yang tidak bisa di cegah dengan beberapa penatalaksanaan yang sudah dicanangkan oleh pemerintah nasional maupun setempat. Apa penyakit kronik yang dialami Jakarta ? Penyakit kronik yang dialami Jakarta adalah MACET.

Macet adalah permasalah utama Jakarta yang dari dulu hingga saat ini menjadi topik hangat yang dibicarakan, karena hangatnya membuat semua orang yang mengalami macet terbakar emosi  tingkat tinggi. Macet disebabkan oleh banyaknya kendaraan pribadi yang lalu lalang tanpa batas maksimal. Menurut data Badan Pusat Statistik (2006), jumlah kendaraan bermotor tersebut sudah mencapai 7.773.957 unit, terdiri atas mobil 1.816.702 unit, sepeda motor 5.136.619 unit, angkutan barang 503.740 unit, sedangkan bus hanya 316.896 unit.
Sementara itu, luas ruas jalan di Jakarta hanya 27.340.000 meter persegi. Bila semua kendaraan bermotor yang ada di Jakarta saat ini dikeluarkan, ruas jalan yang tersedia itu tidak akan mampu menampung semua kendaraan (http://www.ikman.wordpress.com, Senin, 9 Agustus 2010).

Memang setiap orang memiliki hak untuk memiliki kendaraan pribadi, tetapi kini hak tersebut malah disalah artikan menjadi tren terheboh dalam fashion kendaraan. Setiap orang memiliki satu kendaraan, dan dari satu orang tersebut menjadikan kendaraan sebagai fashion untuk berlomba-lomba memiliki kendaraan terbaru yang sedang in. Padahal mereka tidak memikirkan bahwa kesenangan akan timbul permasalahan. Macet adalah permasalahanya. Segala penatalaksaan sudah dilakukan oleh pemerintah setempat dari darat hingga ke air tetapi kini terbukti gagal menatalaksana macet yang sudah bertahun-tahun dialami Jakarta. Penatalaksanaan darat yang sudah dilakukan oleh pemerintah yaitu Trans Jakarta (Busway) yang telah beroperasi 15 Januari 2004, tetapi kenyataannya GATOT (gagal total). Ruas jalan yang sudah dikhususkan untuk busway kini malah dijadikan ajang tempat untuk menghindari macet kendaraan pribadi, yang lalu lalang seenaknya saja tanpa memikirkan konsekuensi yang akan terjadi. Sedangkan penatalaksanaan air yang dicanangkan tetapi kembali gatot yaitu Waterway yang beroperasi di kali Ciliwung dan telah diresmikan pada 6 Juni 2007 kini gagal mencegah masalah utama Jakarta. Kali Ciliwung sudah tidak digunakan sebagai kali untuk mengoperasikan waterway, malah kali Ciliwung sudah dioperasikan sebagai TPS (tempat pembuangan sampah) air yang pertama di Jakarta dan tempat peternakan penyakit karena banyaknya lalat yang berkembang biak disana. Lalu, apa solusi yang akan mencegah macet kembali ?

Dalam acara berita Seputar Indonesia (07 Agustus 2010, pukul : 12.00) menginformsikan bahwa kini pemerintah telah mencanangkan kembali KRL (kereta listrik) Jabodetabek (info lengkap di http://www.krl.co.id, Senin, 09 Agustu 2010) yang mungkin dapat dijadikan solusi untuk menghindari macet. Saat ini belum ada pembuktian nyata dari solusi terbaru ini, pembuktian solusi akan terwujud beberapa tahun kedepan. Kini timbul pertanyaan lagi, apa beberapa tahun kedepan akan berhasil ? apa jawabannya ? kita tidak tahu.

Penyakit kronis ini sebenarnya dapat ditatalaksana kembali jika pemerintah dan masyarakat memiliki komitmen dua belah pihak, tidak hanya satu pihak. Maksudnya adalah, jika pemerintah memberikan penatalaksanaan untuk macet seharusnya sebagai masyarakat mengikuti wacana dan rencana pemerintah serta peraturan yang ada. Lalu, Apakah kita sebagai masyarakat akan berkomitmen dengan pemerintah ?. Semua pertanyaan yang timbul ini akan terjawab dari diri kita sendiri dan akan terjawab dengan seiringnya waktu.