OPTIMALISASI PENCEGAHAN TRANSMISI VERTIKAL HIV/AIDS DENGAN EKSTRAKSI BANLEC PADA PISANG

20 Feb

When a woman is able to give birth, that is a gift. But when an HIV-positive woman is able to give birth, and the baby turns out to be negative, that is a miracle

 

HIV/AIDS dan Transmisi Vertikal

AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) dapat diartikan sebagai kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang termasuk family retroviridae. HIV/AIDS adalah salah satu masalah besar yang mengancam Indonesia dan banyak Negara di dunia. HIV/AIDS menyebabkan berbagai krisis pembangunan Negara, krisis ekonomi, pendidikan dan juga krisis kemanusiaan. Dengan kata lain HIV/AIDS menyebabkan krisis multidimensi.

Krisis multidimensi khususnya krisis kemanusiaan tidak hanya mengancam orang dewasa tetapi saat ini HIV/AIDS juga mengancam jiwa anak-anak Indonesia. Hal ini terjadi karena krisis ekonomi yang makin mengancam negara Indonesia juga mengancam rencana pencegahan dan pengobatan konvensional yang seharusnya dapat menekan persentase morbiditas dan mortalitas anak penderita HIV/AIDS. Berdasarkan data Kemenkes tahun 2010, dalam empat tahun terakhir kasus HIV/AIDS pada anak-anak Indonesia meningkat 700%. Pada 15 Januari 2004 diketahui jumlah HIV pada anak sebanyak 158 anak, kemudian pada 1 Desember 2009, diketahui jumlahnya sudah meningkat menjadi 691 anak dan pada 2010 kembali meningkat menjadi 1.119 anak.

Peningkatan penyebaran virus mematikan ini terjadi karena penularan dari ibu HIV+ ke bayi semakin tidak terkendali. Cairan yang dikeluarkan oleh ibu seperti plasenta, darah, dan ASI menjadi penyebab utama mudahnya terjadi penularan ke bayi. Bayi dapat menjadi terinfeksi di dalam kandungan (intrauterin), selama proses persalinan (intrapartum), atau melalui ASI.

Pada waktu bayi dalam kandungan, bayi mendapat zat makanan dan O2 dari darah ibu yang dipompakan ke darah bayi, walaupun begitu umumnya darah ibu tidak bercampur dengan darah bayi, sehingga tidak semua bayi yang dikandung ibu dengan HIV positif tertular HIV saat dalam kandungan. Pada kebanyakan wanita yang terinfeksi, HIV tidak dapat menular dari ibu ke anak melewati plasenta, dan plasenta malah melindungi fetus dari HIV. Tetapi perlindungan ini dapat rusak ketika imunitas ibu menjadi lemah. Penularan pada proses persalinan terjadi ketika kontak antara darah ibu, maupun lendir ibu dan bayi sehingga virus HIV dapat masuk kedalam tubuh bayi. Makin lama proses persalinan berlangsung, makin lama kontak antara bayi dengan cairan tubuh ibu, makin tinggi resiko tertular. Sedangkan, penularan melalui ASI terjadi pada minggu-minggu pertama menyusui. Semakin lama bayi menyusui semakin besar persentase penularan HIV ke bayi. Bila ibu ODHA tidak menyusui bayinya maka kemungkinan bayinya terinfeksi HIV berkisar sekitar 15-30%, bila menyusui sampai 6 bulan kemungkinan terinfeksi 25-35%, dan bila masa menyusui diperpanjang sampai 18-24 bulan maka risiko terinfeksi meningkat menjadi 30-45%.

Penularan dari ibu ke bayi ini termasuk ke dalam transmisi vertikal penyebaran HIV/AIDS. Saat ini, laju transmisi vertikal dari ibu ke bayi (MTCT) bervariasi dari 13% hingga 40% pada perempuan yang tidak diobati. Persentase transmisi vertikal dari ibu ke bayi berkisar sekitar 5-10% selama kehamilan, 10-20% saat persalinan dan menyusui bila disusui sampai 2 tahun. Dengan demikian pencegahan penularan vertikal dari ibu ke bayi menjadi penting. Karena hal tersebutlah yang dapat menurunkan persentase morbiditas dan mortalitas HIV/AIDS pada anak, serta merupakan upaya pembangunan bangsa dalam hal memajukan generasi muda.

Langkah pencegahan transmisi vertikal HIV/AIDS yang dilakukan pada ibu hamil terkait juga dengan Undang-Undang Dasar 1945, tentang Pembangunan Anak Indonesia sebagai bagian dari Pembangunan Sumber Daya Manusia yang Berkualitas. Hal ini tertulis pada pasal 28 b (2) yang berbunyi, bahwa “setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”. Jelaslah didalam undang-undang ini tersirat, bahwa suatu pencegahan transmisi vertikal dari ibu ke bayi (PMTCT) adalah suatu langkah yang sangat berperan penting untuk memajukan masa depan Bangsa.

Saat ini, pencegahan yang sudah dicanangkan di seluruh dunia termasuk Indonesia adalah pemberian obat antiretroviral (ARV) kepada ibu hamil. ARV bekerja langsung menghambat replikasi (penggandaan diri HIV). Tujuan dari pemberian obat ini adalah untuk meningkatkan kadar CD4 dan mengurangi viral load (jumlah virus dalam darah) pada tubuh ibu. Hal ini dikarenakan, ketika terjadi peningkatan viral load maka akan memudahkan terjadinya peningkatan replikasi HIV dan kecepatan penghancuran sel CD4 dalam tubuh, sedangkan penurunan jumlah CD4 dapat memudahkan terjadinya peningkatan kerusakan pada sistem imunitas tubuh ibu. ART juga dapat menurunkan persentase transmisi vertikal dari ibu ke bayi saat kehamilan. Pemberian ART ini biasanya diberikan ketika sudah ada indikasi pemberian ART pada ibu hamil, tetapi beberapa dokter menyarankan agar pemberian ART tidak diberikan pada kehamilan triwulan pertama karena akan berdampak buruk pada janin yang dikandungnya.

 

Optimalisasi Pencegahan Transmisi Vertikal HIV/AIDS

Sebagai optimalisasi pencegahan terhadap transmisi vertikal penyebaran HIV pada bayi, kini terdapat solusi terbaru untuk ibu hamil HIV+. Pencegahan transmisi vertikal dari ibu ke bayi (PMTCT) dapat dioptimalkan dengan mengkonsumsi pisang pada ibu hamil.

Pisang selain terkenal sebagai buah utama pemberi energi yang mengandung banyak mineral, kalium, dan karbohidrat, serta sebagai buah yang sangat baik untuk ibu hamil karena kandungan asam folatnya. Ternyata pisang juga memiliki kandungan Banlec atau lektin yang dapat digunakan sebagai optimalisasi pencegah penularan HIV, khususnya HIV-1.

Lektin terkenal sebagai suatu protein pengikat karbohidrat yang menyebabkan aglutinasi sel atau mengendapkan glikokonjugat. Di antara berbagai manfaatnya, lektin digunakan untuk memurnikan glikoprotein tertentu, sebagai alat untuk melacak profil glikoprotein permukaan sel, dan sebagai reagen untuk menghasilkan sel mutan yang defisien dalam enzim tertentu. Dalam kaitannya dengan hal ini, mengkonsumsi pisang sebagai optimalisasi pencegahan transmisi vertikal HIV/AIDS dari ibu ke bayi (PMTCT) yaitu, karena kandungan lektin (BanLec) yang dimiliki oleh pisang dapat berikatan langsung dengan amplop protein HIV, glikoprotein 120 (gp120) yang kaya akan gula (Mannose). Dapat diketahui, bahwa gp120 pada HIV dapat berikatan langsung dengan CD4+ pada sel T dan makrofag, serta reseptor kemokin (CXCR4 dan CCR5) yang pada akhirnya akan menyebabkan infeksi dan merusak sistem kekebalan tubuh pada manusia. Oleh karena itu, mengkonsumsi pisang pada ibu hamil HIV sangat berperan penting dalam mencegah terjadinya transmisi vertikal. Karena, ketika lektin pisang tersebut berikatan dengan gp120 yang kaya akan monosse, ikatan langsung yang seharusnya terjadi antara gp120 dengan CD4+ pada sel T dan makrofag, serta reseptor kemokin (CXCR4 dan CCR5) akan terhambat dan terjadi pemblokiran virus untuk masuk ke sel tubuh ibu HIV dan akhirnya akan mencegah proses replikasi virus di dalam tubuh ibu. Selain dapat berikatan dengan gp120, BanLec juga dapat berikatan dengan amplop-amplop protein yang terdapat pada HIV salah satunya adalah gp41 yang merupakan amplop protein pembantu gp120 untuk masuk ke dalam sel tubuh manusia. Dari sinilah, kenapa pisang dapat digunakan sebagai optimalisasi pencegahan transmisi vertikal HIV dari ibu ke bayi, khususnya HIV-1.

 

Untung vs Rugi

Berbeda halnya dengan terapi ARV, pisang adalah buah yang sangat mudah ditemukan oleh masyarakat Indonesia karena dapat ditemukan di semua pelosok negeri dan terjangkau pula harganya. Mudahnya resistensi yang terjadi pada ARV mendorong lektin pada pisang sebagai salah satu gagasan terbaru optimalisasi pencegahan transmisi vertikal, karena ketika terjadi resistensi terhadap ARV lektin yang dimiliki pisang dapat menggantikan kerja ARV secara optimal dan bekerja dengan jangka panjang yang tidak mudah resisten. Bagi ibu hamil yang terinfeksi HIV, dapat mengkonsumsi pisang satu kali sehari setelah makan sebagai pelengkap pola makan 4 sehat 5 sempurna atau dapat di jus yang berfungsi untuk mencegah transmisi vertikal pada masa kehamilan (intrauterin) dan masa menyusui, serta sebagai obat oles pada vagina untuk mencegah transmisi vertikal HIV/AIDS saat proses persalinan (intrapartum).

Dengan mudahnya pemanfaatan buah pisang sebagai pencegah transmisi vertikal HIV/AIDS dari ibu ke bayi, dapat menjadikan buah pisang sebagai salah satu lahan mata pencaharian bagi masyarakat Indonesia yang mudah dibudidayakan dengan cara berkebun.

Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa dengan buah pisang krisis multidimensi yang terjadi di negara Indonesia baik dari segi kemanusiaan ataupun ekonomi dapat menurun. Karena dengan adanya buah pisang dapat  menurunkan morbiditas dan mortalitas transmisi vertikal pada bayi sehingga tercapailah cita-cita bangsa untuk menjalani Undang-Undang Dasar 1945 dalam melindungi masa depan generasi penerus, serta meningkatkan ekonomi Indonesia dengan pembudidayaan pisang sebagai lahan berkebun.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Adelberg, Melnick, & Jawets. 2007. Mikrobiologi Kedokteran, edisi 23. Jakarta : EGC
  2. Baratawidaja, Garna, Karnean. 2009. IMUNOLOGI DASAR, edisi ke-8. Jakarta : EGC.
  3. Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular & Penyehatan Lingkungan. 2003. PEDOMAN NASIONAL PERAWATAN, DUKUNGAN DAN PENGOBATAN BAGI ODHA. Jakarta : Departemen  Kesehatan RI
  4. Laporan Utama dari Majalah Keluarga Mandiri (Gemari), edisi 119/Tahun XI. Desember 2010. HIV/AIDS Mengancam Anak Bangsa dan Permasalahan Anak Masih Tinggi. Jakarta. Hlm. 12-13 dan 40
  5. Murey, K, Robert, dkk. 2009. BIOKIMIA HARPER, edisi 27. Jakarta : EGC.
  6. Swanson, D, Michael, dkk. 2010. A Lectin Isolated from Banana is a Potent Inhibitor of HIV Replication. Michigan : The American Society for Biochemistry and Moleclar Biology, The Journal of Biological Chemistry.
  7. Tsegaye, Solomon, Theodros, dan Pohlmann, Stefan. 2010. The Multiple Facets of HIV Attachment to Dendritic Cell Lectins. Oxford : Cellular Microbiology.
  8. Zubairi, Djoerban, dan Samsuridjal, Djauzi. 2006. Ilmu Penyakit Dalam (HIV/AIDS DI INDONESIA), edisi IV. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
  9. 2010. Pisang Lindungi Wanita dari HIV. Makassar : Artikel Kesehatan Kedokteran, Keperawatan & Kebidanan. www.ArtikelKesehatanFKUNHAS.com. Senin, 27 Desember 2010

 

Askariasis

18 Feb

Skenario

Seorang anak laki-laki, 9 tahun diantar ibunya ke puskesmas karena dalam 3 minggu ini batuk-batuk terus disertai demam ringan, nafsu makan berkurang, buang air besar sering cair dan kadang sakit perut. Berat badannya berkurang. Pemeriksaan darah : eosinofil 15%. Pemetikasaan foto thorax ditemukan infiltrat.

Kata/Kalimat Kunci

  • Anak laki-laki, 9 tahun
  • Batuk-batuk
  • Demam ringan
  • Nafsu makan berkurang
  • Buang air besar cair dan Sakit perut
  • Berat badan berkurang
  • Eosinofil 15%
  • Infiltrat

Pertanyaan

  1. Jelaskan dan sebutkan klasifikasi helminth !
  2. Jelaskan dan sebutkan klasifikasi helminth yang termasuk “soil transmittedhelminth” dan “non-soil transmitted helminth” !
  3. Jelaskan patomekanisme dari skenario !
  4. Jelaskan langkah-langkah diagnostik yang harus dilakukan untuk skenario!
  5. Jelaskan dignosis banding dari skenario !
    1. Definisi dan Etiologi
    2. Daur hidup dan Patomekanisme
    3. Manifestasi Klinis
    4. Pemeriksaan penunjang
    5. Pengobatan
    6. Profilaksis dan Pemberantasan
    7. Epidemiologi dan Cara penularan

Hipotesis

Setelah brainstorming pada pertemuan pertama kelompok 1 (satu) menentukan hipotesis sementara bahwa dari gejala dan tanda yang ada pada skenario pasien menderita Askariasis.

Pembahasan

Berdasarkan jalur hidup cacing dibagi menjadi dua bagian, yaitu : Soil Transmitted Helminths (STH) dan Non-soil Transmitted Helminth (NSTH) . Ini dibedakan karena jika STH dapat hidup di tanah sedangkan NSTH tidak hidup di tanah.

Berdasarkan taksonomi helmint terbagi menjadi :

1. Nemalthelminthes (cacing gilik, nematoda)

Staduim dewasa yang termasuk dalam kelas ini adalah kelas Nematoda. Nematoda juga dibagi menjadi dua bagian kembali yaitu Nematoda usus dan nematoda jaringan. Untuk nematoda usus dibagi menjadi nematoda STH (soil transmitted helminth) dan non-STH.

Nematoda Usus Nematoda Jaringan
STH (soil transmitted helminth) 

Ascaris lumbricoides

Trichuris trichiura

Ancylostoma duodenale

Ancylostoma branziliense

Ancylostoma caninum

Necator americanus

Strongiloides stercoralis

Non-STH

Oxyuris vermicularis

Trichinella spiralis

Wuchereria bancrofti  

Brugia malayi

Brugia timori

Oncocerca volvulus

Loa loa

2. Platyhelminthes (cacing pipih)

Cacing dewasa yang termasuk Platyhelminthes yaitu kelas Trematoda (cacing daun) dan kelas Cestoda (cacing pita).

Trematoda Cestoda
Trematoda Hati 

Clonorchis sinensis

Opisthochis felineus

Opisthoirchis viverrini

Fasciola

Trematoda Usus

Fasciolopsis buski

Echinostomatidae

Heterophyidae

Trematoda Paru

Paragonimus westermani

Trematoda Darah

Schistosoma japonicum

Schistosoma mansoni

Schistosoma haematobium

Taenia saginata  

Taenia solium

Diphyllobothrium latum

Hymenolepis nana

Echinococcus granulosus

Echinooccus multilocularis

 

Dari kasus yang telah di analisis saat ini kelompok kami menyimpulkan kasus pada skenario tersebut adalah Askariasis, jadi kami menjelaskan gejala-gejala tersebut berdasarkan alur hidup dan patomekanisme Askariasis.

Daur Hidup Ascaris lumbricoides

Manusia merupakan satu-satunya hospes definitif Ascaris lumbricoides, jika tertelan telur yang infektif, maka didalam usus halus bagian atas telur akan pecah dan melepaskan larva infektif dan menembus dinding usus masuk kedalam vena porta hati yang kemudian bersama dengan aliran darah menuju jantung kanan dan selanjutnya melalui arteri pulmonalis ke paru-paru dengan masa migrasi berlangsung selama sekitar 15 hari. Dalam paru-paru larva tumbuh dan berganti kulit sebanyak 2 kali, kemudian keluar dari kapiler, masuk ke alveolus dan seterusnya larva masuk sampai ke bronkus, trakhea, laring dan kemudian ke faring, berpindah ke osepagus dan tertelan melalui saliva atau merayap melalui epiglotis masuk kedalam traktus digestivus. Terakhir larva sampai kedalam usus halus bagian atas, larva berganti kulit lagi menjadi cacing dewasa. Umur cacing dewasa kira-kira satu tahun, dan kemudian keluar secara spontan.

Siklus hidup cacing ascaris mempunyai masa yang cukup panjang, dua bulan sejak infeksi pertama terjadi, seekor cacing betina mulai mampu mengeluarkan 200.000–250.000 butir telur setiap harinya, waktu yang diperlukan adalah 3 – 4 minggu untuk tumbuh menjadi bentuk infektif.  Jumlah telur ascaris yang cukup besar dan dapat hidup selama beberapa tahun maka larvanya dapat tersebar dimana-mana, menyebar melalui tanah, air, ataupun melalui binatang. Maka bila makanan atau minuman yang mengandung telur ascaris infektif masuk kedalam tubuh maka siklus hidup cacing akan berlanjut sehingga larva itu berubah menjadi cacing. Jadi larva cacing ascaris hanya dapat menginfeksi tubuh melalui makanan yang tidak dimasak ataupun melalui kontak langsung dengan kulit.

 

Patomekanisme Gejala & Tanda pada Kasus

Batuk-batuk selama 3 minggu

Pada dasarnya mekanisme batuk dapat dibagi menjadi tiga fase, yaitu fase inspirasi, fase kompresi dan fase ekspirasi. Batuk biasanya bermula dari inhalasi sejumlah udara, kemudian glotis akan menutup dan tekanan di dalam paru akan meningkat yang akhirnya diikuti dengan pembukaan glotis secara tiba-tiba dan ekspirasi sejumlah udara dalam kecepatan tertentu.

Fase inspirasi dimulai dengan inspirasi singkat dan cepat dari sejumlah besar udara, pada saat ini glotis secara refleks sudah terbuka. Volume udara yang diinspirasi sangat bervariasi jumlahnya, berkisar antara 200 sampai 3500 ml di atas kapasitas residu fungsional. Setelah udara di inspirasi, maka mulailah fase kompresi dimana glotis akan tertutup selama 0,2 detik. Pada masa ini, tekanan di paru dan abdomen akan meningkat sampai 50/­100 mmHg. Tertutupnya glotis merupakan ciri khas batuk, yang membedakannya dengan manuver ekspirasi paksa lain karena akan menghasilkan tenaga yang berbeda. Tekanan yang didapatkan bila glotis tertutup adalah 10 sampai 100% lebih besar daripada cara ekspirasi paksa yang lain. Di pihak lain, batuk juga dapat terjadi tanpa penutupan glotis. Kemudian, secara aktif glotis akan terbuka dan berlangsunglah fase ekspirasi. Udara akan keluar dan menggetarkan jaringan saluran napas serta udara yang ada sehingga menimbulkan suara batuk yang kita kenal. Arus udara ekspirasi yang maksimal akan tercapai dalam waktu 30­50 detik setelah glotis terbuka, yang kemudian diikuti dengan arus yang menetap. Kecepatan udara yang dihasilkan dapat mencapai 16.000 sampai 24.000 cm per menit, dan pada fase ini dapat dijumpai pengurangan diameter trakea sampai 80%.

 

Refleks Batuk

Refleks batuk terdiri dari 5 komponen utama yaitu reseptor batuk, serabut saraf aferen, pusat batuk, susunan saraf  eferen dan efektor. Batuk bermula dari suatu rangsang pada reseptor batuk. Reseptor ini berupa serabut saraf non mielin halus yang terletak baik di dalam maupun di luar rongga toraks. Yang terletak di dalam rongga toraks antara lain terdapat di laring, trakea, bronkus dan di pleura. Jumlah reseptor akan semakin berkurang pada cabang-cabang bronkus yang kecil, dan sejumlah besar reseptor didapat di laring, trakea, karina dan daerah percabangan bronkus. Reseptor bahkan juga ditemui di saluran telinga, lambung, hilus, sinus paranasalis, perikardial dan diafragma.

Serabut aferen terpenting ada pada cabang nervus vagus, yang mengalirkan rangsang dari laring, trakea, bronkus, pleura, lambung dan juga rangsang dari telinga melalui cabang Arnold dari n. Vagus. Nervus trigeminus menyalurkan rangsang dari sinus paranasalis, nervus glosofaringeus menyalurkan rangsang dari faring dan nervus frenikus menyalurkan rangsang dari perikardium dan diafragma.

Serabut aferen membawa rangsang ini ke pusat batuk yang terletak di medula oblongata, di dekat pusat pernapasan dan pusat muntah. Kemudian dari sini oleh serabut-serabut eferen nervus vagus, frenikus, interkostal dan lumbar, trigeminus, fasialis, hipoglosus dan nervus lainnya menuju ke efektor. Efektor ini terdiri dari otot-otot laring, trakea, bronkus, diafragma, otot-otot interkostal dan lain-lain. Di daerah efektor inilah mekanisme batuk kemudian terjadi.

Jika dihubungkan dengan skenario, batuk yag terjadi dikarenakan  perkembang biakan larva yang melewati bronkus, trakea, laring, dan faring serta esofagus merangsang resptor batuk yang ada pada saluran napas tersebut merangsang N.Vagus untuk mengalirkan reseptor tersebut ke medulla oblongata dan akhirnya merangsang nucleus otak, khususnya pusat batuk.

 

Demam Ringan

Demam atau febris merupakan suatu keadaan dimana terjadi peningkatan suhu tubuh, dimana suhu tersebut melebihi dari suhu tubuh normal (>37,2oC).

Proses perubahan suhu yang terjadi saat tubuh dalam keadaan sakit lebih dikarenakan oleh zat toksin yang masuk kedalam tubuh. Umumnya, keadaan sakit terjadi karena adanya proses peradangan (inflamasi) di dalam tubuh. Proses peradangan itu sendiri sebenarnya merupakan mekanisme pertahanan dasar tubuh terhadap adanya serangan yang mengancam keadaan fisiologis tubuh. Proses peradangan diawali dengan masuknya zat toksin (mikroorganisme, yaitu cacing Ascaris lumbricoides) kedalam tubuh kita. Mikroorganisme (MO) yang masuk kedalam tubuh umumnya memiliki suatu zat toksin tertentu yang dikenal sebagai pirogen eksogen. Dengan masuknya MO tersebut, tubuh akan berusaha melawan dan mencegahnya dengan memerintahkan tentara pertahanan tubuh antara lain berupa leukosit, makrofag, dan limfosit untuk memakannya (fagositosit). Dengan adanya proses fagositosit ini, tentara-tentara tubuh itu akan mengeluarkan senjata, berupa zat kimia yang dikenal sebagai pirogen endogen (khususnya IL-1) yang berfungsi sebagai anti infeksi. Pirogen endogen yang keluar, selanjutnya akan merangsang sel-sel endotel hipotalamus untuk mengeluarkan suatu substansi yakni asam arakhidonat. Asam arakhidonat dapat keluar dengan adanya bantuan enzim fosfolipase A2. Asam arakhidonat yang dikeluarkan oleh hipotalamus akan pemacu pengeluaran prostaglandin (PGE2). Pengeluaran prostaglandin dibantu oleh enzim siklooksigenase (COX). Pengeluaran prostaglandin akan mempengaruhi kerja dari termostat hipotalamus. Sebagai kompensasinya, hipotalamus akan meningkatkan titik patokan suhu tubuh (di atas suhu normal). Adanya peningkatan titik patokan ini dikarenakan termostat tubuh (hipotalamus) merasa bahwa suhu tubuh sekarang dibawah batas normal. Akibatnya terjadilah respon dingin/menggigil. Adanya proses mengigil (pergerakan otot rangka) ini ditujukan untuk menghasilkan panas tubuh yang lebih banyak dan terjadilah demam.

 

BAB cair

Ketika larva cacing Ascaris lumbricoides masuk ke dalam tubuh manusis melalui makanan yang akhirnya masuk ke dalam usus, maka di dalam usus akan terjadi reaksi inflamasi agar tetap terjadi pertahanan tubuh pada tubuh hospes. Saat terjadi reaksi inflamai dalam usus maka terjadi peningkatan sekresi cairan dan elektrolit yang akhirnya akan menyebabkan isis rongga dalam usus meningkat dan ankhirnya BAB cair (diare).

 

Sakit Perut

Sakit perut dapat dihubungkan karena terjadinya penumpukan cacing dalam usus yang pada dasarnya daur hidup larva dalam usus akan mengembangbiakan cacing sebanyak 20 sampai 20.000, dan dapat juga terjadi karena sifat Ascaris lumbricoides yang dapat merusak usus dengan cara memakan protein-protein yang masuk melalui makanan dari hospes sehingga menyebabkan gerakan peristaltik pada usus berlebihan.

 

Berat Badan Berkurang

Berat badan berkurang terjadi karena hubungan antara anoreksia, BAB cair dan sakit perut.

 

Eosinofil 15%

Jika dilihat pada kadar normalnya yang sebesar 1-4% pada kasus di  skenario ini terjadi eosinofilia. Eosinofilia adalah tingginya rasio eosinofil di dalam plasma darah. Eosinofilia bukan merupakan suatu penyakit, tetapi merupakan respon terhadap suatu penyakit. Peningkatan jumlah eosinofil dalam darah dipicu sekresi interleukin-5 oleh sel T, mastosit dan makrofag, biasanya menunjukkan respon yang tepat terhadap sel-sel abnormal, parasit atau bahan-bahan penyebab reaksi alergi (alergen).

Pada awalnya eosinofil terjadi pada sumsum tulang. Tetapi setelah dibuat di dalam sumsum tulang, eosinofil akan memasuki aliran darah dan tinggal dalam darah hanya beberapa jam, kemudian masuk ke dalam jaringan di seluruh tubuh. Jika suatu bahan asing masuk ke dalam tubuh, akan terdeteksi oleh limfosit dan neutrofil, yang akan melepaskan bahan untuk menarik eosinofil ke daerah ini. Eosinofil kemudian melepaskan bahan racun yang dapat membunuh parasit dan menghancurkan sel-sel yang abnormal.

 

Infiltrat

Adanya infiltrat pada pada saat pemeriksaan paru-paru pasien karena ketika terjadi daur hidup cacing pada tubuh manusia, cacing tersebut melewati paru-paru dan membuat kerusakan pada paru-paru sehingga sel leukosit yang ada di paru-paru menggumpan dan membentuk konsolidasi.

 

Diagnosis Banding

Askariasis

Definisi & etiologi

Askariasis adalah suatu penyakit parasit yang disebabkan oleh cacing Ascaris lumbricoides

Manifestasis Klinis

  • Batuk
  • Demam
  • Eosinofilia
  • Infiltrat (menghilang dalam waktu 3 minggu)
  • Mual
  • Nafsu makan berkurang
  • Diare atau konstipasi
  • Malnutrisi
  • Malabsorpsi
  • Obstruksi usus (ileum)

Epidemiologi & Cara Penularan

Di Indonesia prevalensi askariasis tinggi, terutama pada anak. Frekuensinya 60-90%. Kurangnya pemakaian jamban keluarga menimbulkan pencemaran tanah dengan tinja di sekitar halaman rumah, di bawah pohon, di tempat memncuci dan di tempat pembuanagn sampah. Tanah liat, kelembaban tinggi dan suhu 25-30oC merupakan kondisi yang sangat baik untuk berkembangnya telur Ascaris lumbricoides menjadi bentuk infektif.

 

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan tinja secara langsung untuk mengetahui cacing tersebut.

Pengobatan

Untuk perorangan dapat digunakan bermacam-macam obat misalnya piperasin, pirantel pamoat 10 mg/kg berat badan, dosis tunggal mebendazol 500 mg atau albendazol 400 mg.

Untuk pengobatan masal perlu beberapa syarat, yaitu :

  • Obat mudah diterima masyarakat
  • Aturan pemakaian sederhana
  • Mempunyai efek samping yang minim
  • Bersifat polivalen, sehingga berkhasiat terhadap beberapa jenis cacing
  • Harganya murah

Obat yang diberikan untuk pengobatan massal adalah albendazol 400 mg 2 kali setahun.

Ancylostomiasis

Definisi dan Etiologi

Ancylostomiasis adalah penyakit parasit yang disebabkan oleh cacing Ancylostoma duodenale


Epidemiologi dan Cara Penularan

Insidensi tinggi ditemukan pada penduduk di Indonesia, terutama di daerah pedesaan, khususnya di perkebunan. Seringkali pekerja perkebunan yang langsung berhubungan dengan tanah mendapat infeksi lebih dari 70%

Kebiasaan defekasi di tanah dan pemakaian tinja sebagai pupuk kebun (di berbagai daerah tertentu) penting dalam penyebaran infeksi. Tanah yang baik untuk pertumbuhan larva ialah tanah gembur (pasir, humus) dengan suhu optimum 23o-25o C.

 

Daur Hidup & Patomekanisme

Telur dikeluarkan dengan tinja dan setelah menetas dalam waktu 1-1,5 hari, kelurlah larva rabditoform. Dalam waktu ± 3 hari larva rabditiform tumbuh menjadi larva filariform, yang dapat menembus kulit dan dapat hidup selama 7-8 minggu di tanah.

Telur cacing tambang yang besarnya ± 60×40 mikron, berbentuk bujru dan mempunyai dinding tipis. Di dalamnya terdapat beberapa sel. Larva rabditiform panjangnya ± 250 mikron, sedangkan larva filariform panjangnya ± 600 mikron

 

Daur hidup :

Telur –> larva rabditiform –> larva filariform –> menembus kulit –> kapiler darah –> jantung kanan –> paru –> bronkus –> trakea –> laring –> usus halus

Manifestasi Klinik

1. Stadium larva :

Ground itch dan penyakit wakana dengan gejala mual, muntah, iritasi faring, batuk, sakit leher, dan serak

2. Stadium dewasa

  • Anemia hipokrom mikrositer
  • Eosinofilia
  • Daya tahan tubuh berkurang
  • Prestasi kerja menurun

Pemeriksaan Penunjang

  • Pemeriksaan tinja dengan pemeriksaan mikroskop
  • Biakan Harada-Mori

Pengobatan

Dengan pemberian pirantel pamoat 10mg/kg berat badan

Profilasksis dan Pemberantasan Penyakit Cacing

1. Memutuskan daur hidup dengan cara :

  • Defekasi di jamban
  • Menjaga kebersihan, cukup air bersih di jamban, untuk mandi dan cuci tangan teratur
  • Memberi pengobatan masal dengan obat entelmintik yang efektif, terutama kepada golongan rawan

2. Penyuluhan kepada masyarakat mengenai sanitasi lingkungan yang baik dan cara menghindari infeksi cacing

3. Menggunakan alas kaki bila bermain di tempat yang bertanah gembur

4. Dilakukan penyuluhan tentang parasit ini

5. Membiasakan tidak menggunakan tinja sebagai pupuk

TB Paru

Definisi dan Etiologi

Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit yang dapat diobati, yang disebabkan oleh bakteri (kuman) Mycobacterium tuberculosis. TBC dapat merusakkan paru-paru atau bagian tubuh lain dan mengakibatkan penyakit parah.

 

Patomekanisme

1. Tuberkulosis Primer

Penularan tuberkulosis paru terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersihkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara sekitar kita. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara selama 1-2 jam tergantung, pada ada tidaknya sinar ultraviolet, vemtilasi yang buruk dan kelembaban. Dalm suasana lembab dan gelap kuman dapat tahan berhari-hari sampai berbulan-bulan. Bila partikel infeksi ini terisap oleh orang sehat, ia akan menempel menempel pada saluran napas atau jaringan paru. Partikel dapat masuk ke alveolar bila ukuran partikel <5 μ. Kuman akan dihadapi pertama kali oleh neutrofil, kemudian baru oleh makrofag. Kebanyakan partikel ini akan mati atau dibersihkan oleh makrofag keluar dari percabangan trakeobronkial bersama gerakan silia dengan sekretnya.

Bila kuman menetap di jaringan paru, berkembang biak dalam sito-plasma makrofag. Di sini ia dapat terbawa masuk ke organ tubuh lainnya. Kuman yang bersarang di jaringan paru akan berbentuk sarang tuberkulosis pneumonia kecil dan disebut sarang primer atau efek primer atau sarang (fokus) Ghon. Sarang primer ini dapat terjadi di setiap bagian jaringan paru. Bila menjala sampai ke pleura, maka terjadilah efusi pleura. Kuman dapat juga masuk saluran gastrointestinal, jaringan limfe, orofaring, dan kulit, terjadi limfadenopati regional kemudian bakteri masuk ke dalam vena dan menjalar ke seluruh organ seperti paru, otak, ginjal, tulang. Bila masuk ke artei pulmonalis maka akan terjadi penjalaran ke seluruh bagian paru menjadi TB milier.

Dari sarang primer akan timbul peradangan saluran getah bening menuju hilus (limfangitis lokal), dan juga diikuti pembesaran kelenjar getah bening hilus (limfadenitis regional). Sarang primer limfangitis lokal + limfadenitis regional = kompleks primer (Ranke). Semua proses ini memakan waktu 3-8 minggu. Kompleks primer ini selanjutnya dapat menjadi :

  • Sembuh sama sekali tanpa meniggalkan cacat. Ini yang banyak terjadi.
  • Sembuh dengan meniggalkan sedikit bekas berupa garis-garis fibrotik, kalsifikasi di hilus, keadaan ini terdapat pada lesi pnemonia yang luasnya >5 mm dan ± 10% diantaranya dapat terjadi reaktivasi lagi karena kuman yang dormant.
  • Berkomplikasi dan menyebar secara : a). Per kontinuitatum, yakni menyebar ke sekitarnya, b). Secara bronkogen pada paru yang bersangkutan maupun paru di sebelahnya. Kuman dapat juga tertelan bersama sputum dan ludah sehingga menyebar ke usus, c). Secara limfogen, ke organ tubuh lain-lainnya, d). Secara hematogen, ke organ tubuh lainnya.

2. Tuberkulosis Pasca Primer (Tuberkulosis Sekunder)

Kuman yang dormant pada tuberkulosis primer akan muncul bertahun-tahun kemudian sebagai infeksi endogen menjadi tuberkulosis dewasa (tuberkulosis post primer = TB pasca primer = TB sekunder) mayoritas terinfeksi mencapai 90%. Tuberkulosis sekunder terjadi karena imunitas menurun seperti malnutrisi, alkohol. Penyakit maligna, diabetes, AIDS, gagal ginjal. Tuberkulosis pasca-primer ini dimulai dengan sarang dini yang berlokasi di regio atas paru (bagian apikal-posterior lobus superior atau inferior). Invasinya adalah ke daerah parenkim paru-paru dan tidak ke nodus hiler paru.

Sarang dini ini muka-mula juga berbentuk sarang pneumonia kecil. Dalam 3-10 minggu sarang ini menjadi tuberkel yakni suatu granuloma yang terdiri dari sel-sel Histosit dan sel Datia-Langhans (sel besar dengan benyak inti) yang dikelilingi oleh sel-sel limfosit dan berbagai jaringan ikat.

TB pasca primer juga dapat berasal dari infeksi eksogen dari usia muda menjadi TB usia tua (elderly tuberculosis). Tergantung dari jumlah kuman, virulensi-nya dan imunitas pasien, sarang dini ini dapat menjadi :

  • Direabsorbsi kembali dan sembuh tanpa meninggalkan cacat.
  • Sarang mula-mula meluas, tetapi segera menyembuh dengan serbukan jaringan fibrosis. Ada yang membungkus diri menjadi keras, menimbulkan perkapuran. Sarang dini yang meluas sebagai granuloma berkembang menghancurkan jaringan ikat sekitarnya dan bagian tengahnya mengalami nekrosis, menjadi lembek membentuk jaringan keju. Bila jaringan keju dibatukkan keluar akan terjadilah kavitas. Kavitas ini mula-mula berbanding tipis, lama-lama dindingnya menebal karena infiltrasi jaringan fibroblas dalam jumlah besar, sehingga menjdi kavitas sklerotik (kronik). Terjadinya perkijuan dan kavitas adalah karena hidrolisis protein lipid dan asam nukleat oleh enzim yang diproduksi oleh makrofag, dan proses yang berlebihan sitokin dengan TNF-nya. Bentuk perkijuan lain yang jarang adalah cryptic disseminate TB yang terjadi pada imunodefisiensi dan usia lanjut.

Individu yang pernah mengalami infeksi primer biasanya mempunyai mekanisme daya kekebalan tubuh terhadap basil TB, hal ini dapat terlihat pada tes tuberkulin yang menimbulkan hasil reaksi positif. Jika orang sehat yang pernah mengalami infeksi primer mengalami penurunan daya tahan tubuh, ada kemungkinan terjadi reaktivasi basil TB yang sebelumnya berada dalam keadaan dorman. Reaktivasi biasanya terjadi beberapa tahun setelah infeksi. Penurunan daya tahan tubuh dapat disebabkan oleh bertambahnya umum (proses menua), alkoholisme, defisisnsi nutrisi, sakit berat, diabetes, melitus dan HIV/AIDS

 

Cara Penularan

Tuberculosis paru adalah penyakit radang parenkim paru karena infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis paru termasuk suatu pneumonia, yaitu pneumonia yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis paru mencakup 80% dari keseluruhan kejadian penyakit tuberkulosis, sedangkan 20% selebihnya merupakan tuberkulosis ekstrapulmonar.

Tuberkulosis paru merupakan penyakit menular yang cukup pesat tingkat penularannya. Penularan penyakit biasanya terjadi melalui udara dengan inhalasi droplet nucleus yang mengandung basil tuberkulosis berukuran 1-5 μm yang dapat melewati atau menembus system mukosilier saluran nafas, sehingga dapat mencapai dan bersarang di bronkiolus dan alveolus. Kuman TB paru menyebar dari seorang penderita TB paru positif yang terbuka kepada orang lain. penyakit yang berkembang biasanya menahun, usia yang sering terserang TB paru adalah 15-40 tahun, sehingga dampak kerugian ekonomi bagi kesehatan masyarakat cukup besar berupa menurunnya produktivitas dan mahalnya pengobatan.

 

Epidemiologi

Indonesia adalah negeri dengan prevalensi TB ke-3 tertinggi di dunia setelah Cina dan India. Pada tahun 1998 diperkirakan TB di China, India, dan Indonesia berturut turut 1.828.000, 1.414.000, dan 591.000 kasus. Perkiraan kejadian BTA di sputum yang positif di Indonesia adalah 266.000 tahun 1998. Berdasarkan survei kesehatan rumah tangga 1985 dan survei kesehatan nasional 2001, TB menempati ranking nomor 3 sebagai penyebab kematian tertinggi di Indonesia. prevalensi nasional terakhir TB paru diperkirakan 0,24%. Sampai sekarang angka kejadian TB di Indonesia relatif terlepas dari angka pandemi infeksi HIV karena masih relatif rendahnya infeksi HIV, tapi hal ini mungkin akan berubah dimasa datang melihat semakin meningkatnya laporan infeksi HIV dari tahun ketahun. Suatu survei mengenai prevalensi TB yang dilaksanakan di 15 provinsi Indonesia tahun 1972-1982 diperlihatkan pada tabel di bawah ini :

Tabel 1. Prevalensi TB diantara Tahun 1979-1982 di 15 Provinsi di Indonesia

Tahun survei

Provinsi

Jumlah Penduduk tahun 1982 (juta)

Pevalensi Positif Hapusan BTA Sputum (%)

1979

1980

1980

1980

1980

1980

1980

1980

1980

1980

1980

1981

1981

1981

1982

Jawa Tengah

Bali

DKI Jaya

DI Yogyakarta

Jawa Timur

Sumatera Utara

Sulawesi Selatan

Sumatera Selatan

Jawa Barat

Kalimantan Barat

Sumatera Barat

Aceh

Kalimantan Barat

Sulawesi Utara

Nusa Tenggara Timur

26,2

2,5

7,0

2,8

30,0

8,8

6,2

4,9

28,9

2,6

3,5

2,7

1,3

2,2

2,8

0,13

0,08

0,16

0,31

0,34

0,53

0,45

0,42

0,31

0,14

0,38

0,15

0,52

0,30

0,74

 

Manifestasi Klinis

  • Demam.
  • Batuk/Batuk Darah.
  • Sesak Napas.
  • Nyeri Dada.
  • Malaise

Pemeriksaan Penunjang

  • Tuberculin skin testing
  • Pemeriksaan radiologis
  • Pemeriksaan darah
  • Pemeriksaan sputum

Penatalaksanaan

Penderita TB harus diobati, dan pengobatannya harus adekuat. Pengobatan TB memakan waktu minimal 6 bulan. Dalam memberantas penyakit tuberkulosis, negara mempunyai pedoman dalam pengobatan TB yang disebut program pemberantasan TB (National Tuberculosis Programme). Prinsip pengobatan TB adalah menggunakan multidrugs regimen, hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya resistensi basi TB terhadap obat. Obat anti tuberkulosis dibagi dalam dua golongan besar, yaitu oabt lini pertama dan obat lini kedua.

Beberapa obat yang termasuk obat anti TB lini pertama adalah : isoniazid (H), etambutol (E), streptomisin (S), pirazinamid (Z), rifampisin (R), dan tiosetazon (T), sedangkan yang termasuk obat lini kedua adalah : etionamide, sikloserin, PAS, amikasin, kanamisisn, kapreomisisn, siprofloksasin, ofloksasin, klofazimin, dan rifambutin.

Terdapat dua alternatif terapi pada TB paru, yaitu :

1. Terapi jangka panjang (terapi tanpa rifampisin)

Terapi ini menggunakan isonizid, etambutol, streptomisin, pirazinamid, dalam jangka waktu 24 bulan atau dua bulan.

 

2. Terapi jangka pendek

Terapi ini menggunakan regimen rifampisin, isoniazid, dan pirazinamid dalam jangka waktu 6 minimal 6 bulan, dan    terdapat kemungkinan bahwa terapi dilanjutkan sampai 9 bulan. Terapi jangka pendek memerlukan biaya mahal karena harga obat rifampisisn yang tinggi ssehingga tidak setiap orang mampu membiayai pengobatannya. Pada kondisi seperti ini, diberikan terapi jangka panjang yngtidak terlalu berat pembiayaannya dibandingkan terapi jangka pendek.

Dosis yang dianjurkan oleh International Union Against Tuberculosis adalah dosis pemberian setiap hari berbeda dengan dosis pemberian intermittan, perlu diingat bahwa dosis pemberian setiap hari berbeda dengan dosis intermitten.

Dosis obat lini pertama :

Nama Obat

 

Dosis yang direkomendasikan

Dosis pemberian setiap hari

Dosis pemberian intermitten

mg/kgBB

Maksimum (mg)

mg/kgBB

Maksimum (mg)

Isoniazid (H) 

Rifampisin (R)

Pirazinamid (Z)

Streptomisin (S)

Etambutol (E)

Tiosetazon (T)

5 mg 

10 mg

35 mg

15-20 mg

15-25 mg

4 mg (anak)

300 mg 

600 mg

2500 mg

750-1000 mg

1800 mg

150 mg

15 mg 

15 mg

50 mg

15-20 mg

750 mg (seminggu 2 kali) 

600 mg (seminggu 2 kali)

750-1000 mg

Dosis obat lini kedua untuk mengobati pasien HIV yang terinfeksi oleh multidrug-resistant tuberculosis :

Nama Obat

Dosis yang direkomendasikan

Etionamide 

Sikloserin

PAS

Amikasin

Kanamisin

Kapreomisin

Siprofloksasin

Ofloksasin

Klofazimin

Rifabutin

250 mg 2-4 kali sehari 

250-1000 mg/hari dosis terbagi

12-16 gram/hari dosis terbagi

15 mg/kgBB/hari, 5 hari/minggu IV atau IM

15 mg/kgBB/hari, g hari/minggu, IM

15 mg/kgBB/hari, 5 hari/minggu, IM

500-750 mg, 2 kali sehari

400 mg, 2 kali sehari

200-300 mg/hari

150-300 mg/hari

 

 


 

 

 

 

Panduan obat anti tuberkulosis menurut Program Pemberantasan TB paru (P2TB-paru) yang digunakan di Indonesia sesuai dengan rekomendasi WHO ada tiga :

Kategori 1 2HRZE/2H3R3
Kategori 2 2HRZES/HRZE/5H3R3E3
Kategori 3 2HRZ/4H3R3

 

 

Profilaksis

Promotif

  1. Penyuluhan kepada masyarakat apa itu TBC
  2. Pemberitahuan baik melalui spanduk/iklan tentang bahaya TBC, cara penularan, cara pencegahan, faktor resiko
  3. Mensosialisasiklan BCG di masyarakat.

Preventif

  1. Vaksinasi BCG
  2. Menggunakan isoniazid (INH)
  3. Membersihkan lingkungan dari tempat yang kotor dan lembab.
  4. Bila ada gejala-gejala TBC segera ke Puskesmas/RS, agar dapat diketahui secara dini

Kuratif

Pengobatan tuberkulosis terutama pada pemberian obat antimikroba dalam jangka waktu yang lama.


Kita Sama dengan Barang ? What’s the Mean ?

8 Mar

Setelah saya baca beberapa buku karangan pak Agus Mustofa, saya jadi lebih banyak tahu seperti apa manusia itu. Inilah salah satu dari isi buku karangan beliau dari judul buku “Melawan Kematian

 

Aku, Sel yang Mengatur Kehidupan dan Kematian

Maha Besar Allah dengan segala Keagungan-Nya, dengan segala apa yang diciptakan-Nya. Allah menciptakan manusia dengan segala kesempurnaan yang tak terhitung harganya dan dengan segala keseimbangannya, ini telah dijelaskan oleh-Nya dalam kitab suci al-Qur’an yang artinya.

Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (sistem tubuh) mu seimbang, dan bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu” (QS. al-Infithaar : 7-8)

Kita, manusia di ciptakan begitu rumit. Kerumitan penyempurnaan kita bermula dari pertemuan antara dua sel, yaitu sel telur dan sperma di dalam rahim. Dari satu sel, menjadi dua sel, menjadi empat sel, menjadi 8 sel, dan begitu seterusnya hingga menjadi bertriliun sel yang ada dalam tubuh kita. Dari sel, kita dijadikan oleh-Nya menjadi jaringan dan akhirnya menjadi berbagai macam organ yang memiliki fungsi yang sangat sempurna hingga menyeimbangkan kita sampai saat ini. Subhanallah . . .

Sel dapat hidup dengan sendirinya dalam tubuh manusia. Ia menyerap berbagai macam zat yang ada di lingkungan dalam tubuh manusia. Di dalam sel ada kode-kode genetika yang berfungsi menegeluarkan perintah. Pusatnya ada di dalam inti sel. Ada sekitar 3-5 miliar kode genetika yang memberikan perintah agar sel tetap mempertahankan kehidupannya. Untuk itu sel dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas. Mulai dari membran sel yang bertugas menjadi benteng dan pintu keluar masuknya zat-zat kebutuhan hidupnya. Disini ada mekanisme screening yang berfungsi mengatur keluar masuknya zat-zat yang berbahaya bagi tubuh. Pengaturan membran sel itu di perintah oleh inti sel. Lalu zat-zat tersebut masuk ke dalam, lantas diolah menjadi protein-protein yang dibutuhkan. Pabriknya ada di dalam ribosom. Pasokan listriknya ada di mitokondria. Tatacara pembuatannya dikeluarkan oleh inti sel, sebagai pusat komando. Dan hasil-hasilnya, dibawa oleh bagian transportasi endoplasmic reticulum untuk didistribusikan sesuai perintah dari inti sel yang akhirnya akan bereplikasi. Di dalam inti sel inilah terdapat gen-gen yang dapat memerintahkan apakah masih dapat hidup atau tidak. Dari gen inilah ternyata adanya pemutaran kehidupan dan kematian bagi kita sebagai manusia.

Di dalam inti sel Allah telah menempatkan jatah waktu hidup kita di dalam gen yang sangat kecil. Dari untaian gen yang disebut telomer, manusia dapat mengetahui pendek dan panjangnya kehidupan. Subhanallah . . . begitu cermatnya Allah menciptakan kita. Pada orang-orang yang berusia tua, ternyata telomer mereka lebih pendek dibandingkan yang berusia muda. Hal ini terjadi dikarenakan adanya mekanisme telomerase alias replikasi yang unik di dalam sel-sel kita. Setiap kali sel terjadi pengkopian kode-kode genetika untuk mereplikasi sel itu selalu saja ada yang tertinggal. Ibarat halnya kita mengkopi sebuah buku yang tidak kita kopi dari awal sampai akhir, pasti ketika kita mengkopi ada saja halaman yang kita tinggal. Begitulah halnya proses telomerase dalam tubuh kita. Inilah yang membedakan pula antara manusia yang tua dan muda. Proses telomerase juga dapat menurunkan gen tersebut kepada keluarga yang berarti bahwa ketika telomer sang ayah atau ibu panjang maka berarti telomer yng dimiliki sang anak panjang yang mengartikan pula bahwa kelurga tersebut insyaallah berumur panjang. Inilah keajaiban yang ternyata kita tidak mengetahuinya secara terperinci bagaimana kita di cipatakan seutuhnya. Subhanallah . . .

 

Kita dan Barang Ternyata Sama

Ya, kita sama halnya dengan barang. Kenapa begitu ? karena ketika kita berada dalam rahim ibu, Allah telah menyiapkan jatah hidup kita seberapa lama kita akan hidup. Life Time atau jatah hidup yang kita miliki selama ini dapat berubah tergantung dari pola hidup kita. Selama kita menjaga Life Time tersebut maka life time kita akan semakin panjang. Ya kaya barang aja, yang sudah ditentukan oleh pabrik waktu kadarluarsanya atau garansinya. Kalau kita pakai barang itu dengan baik, ya . . . barang tersebut akan baik dan tidak akan kita bawa ke tukang service. Sama kaya kita kan ? kalau kita jaga pola hidup kita, ya kita tidak akan bolak-balik ke dokter untuk berobat.

Tapi pada kenyataanya, selama ini kita telah salah kaprah dalam mengerti semua itu. Selama ini kita berpikir bahwa jika kita meninggal pada umur, misalnya 20 tahun itulah kehendak Allah. Jika kita meninggal karena kita bunuh diri contohnya, kita berpikir bahwa itu adalah aturan Allah yang sudah di atur di lauhhilmahfuz. Semua yang kita pikirkan, salah. Jatah hidup yang Allah tentukan selama kita masih berada di kandungan Mamah ternyata tergantung dari pola hidup kita sendiri. Jika kita amburadul dalam hidup, seperti makan sembarangan yang jelas-jelas tidak baik bagi kesehatan itulah yang menentukan kahidupan kita, misalnya kita sudah ditentukan life time-nya 100 tahun tapi karena pola hidup kita yang amburadul ya bisa jadi kita meninggal pada umur 50 tahun. Contohnya lagi, Kalau kita meninggal karena bunuh diri, bukan berarti Allah telah benar-benar mengatur semuanya. Tapi memang Allah lah yang mengabulkan apa yang kita inginkan atau kita ucapkan. Kita berpikir ingin bunuh diri ya Allah pasti akan kabulkan . . .

 

Saatnya kita Melawan Kematian

Ternyata Kita Bisa Melawan Kematian

Don’t negative thinking dulu !!

Maksud dari melawan kematian disini ya gampang-gampang aja sich, kita cuma cukup bersyukur pada Allah yang telah menciptakan kita begitu sempurna. Bersyukur bukan berarti habis solat kita mengucapkan Alhamdulillah dan mengangkat tangan, tapi bersyukur disini ya kita jaga apa yang sudah Allah ciptakan kepada kita. Gampang kan ?! ngomong sich gampang, but kalau melakukannya emank agak sulit. Maka dari itu, tidak hanya dengan usaha aja tapi juga dengan do’a supaya kita minta bantuan kepada-Nya.

 

Ternyata terbukti Pribahasa “lebih baik mencegah daripada mengobati

PRAKTIKUM ANATOMI DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

18 Feb

Praktikum anatomi adalah proses belajar mengajar yang wajib dilaksanakan bagi seluruh mahasiswa-mahasiswi Fakultas Kedokteran seluruh dunia. Karena dari proses belajar mengajar inilah seseorang dapat dikatakan dokter karena mereka mengetahui dimana letak organ yang menimbulkan penyakit dari pasien mereka. Nabi menjelaskan dalam Hadistnya bahwa “Mu’min dan Mu’minat wajib menuntut ilmu dari dalam kandungan hingga dalam liang lahat”, dari sinilah kesimpulan didapatkan bahwa selama ilmu tersebut dapat bermanfaat dan menjadikan seseorang selalu mengingat Allah serta dapat selalu bersyukur, orang tersebut berhak untuk menuntut ilmu apapun. Tetapi kini timbul pertanyaan bagi kalangan mahasiswa kedokteran, apakah mempelajari struktur tubuh manusia dengan cara pembedahan diperbolehkan dalam pandangan Islam ?

Pertanyaan tersebut terjawab dalam regulasi seputar donor mayat untuk keperluan pendidikan selama ini diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 18 Tahun 1981. Di sana diatur ketentuan persetujuan keluarga jenazah, lokasi baku operasi bedah, status mayat tak dikenal, dan sebagainya. Meski sudah diatur negara, tetapi masih ada pasal yang menyerahkan urusan pada ketentuan agama. Pada ketentuan agama, al-Qur’an dan Hadist tidak menggambarkan bahwa diperbolehkan atau tidaknya menggunakan mayat untuk mempelajarinya. Dalam hal ini Islam sebagai agama yang telah disempurnakan oleh Allah telah menetapkan beberapa kaedah untuk menjawab permasalahan tersebut. Diantara kaedah tersebut hukum Islam adalah :

“Apabila berbenturan antara dua kemaslahatan maka dilakukan yang paling banyak maslahatnya juga apabila berbenturan antara dua mafsadah maka di lakukan yang paling ringan mafsadahnya” (Al Qowaid Al Fiqhiyah Syaikh As Sa’di hal : 45-48)

Dari kaedah Islam inilah dapat disimpulkan, bahwa melaksanakan praktikum anatomi untuk mahasiswa-mahasiswi kedokteran dibolehkan selama tidak menimbulkan banyak mudhorot pada saat melaksanakannya.

PINTAR DENGAN MIMPI

18 Feb

Apa sih TIDUR ?

Tidur merupakan keadaan tidak sadar yang relatif lebih responsif terhadap rangsangan internal. Perbedaan tidur dengan keadaan tidak sadar lainnya adalah pada keadaan tidur siklusnya dapat diprediksi dan kurang respons terhadap rangsangan eksternal. Otak berangsur-angsur menjadi kurang responsif terhadap rangsang visual, auditori dan rangsangan lingkungan lainnya. Tidur dianggap sebagai keadaan pasif yang dimulai dari input sensoric walaupun mekanisme inisiasi aktif juga mempengaruhi keadaan tidur. Faktor homeostatik (faktor S) maupun faktor sirkadian (faktor C) juga berinteraksi untuk menentukan waktu dan kualitas tidur.

Tidur memiliki dua tipe. Pertama, tidur gelombang lambat yaitu tidur nyenyak yang terjadi pada jam-jam pertama sesudah terjaga sebelumnya. Tidur tipe ini, aktivitas yang terjadi pada otak sangat kuat dan frekuensinya sangat rendah. Sedangkan yang kedua, tidur REM (Rapid Eye Movement) yaitu tidur yang mengaktifkan pergerakan mata dengan cepat meskipun orang tetap tertidur, dan tidur ini terjadi pada episode-episode tertentu serta hanya meliputi 25% dari seluruh masa tidur.

Mimpi. Pada dasarnya mimpi terjadi pada kedua tipe tidur tersebut, tetapi mimpi yang terjadi memiliki perbedaan yang signifikan. Perbedaan antara mimpi-mimpi yang timbul sewaktu tidur gelombang lambat dan mimpi pada tidur REM adalah bahwa mimpi yang timbul pada tahap tidur REM lebih sering melibatkan aktifitas otot dan menghasilkan mimpi yang sangat aktif. Sedangkan mimpi yang terjadi pada tipe tidur gelombang lambat, biasanya tidak dapat diingat dan juga menghasilkan mimpi buruk. Maka dari itu, karena mimpi pada tidur tipe gelombang lambat tidak dapat diingat, sering dikatakan tipe gelombang lambat disebut “TIDUR TANPA MIMPI”.

Tidur memiliki fungsi yang berbeda. Fungsi tidur adalah restorative (memperbaiki) kembali organ – organ tubuh. Kegiatan memperbaiki kembali tersebut berbeda saat Rapid Eye Movement (REM) dan Nonrapid Eye Movement (NREM) atau tipe tidur gelombang lambat. Nonrapid Eye Movement akan mempengaruhi proses anabolik dan sintesis makromolekul ribonukleic acid (RNA). Rapid Eye Movement akan mempengaruhi pembentukan hubungan baru pada korteks dan sistem neuroendokrin yang menuju otak. Selain fungsi di atas, tidur dapat juga digunakan sebagai tanda terdapatnya kelainan pada tubuh yaitu terdapatnya gangguan tidur yang menjadi peringatan dini keadaan patologis yang terjadi di tubuh.

 

Hubungan TIDUR vs Kecerdasan Otak

Dari semua penjelasan diatas terjadi hubungan yang dapat disimpulkan antara Mimpi dan Proses Kecerdasan Otak. Mimpi yang terjadi pada tipe tidur REM lebih memiliki hubungan erat dengan kecerdasan otak. Karena tidak hanya mengaktifkan seluruh otot tubuh, tetapi juga pada saat tidur REM aktifitas yang terjadi pada otak sangat aktif, dan metabolisme di seluruh otak meningkat sebanyak 20%. Namun, aktifitas otak tidak disalurkan ke arah yang sesuai agar orang itu siaga penuh terhadap keadaan sekelilingnya sehingga, menyebabkan orang tersebut tetap tertidur. Serta, kesimpulan juga didapat dari fungsi tidur REM yaitu terjadinya pemulihan pada korteks yang memang fungsi utamanya adalah mengatur pikiran, memori, dan bahasa.

 

Fakta dan Realita

Mimpi yang dapat mencerdaskan otak sudah dibuktikan dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh psikiatris Sara Mednick. Mednick mengungkapkan, “bahwa tidur dan bermimpi yang melibatkan REM (Rapid Eye Movement) dapat membuat seseorang lebih pintar, meningkatkan ketajaman memory dan menambah kreatifitas.” Mednick menguji sekelompok responden dengan tes analogi kata. Misalnya untuk jawaban keripik : asin, sementara permen : . . ., (manis). Saat jeda sambil menunggu sesi berikut, sambil diawasi, para responden dipersilahkan untuk tidur. Sebagian menunjukkan tidur dengan REM, tanpa REM dan sebagian sama sekali tidak tidur.

Di sesi kedua, peserta yang tertidur dengan REM menunjukan perbaikan perolehan nilai sebesar 40 persen. Sisanya, kata Mednick, termasuk yang tidur tapi tanpa REM, tidak menunjukan peningkatan berarti. “Dari percobaan ini kita mengetahui bahwa tidur dengan REM membantu meningkatkan kemampuan partisipan dalam melihat koneksi antar hal-hal yang nampaknya tidak berhubungan,” tutur Mednick.

Sementara Mednick juga melakukan tes kedua dan ketiga yang berfungsi menguji ingatan para partisipan. Hasil dari sesi ini menunjukkan bahwa tidur dengan REM berperan dalam membantu orang-orang mengikat memori (berupa rangkaian kata) dari tes sebelumnya dan menggunakannya dalam konteks yang berbeda-beda.

Di penelitian terpisah, ilmuwan Universitas Harvard menyimpulkan bahwa tidur nyenyak membantu seseorang berimajinasi dan merencanakan masa depan dengan lebih baik. “Saat membayangkan kejadian di masa mendatang, kita mengkombinasikan berbagai aspek pengalaman yang sudah terjadi,” tutur Daniel Schacter, seorang psikolog dari universitas tersebut. Menurutnya, area di otak yang menangani memori, seperti hippocampus, meningkatkan aktivitas saat seseorang ditanya tentang bayangan masa depannya (interactive brain map).

 

References :

  1. Arif Riadi Arifin, Ratnawati, dan Erlina Burhan. Fisiologi Tidur dan Pernapasan. Jakarta : Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI – SMF Paru RSUP Persahabatan (File PDF)
  2. Arthur C. Guyton, MD, dan John E. Hall, PhD. Buku Ajar FISIOLOGI KEDOKTERAN, edisi 11. Jakarta : EGC
  3. Unduh dari : www.kesehatan-liputan6sctv.com (20 Agustus 2010, 17:19)

Buah Kurma dalam Pandangan Medis

18 Feb

Kurma yang mempunyai nama latin phoenix dactilifera sudah dikenal sejak zaman paleolitik. Kurma merupakan sejenis tanaman palma yang banyak ditanam di daerah jazirah Arab dan sebagian orang menganggap kurma hanya hidup di padang pasir. Namun di daerah lain yang memiliki tinggal kekeringan cukup tinggi, kurma dapat pula hidup.

Menurut Prof Dr Ir Ali Khomsan, MS, kurma memiliki kandungan nutrisi yang berguna bagi tubuh. “Setidaknya gula (glukosa) menjadi komponen utama dengan komposisi yang mencapai 50 persen dari seluruh kandungan buahnya,” katanya. Guru besar IPB ini juga mengatakan, kandungannya lebih besar dibandingkan buah-buahan lainnya yang hanya mencapai 20-30 persen saja.

Pada kurma yang masih lembek (matang di pohon dan belum dijemur) kandungan gulanya sekitar 60%. Sedangkan kurma yang telah dikeringkan kandungannya cukup tinggi, sekitar 70%. Kandungan gula dalam kurma memiliki daya serap yang buruk, sekitar 45-50 menit sehingga waktu untuk pengolahan menjadi nutrisi yang disalurkan ke dalam darah menjadi lumayan lama.

Buah padang pasir ini juga mengandung berbagai vitamin yang diperlukan oleh tubuh. Vitamin A, thiamin, riboflavin, zat besi, vitamin B berada dalam buah kurma. Riboflavin dan niasin misalnya, akan membantu melepaskan energi dari makanan, sementara thiamin membantu melepaskan energi dari karbohidrat. Vitamin A dan niasin memainkan peranan dalam membentuk dan memelihara kulit yang sehat. Thiamin berperan penting bagi sel-sel saraf, sementara niasin menjaga fungsi normal saraf.

Mineral juga sangat banyak ditemukan dalam kurma. Magnesium dan kalium setidaknya berada dalam jumlah yang cukup bisa diandalkan untuk membantu kinerja tubuh menjadi lebih baik. “Banyak juga terkandung serat-serat seperti layaknya buah yang lainnya,” tutur Prof Ali. Menurut beliau, serat tersebut dapat membuat pencernaan menjadi baik. Kandungan kurma membuat usus menjadi lunak dan mengaktifkannya sehingga secara alamiah seseorang secara mudah dapat buang air besar.

Kandungan kalium kurma yang tinggi, menurut Prof Ali sangat menguntungkan jantung dan pembuluh darah. Denyut nadi menjadi semakin teratur dan otot-otot menjadi kontraksi sehingga membantu menstabilkan tekanan darah. Potasium yang tinggi juga ada dalam kurma. Sekedar pengingat saja kalau potasium mempunyai manfaat untuk mengendalikan tekanan darah, membersihkan karbon dioksida dalam darah serta memicu kerja otot dan simpul saraf.

Zat tannin yang tinggi pada kurma dapat digunakan sebagai anti diare. Kurma juga dapat digunakan sebagai obat flu, radang tenggorokan, mengatasi mabuk serta meningkatkan trombosit dalam darah bagi mereka yang terkena demam berdarah. Caranya yaitu dengan memblender 500 gram kurma yang telah dibuang kulitnya, kemudian campur dengan lima gelas air putih sampai halus. Hasil dari blenderan tersebut diminum sebanyak satu gelas tiap satu jam selama sehari.

Mereka yang terkena sakit kepala juga dapat terobati dengan mengkonsumsi buah kurma. Karena ternyata dalam kurma terdapat zat salisilat (suatu zat yang lazim dipakai sebagai bahan baku obat sakit kepala, penghilang rasa sakit hingga demam). Tetapi kurma sebaiknya tidak dimakan oleh mereka yang memiliki penyakit diabetes. Bukannya membaik, kurma akan membuat kadar gula penderita diabetes yang sudah cukup tinggi menjadi lebih tinggi.

Penelitian yang terbaru menyatakan bahwa buah kurma basah mempunyai pengaruh mengontrol laju gerak rahim dan menambah masa systolennya (kontraksi jantung ketika darah dipompa ke pembuluh nadi). Secara kedokteran perempuan hamil yang akan melahirkan itu sangat membutuhkan minuman dan makanan yang kaya akan unsur gula, hal ini karena banyaknya kontraksi otot-otot rahim ketika akan mengeluarkan bayi, terlebih lagi apabila hal itu membutuhkan waktu yang lama. Kandungan gula dan vitamin B1 sangat membantu untuk mengontrol laju gerak rahim dan menambah masa sistolennya (kontraksi jantung ketika darah dipompa ke pembuluh nadi). Dan kedua unsur itu banyak terkandung dalam kurma basah. Kandungan gula dalam kurma basah sangat mudah untuk dicerna dengan cepat oleh tubuh.

Kadar besi dan Kalsium yang dikandung buah kurma matang sangat mencukupi dan penting sekali dalam proses pembentukan air susu ibu. Kadar zat besi dan Kalsium yang dikandung buah kurma dapat menggantikan tenaga ibu yang terkuras saat melahirkan atau menyusui. Zat besi dan Kalsium merupakan dua unsur efektif dan penting bagi pertumbuhan bayi. Alasannya, dua unsur ini merupakan unsur yang paling berpengaruh dalam pembentukan darah dan tulang sumsum.

Kurma basah mencegah terjadi pendarahan bagi perempuan-perempuan ketika melahirkan dan mempercepat proses pengembalian posisi rahim seperti sedia kala sebelum waktu hamil yang berikutnya. Hal ini karena dalam kurma segar terkandung hormon yang menyerupai hormon oxytocine yang dapat membantu proses kalahiran. Hormon oxytocine adalah hormon yang salah satu fungsinya membantu ketika wanita atau pun hewan betina melahirkan dan menyusui. Memudahkan persalinan dan membantu keselamatan sang ibu dan bayinya.

cat : Tugas ESAI kuliah dr. Anwar Wardy, Sp.S

Sumber            : www.almanhaj.or.id/content/2228/slash/0

 

Penyakit Kronik Jakarta

18 Feb

Penyakit kronik adalah penyakit yang dialami selama lebih dari 3 minggu. Penyakit inilah yang dari dulu hingga saat ini dialami oleh Jakarta, penyakit yang tidak bisa di cegah dengan beberapa penatalaksanaan yang sudah dicanangkan oleh pemerintah nasional maupun setempat. Apa penyakit kronik yang dialami Jakarta ? Penyakit kronik yang dialami Jakarta adalah MACET.

Macet adalah permasalah utama Jakarta yang dari dulu hingga saat ini menjadi topik hangat yang dibicarakan, karena hangatnya membuat semua orang yang mengalami macet terbakar emosi  tingkat tinggi. Macet disebabkan oleh banyaknya kendaraan pribadi yang lalu lalang tanpa batas maksimal. Menurut data Badan Pusat Statistik (2006), jumlah kendaraan bermotor tersebut sudah mencapai 7.773.957 unit, terdiri atas mobil 1.816.702 unit, sepeda motor 5.136.619 unit, angkutan barang 503.740 unit, sedangkan bus hanya 316.896 unit.
Sementara itu, luas ruas jalan di Jakarta hanya 27.340.000 meter persegi. Bila semua kendaraan bermotor yang ada di Jakarta saat ini dikeluarkan, ruas jalan yang tersedia itu tidak akan mampu menampung semua kendaraan (http://www.ikman.wordpress.com, Senin, 9 Agustus 2010).

Memang setiap orang memiliki hak untuk memiliki kendaraan pribadi, tetapi kini hak tersebut malah disalah artikan menjadi tren terheboh dalam fashion kendaraan. Setiap orang memiliki satu kendaraan, dan dari satu orang tersebut menjadikan kendaraan sebagai fashion untuk berlomba-lomba memiliki kendaraan terbaru yang sedang in. Padahal mereka tidak memikirkan bahwa kesenangan akan timbul permasalahan. Macet adalah permasalahanya. Segala penatalaksaan sudah dilakukan oleh pemerintah setempat dari darat hingga ke air tetapi kini terbukti gagal menatalaksana macet yang sudah bertahun-tahun dialami Jakarta. Penatalaksanaan darat yang sudah dilakukan oleh pemerintah yaitu Trans Jakarta (Busway) yang telah beroperasi 15 Januari 2004, tetapi kenyataannya GATOT (gagal total). Ruas jalan yang sudah dikhususkan untuk busway kini malah dijadikan ajang tempat untuk menghindari macet kendaraan pribadi, yang lalu lalang seenaknya saja tanpa memikirkan konsekuensi yang akan terjadi. Sedangkan penatalaksanaan air yang dicanangkan tetapi kembali gatot yaitu Waterway yang beroperasi di kali Ciliwung dan telah diresmikan pada 6 Juni 2007 kini gagal mencegah masalah utama Jakarta. Kali Ciliwung sudah tidak digunakan sebagai kali untuk mengoperasikan waterway, malah kali Ciliwung sudah dioperasikan sebagai TPS (tempat pembuangan sampah) air yang pertama di Jakarta dan tempat peternakan penyakit karena banyaknya lalat yang berkembang biak disana. Lalu, apa solusi yang akan mencegah macet kembali ?

Dalam acara berita Seputar Indonesia (07 Agustus 2010, pukul : 12.00) menginformsikan bahwa kini pemerintah telah mencanangkan kembali KRL (kereta listrik) Jabodetabek (info lengkap di http://www.krl.co.id, Senin, 09 Agustu 2010) yang mungkin dapat dijadikan solusi untuk menghindari macet. Saat ini belum ada pembuktian nyata dari solusi terbaru ini, pembuktian solusi akan terwujud beberapa tahun kedepan. Kini timbul pertanyaan lagi, apa beberapa tahun kedepan akan berhasil ? apa jawabannya ? kita tidak tahu.

Penyakit kronis ini sebenarnya dapat ditatalaksana kembali jika pemerintah dan masyarakat memiliki komitmen dua belah pihak, tidak hanya satu pihak. Maksudnya adalah, jika pemerintah memberikan penatalaksanaan untuk macet seharusnya sebagai masyarakat mengikuti wacana dan rencana pemerintah serta peraturan yang ada. Lalu, Apakah kita sebagai masyarakat akan berkomitmen dengan pemerintah ?. Semua pertanyaan yang timbul ini akan terjawab dari diri kita sendiri dan akan terjawab dengan seiringnya waktu.

Penyakit Jantung pada Anak

27 Jan

Skenario
Seorang anak perempuan 10 tahun datang dengan keluhan : bibir dan kuku terlihat kebiruan. Hal ini sudah dialami sejak masa bayi. Bila menangis atau bermain, anak terlihat bertambah biru. Anak sering jongkok bila capek bermain. Pada pemeriksaan fisis didapatkan : perawakan kecil dan kurus. Sianosis terlihat di bibir, ujung lidah, kuku jari tangan dan kaki. Nadi dan tekanan darah normal. Pada pemeriksaan toraks : aktivitas ventrikel kanan meningkat disertai thrill pada LSB 3. BJ 1 dan 2 murni, intensitas mengeras. Terdengar bising ejeksi sistole derajat 3/6 p.m LSB 4. A.Femoralis teraba normal. Pada tangan dan kaki terdapat jari-jari tabuh.

Klarifikasi Istilah

1. Sianosis
Sianosis adalah kebiruan pada kulit dan membran mukosa akibat konsentrasi yang berlebihan
hemoglobin tereduksi dalam darah yang lebih dari 5 g%.

2. Thrill
Thrill adalah sensasi getaran yang dirasakan oleh pemeriksa pada palpasi tubuh, seperti di atas
jantung selama murmur jantung besar dan kasar.

3. Bising Ejeksi Sistole
Bising ejeksi sistolik adalah tipe bising sistolik yang terutama terjadi pada midsistole, ketika volume
ejection dan kecepatan aliran darah pada keadaan maksimum, seperti yang terdengar pada stenosis
aorta dan pulmonal. Bising ini disebabkan oleh penyemburan darah ke dalam cabang aorta atau arteri
pulmonal, merupakan bentuk permata (diamond-shaped), dan berakhir sebelum bunyi jantung kedua.

4. Jari tabuh
Jari tabuh adalah deformitas yang ditimbulkan karena proliferasi jaringan lunak sekitar falang terminal
jari tangan atau kaki, tanpa perubahan oseosa yang konstan.

Sirkulasi Janin
Dari plasenta melalui vena umbilikalis ke hati, darah yang banyak mengandung zat makanan dan oksigen dialirkan ke dalam tubuh janin melalui vena kava inferior dan vena porta menuju atrium dekstra. Dari atrium dekstra masuk ke atrium sinistra melalui foramen ovale. Darah yang berasal dari ventrikel sinistra diedarkan ke seluruh tubuh dan dari ventrikel dekstra melalui arteri pulmonalis menuju paru-paru, karena paru-paru belum bekerja maka darah dari arteri pulmonalis tersebut melalui duktus arteriosus botali masuk ke aorta dan diedarkan ke seluruh tubuh.
Darah yang telah digunakan oleh janin banyak mengandung zat-zat sisa pembakaran dan sisa makanan. Darah ini berjalan melalui arteri iliaka interna masuk ke arteri umbilikalis melalui duktus umbilikalis masuk ke plasenta.

Sirkulasi Newborn
Pada saat lahir, bayi akan segera menangis dengan kuat sambil bernapas sehingga udara akan diisap ke paru-paru. Pada saat itu paru-paru mengembang dan terjadilah perubahan yang besar dalam tubuh bayi. Saat paru-paru mengembang akan menarik darah dari arteri pulmonalis sehingga duktus arteriosus botali tertutup. Pada saat darah mengalir ke paru-paru, oksigen yang terkandung dalam darah akan diisap masuk ke ruang alveoli sedangkan karbondioksida (CO2) akan dikeluarkan oleh paru-paru melalui jalan pernapasan. Darah yang sudah dibersihkan oleh paru-paru akan dialirkan ke vena pulmonalis menyebabkan septum antara atrium dekstra dan atrium sinistra mendapat tekanan yang kuat sehingga klep yang terdapat pada foramen ovale tertutup. Pada saat tali pusat diikat dan dipotong, hubungan peredaran darah antara bayi dan ibu terputus.

PJB dapat dibagi atas 2 golongan besar, yaitu :
1. Penyakit Jantung Bawaan Non-sianotik

a. Defek septum atrium (ASD)
ASD adalah merupakan suatu kedaan dengan adanya hubungan (lubang) abnormal pada
sekat yang memisahkan Atrium kanan dan Atrium kiri. Aliran darah pintas kir ke kanan pada tipe
atrium sekundum dan tipe sinus venosus akan menyebabkan keluhan kelemahan dan sesak napas,
umunya timbul pada usia muda. Kegagalan jantung kanan serta aritmia supraventikular dapat pula
terjadi pada stadium lanjut. Gejala yang sama ditemukan juga pada tipe atrium primum. Namun,
apabila regurgitasi mitral berat, gejala serta keluhan akan muncul lebih berat dan lebih awal. Gejala ini
umumnya ditemukan pada umur 20 – 40 tahun, sebagian kecil yaitu antara 9-15% temukan pada
umur yang lebih tua.
Hasil pemeriksaan fisik yang khas pada tipe ostium sekundum dan tipe sinus venosus adalah
bising sistolik tipe ejeksi pada garis sternal kiri bagian atas, disertai fixed spiliting bunyi jantung II.
Hal ini mengggambarkan penambahan aliran darah melalui katup pulmoner. Kadang – kadang terdapat
juga bising awal diastolik pada garis sternal bagian bawah, bising menggambarkan penambahan aliran
di katup trikuspid.

b. Defek Septum Ventricular (VSD)
VSD adalah merupakan suatu keadaan dengan hubungan (lubang) abnormal pada sekat yang
memisahkan Ventrikel kanan dan Ventrikel kiri.

VSD Kecil
VSD kecil tanpa aliran darah pintas dan gangguan hemodinamik yang berarti Tekanan arteri pulmonsl pada VSD kecil normal, dan memperlihatkan perbandingan aliran pulmoner dengan aliran sistemik < 1,5 : 1. Sebagian besar jenis VSD akan menutup secara alamiah pada umur 3 tahun, sisnya tetap terbuka dan mudah di diagnosis. Hal ini menimbulkan adanya thrill dan bising pansistolik yang keras clan kasar di garis sternal bagian bawah. Foto rontgen dada clan EKG tetap normal pada VSD muskula, bisisng ini berakhir pada saa mid-diastolik, karena penutupan VSD pada saat mid-diastolik.

VSD Sedang
VSD sedang dengan kelainan vaskular pare obstruktif dan sianosis. Pada VSD sedang, tekanan arteri pulmonal < 112 tekanan sistemik clan aliran sirkulasi paru dibandingkan aliran sirkulasi sistemik antara 1,5 : 1 dan 2 : 1. Jenis ini tidak sering di temukan pada orang dewasa karena sering menutup atau menjadi VSD kecil pada umur muda. Aliran darah pintas pada VSD sedang, cukup besar, sehingga bising pansistolik pada gari sternal kiri bawah sering disertai bising mid-sistolik di daerah katup, mitral dan gallop protodiastolik di daerah apeks. Foto rontgen dada menunjukkan kardiomegali dan vaskularisasi yang bertambah, sedang EKG menunjukkan hipertrofi ventrikel kiri.

VSD Besar
VSD Besar dengan stenosis pulmoner yang sulit dibedakan dengan tetralogi Fallot. Tekanan di daerah jantung identik dengan tekanan di jantung kiri aliran sirkulasi sistemik. 2: 1 pintas aliran pintas yang besar seperti ini akan mengakibatkan gagal jantung pada 2-3 bulan. Beberapa pasien dapat hidup dewasa atau dewasa dan vaskular paru obstruktif berat, pulmoner infundibular. Aliran yang sangat minimal atau yang kadang – kadang ditemukan juga memberikan gambaran sindrom Elsen-menger.

c. Duktus arteria paten (PDA)
PDA adalah merupakan suatu keadaan dimana adanya pembuluh darah yang menghubungkan aorta
dan arteri Pulmonal. Duktus Arterious ini normal pada saat bayi dalam kandungan. Oleh karena suatu
hal, maka pembuluh darah ini tidak menutup secara sempurna setelah bayi lahir.
Pada masa janin, PDA merupakan saluran penting bagi aliran darah dari arteri pulmonal kiri ke
aorta desendens, terletak distal dari percabangan arteri subliklavia kiri. PDA sering ditemukan pada
neonatus, tapi secara fungsional menutup pada 24 jam pertama setelah kelahiran, sedangkan secara
anatomik menutup dalam 4 minggu pertama. Bayi prematur lebih banyak yang menderita PDA, 15 % di
antaraya baru dapat menutup dalam 3 bulan pertama. PDA yang tidak menutup daam tiga bulan
pertama, tipis memungkinkannya dapat menutup dikemudian hari.

d. Pulmonary Stenosis (SP)
Defek dengan adanya penyempitan atau obstruksi pada muara Arteri Pulmonalis. Stenosis pulmoner
dapat berbentuk valvular, subvalvular (infundibular) dan supravalvular (peripheral pulmonary artery
stenosis atau coarctatio). Stenosis pulmoner dapat berdiri sendiri, tetapi lebih sering melupakan
bagian sindrom lain, seperti tetralogi Fallot, VSD, dan transporsisi pembuluh darah besar (TPB). Yang
akan di bicarakan disini adalah SP valvular dengan septum interventicular normal. Ketiga jenis
stenosis pulmoner tersebut tersebut akan muncul dengan bising sistolik didaerah garis sternal kiri
atas. Bunyi jantung II terdengar seperti melebar terutama di daerah pinggir sternum, obstruksi
semakin berat. Bising sistolik kasar di interkostal II kiri.
Keluhan yang terjadi biasanya menimbulkan : cepat lelah dispnea, angina, sinkop, dan disfunsi
serebral. Gangguan Hemodinamik : oleh karena adanya obstruksi, maka aliran darah ke paru – paru
berkurang, dan lama – kelamaan akan terjadi hipertrofi ventrikel kanan.

e. Koarsio Aorta (CA)
Koarksio aorta adalah merupakan suatu defek penyempitan setempat dari katup aorta. Bisa
preduktal, juxta-duktus atau post –duktus. Hipertensi akan mengakibatkan sistem kolateral
bertambah. Arten aksilaris kanan melalui arteri mamaria interna. Skapular dan interkostal. Anomali
yang sering di temukan ialah aorta bikuspid dengan segala akibatnya.
Pada bayi, tanda yang nampak adalah gejala gagal jantung kanan/kiri karena ventrikel kanan
berfungsi sebagai ventrikel sistemik yang memompa darah ke aorta distal melalui PDA. Bising sistolik
mungkin ada atau mungkin tidak. EKG pada bayi mungkin menunjukkan RVH, mungkin terjadi
binventrikular hipertrofi. Kram otot bisa terjadi akibat peningkatan aktifitas dari jaringan yang tidak
teroksi-genasi . anak mengalami pening, sakit kepala, pingsan dan mimisan akibat dari hipertensi.
Pada usia dewasa gel T terbalik pada prekardial kiri atau LAD. Biasanya muncul sebagai
hipertensi mulai usia muda, tanpa gagal jantung. Diagnosis dapat ditegakkan apabila ditemukan nadi
fernoral yang lemah dan kecil. Tekanan darah sistolik di daeraqh fernoral lebih lemah daripada
tekanan darah di lengan. Foto rontgen dada biasanya normal, tetapi dapat di temukan iregularitas
dan notching, pada bats inferior atau iga belakang. EKG menunjukkan hipertrofi ventrikel kiri. Hasil
pemeriksaan kateterisasi dan angiograf dapat menyakinkan adanya penyempitan pembuluh darah.

2. Penyakit Jantung Bawaaan Sianotik
a. Tetralogi fallot
Merupakan 4 kumpulan dari efek septum ventrikel, stenosis pulmonal, overriding aorta dan hipertrofi
ventrikel kanan. Pada bayi – bayi (episode sianotik dan hipoksia sering disebut ”Blue Spell” ) spell
terjadi bila kebutuhan oksigen otak melebihi suplainya. Episode ini biasanya terjadi bila bayi menangis
lama, setelah makan mengedan. Bayi – bayi ini lebih menyukai posisi knee chest dari pada posisi
tegak.
Anak – anak tampak sianotis di bibir dan kuku – kuku, keterlambatan tumbuh kembang,
bentuk jari tubuh, tubuh sering dalam posisi jongkok untuk mengurangi hipoksi. Pingsan atau
keterbelakangan mental bisa terjadi akibat hipoksi kronik pada otak. Kejang dapat terjadi setelah
melakukan aktifitas. EKG memperlihatkan hipertrofi ventrikel kanan. Tindakan operasi dianjurkan
untuk semua klien tetralogi fallot. Kateterisasi dan angiografi dibutuhkan untuk konfirmasi diagnosis,
tetapi tertama untuk mengevaluasi struktur anatomik intrakardiak dan hubungannya dengan
pembuluh jantung besar.

b. TGA (Transposition of Great Aterios)
Transposisi Arteri Besar adalah kelainan letak dari aorta dan arteri pulmonalis. Dalam keadaan normal,
aorta berhubungan dengan ventrikel kiri jantung dan arteri pulmonalis berhubungan dengan ventrikel
kanan jantung. Pada transposisi arteri besar yang terjadi adalah kebalikannya. Aorta terletak di
ventikel kanan jantung dan arteri pulmonalis terletak di ventrikel kiri jantung. Darah dari seluruh tubuh
yang kekurangan oksigen akan mengalir ke dalam aorta dan kembali dialirkan ke seluruh tubuh.
Sedangkan darah yang berasal dari paru-paru dan kaya akan oksigen akan kembali dialirkan ke
paru-paru.

Diagnosis Banding

Tetralogi Fallot (TOF)

Tetralogi of Fallot adalah penyakit jantung bawaan tipe sianotik. Kelainan yang terjadi adalah kelainan pertumbuhan dimana terjadi defek atau lubang dari bagian infundibulum septum intraventrikular (sekat antara rongga ventrikel) dengan syarat defek tersebut paling sedikit sama besar dengan lubang aorta. Sebagai konsekuensinya, didapatkan adanya empat kelainan anatomi sebagai berikut :
 Defek Septum Ventrikel (VSD) yaitu lubang pada sekat antara kedua rongga ventrikel
 Stenosis pulmonal terjadi karena penyempitan klep pembuluh darah yang keluar dari bilik kanan
menuju paru, bagian otot dibawah klep juga menebal dan menimbulkan penyempitan
 Aorta overriding dimana pembuluh darah utama yang keluar dari ventrikel kiri mengangkang sekat bilik,
sehingga seolah-olah sebagian aorta keluar dari bilik kanan
 Hipertrofi ventrikel kanan atau penebalan otot di ventrikel kanan karena peningkatan tekanan di
ventrikel kanan akibat dari stenosis pulmonal

Pada penyakit ini yang memegang peranan penting adalah defek septum ventrikel dan stenosis pulmonalis, dengan syarat defek pada ventrikel paling sedikit sama besar dengan lubang aorta. Tetralogi Fallot adalah kelainan jantung sianotik paling banyak yang tejadi pada 5 dari 10.000 kelahiran hidup dan merupakan dua kelainan jantung bawaan nomor 2 yang paling sering terjadi. TF umumnya berkaitan dengan kelainan jantung lainnya seperti defek septum atrial.

GAMBARAN KLINIS
Anak dengan TOF umumnya akan mengalami keluhan :
1. Sesak, biasanya terjadi ketika anak melakukan aktivitas (misalnya menangis atau mengedan)
2. Berat badan bayi tidak bertambah
3. Pertumbuhan berlangsung lambat
4. Jari tangan seperti tabuh gendering/ gada (clubbing fingers)
5. Sianosis/kebiruan : sianosis akan muncul saat anak beraktivitas, makan/menyusu, atau menangis
dimana vasodilatasi sistemik (pelebaran pembuluh darah di seluruh tubuh) muncul dan menyebabkan
peningkatan shunt dari kanan ke kiri (right to left shunt). Darah yang miskin oksigen akan bercampur
dengan darah yang kaya oksigen dimana percampuran darah tersebut dialirkan ke seluruh tubuh.
Akibatnya jaringan akan kekurangan oksigen dan menimbulkan gejala kebiruan. Anak akan mencoba
mengurangi keluhan yang mereka alami dengan berjongkok yang justru dapat meningkatkan resistensi
pembuluh darah sistemik karena arteri femoralis yang terlipat. Hal ini akan meningkatkan right to left
shunt dan membawa lebih banyak darah dari ventrikel kanan ke dalam paru-paru. Semakin berat
stenosis pulmonal yang terjadi maka akan semakin berat gejala yang terjadi.

ETIOLOGI
Kebanyakan penyebab dari kelainan jantung bawaan tidak diketahui, biasanya melibatkan berbagai faktor. Faktor prenatal yang berhubungan dengan resiko terjadinya tetralogi Fallot adalah :
o Selama hamil, ibu menderita rubella (campak Jerman) atau infeksi virus lainnya
o Gizi yang buruk selama
o Ibu yang alkoholik
o Usia ibu diatas 40 tahun
o Ibu menderita diabetes
o Tetralogi Fallot lebih sering ditemukan pada anak-anak yang menderita sindroma Down

Tetralogi Fallot dimasukkan ke dalam kelainan jantung sianotik karena terjadi pemompaan darah yang sedikit mengandung oksigen ke seluruh tubuh, sehingga terjadi sianosis (kulit berwarna ungu kebiruan) dan sesak nafas. Mungkin gejala sianotik baru timbul di kemudian hari, dimana bayi mengalami serangan sianotik karena menyusu atau menangis.

PATOFISIOLOGI
Karena pada tetralogi fallot terdapat empat macam kelainan jantung yang bersamaan, maka :
1. Darah dari aorta berasal dari ventrikel kanan bukan dari kiri, atau dari sebuah lubang pada septum,
sehingga menerima darah dari kedua ventrikel.
2. Arteri pulmonal mengalami stenosis, sehingga darah yang mengalir dari ventrikel kanan ke paru-paru
jauh lebih sedikit dari normal; malah darah masuk ke aorta.
3. Darah dari ventrikel kiri mengalir ke ventrikel kanan melalui lubang septum ventrikel dan kemudian ke
aorta atau langsung ke aorta, mengaabaikan lubang ini.
4. Karena jantung bagian kanan harus memompa sejumlah besar darah ke dalam aorta yang bertekanan
tinggi, otot-ototnya akan sangat berkembang, sehingga terjadi pembesaran ventrikel kanan.

Kesulitan fisiologis utama akibat Tetralogi Fallot adalah karena darah tidak melewati paru sehinggatidak mengalami oksigenasi. Sebanyak 75% darah vena yang kembali ke jantung dapat melintas langsung dari ventrikel kanan ke aorta tanpa mengalami oksigenasi.

KLASIFIKASI/ DERAJAT
TOF dibagi dalam 4 derajat :
1. Derajat I : tak sianosis, kemampuan kerja normal
2. Derajat II : sianosis waktu kerja, kemampuan kerja kurang
3. Derajat III : sianosis waktu istirahat. kuku gelas arloji, waktu kerja sianosis bertambah, ada dispneu.
4. Derjat IV : sianosis dan dispneu istirahat, ada jari tabuh.

DIAGNOSIS
Gejala dan Tanda sebagai berikut :
1. Sianosis, bertambah waktu bangun tidur, menangis atau sesudah makan.
2. Dispneu
3. Kelelahan
4. Gangguan pertumbuhan
5. Hipoksia (timbul sekitar umur 18 bulan)
6. Dapat terjadi apneu.
7. Dapat terjadi kehilangan kesadaran.
8. Sering jongkok bila berjalan 20-50 meter, untuk mengurangi dispneu.
9. Takipneu
10. Jari tabuh dengan kuku seperti gelas arloji
11. Hipertrofi gingiva
12. Vena jugularis terlihat penuh/menonjol
13. Jantung :
• Bising sistolik keras nada rendah pd sela iga 4 line parasternalis kiri/VSD
• Bising sistolik nada sedang, bentuk fusiform, amplitudo maksimum pada akhir sistole berakhir dekat S2
pada sela iga 2-3 lps kiri (stenosis pulmonalis).
• Stenosis pulmonalis ringan : bising kedua lebih keras dengan amplitudo maksimum pada akhir sistole,
S2 kembar.
• Stenosis pulmonalis berat : bising lemah, terdengar pada permulaan sistole. S2 keras, tunggal,
kadang terdengar bising kontinyu pada punggung (pembuluh darah kolateral).
14. Kadang-kadang hepatomegali dengan hepatojugular reflux.

EKG :
• Sumbu frontal jantung ke kanan, Hvka
• Khas untuk TOF : transisi tiba-tiba dari kompleks QRS pada V1 dan V2.
• Pada V1 QRS hampir seluruhnya positif, pada V2 berbentuk rS

Darah :
• Hb dapat sampai 17 gr%
• Haematokrit dapat sampai 50-80 vol%
• Kadang-kadang ada anemia hipokromik relatif.

Radiologis :
• Paru : gambaran pembuluh darah paru sangat berkurang, diameter pembuluh darah hilus kecil, tampak
cekungan pulmonal (karena a. pulmonalis dan cabang-cabangnya hipoplasi).
• Jantung : arkus aorta 75% di kiri dan 25% di kanan, tampak prominen, besar jantung normal, apeks
jantung agak terangkat ke kranial.
• Kosta : tampak erosi kosta bila ada sirkulasi kolateral.

Ekokardiografi :
• VSD subaortik/subarterial besar, kebanyakan pirau kanan ke kiri Over riding aorta <50%
• Stenosis infundibuler dan valvuler
• Hipertrofi ventrikel kanan.
• Penting diukur a.pulmonalis kanan dan kiri

TATALAKSANA
Penderita baru dengan kemungkinan tetralogi Fallot dapat dirawat jalan bilamana termasuk derajat I, II, atau III tanpa sianosis maupun dispneu berat. Penderita perlu dirawat inap, bila termasuk derajat IV dengan sianosis atau dispneu berat.

Tatalaksana penderita rawat inap
1. Mengatasi kegawatan yang ada
2. Oksigenasi yang cukup.
3. Tindakan konservatif.
4. Tindakan bedah (rujukan) :
– Operasi paliatif : modified BT shunt sebelum dilakukan koreksi total : dilakukan pada anak BB 10 kg : tutup VSD + reseksi infundibulum.

5. Tatalaksana gagal jantung kalau ada.
6. Tatalaksana radang paru kalau ada.
7. Pemeliharaan kesehatan gigi dan THT, pencegahan endokarditis.

Tatalaksana Rawat Jalan
Derajat I :
– Medikametosa : tidak perlu
– Operasi (rujukan ) perlu dimotivasi, operasi total dapat dikerjakan kalau BB > 10 kg. Kalau sangat
sianosis/ada komplikasi abses otak, perlu dilakukan operasi paliatif.
– Kontrol : tiap bulan.

Derajat II dan III :
– Medikamentosa : Propanolol
– Operasi (rujukan) perlu motivasi, operasi koreksi total dapat dikerjakan kalau BB > 10 kg. Kalau
sangat sianosis/ada komplikasi abses otak, perlu dilakukan operasi paliatif.
– Kontrol : tiap bulan
– Penderita dinyatakan sembuh bila : telah dikoreki dengan baik.

Pengobatan pada serangan sianosis
a. Usahakan meningkatkan saturasi oksigen arteriil dengan cara :
– Membuat posisi knee chest atau fetul
– Ventilasi yang adekuat
b. Menghambat pusat nafas denga Morfin sulfat 0,1-0,2 mg/kg im atau subkutan
c. Bila serangan hebat bisa langsung diberikan Na Bic 1 meq/kg iv untuk mencegah asidosis metabolik
d. Bila Hb < 15 gr/dl berikan transfusi darah segar 5 ml/kg pelan sampai Hb 15-17 gr/dl
e. Propanolol 0,1 mg/kg iv terutama untuk prolonged spell diteruskan dosis rumatan 1-2 mg/kg oral

Tujuan pokok dalam menangani Tetralogi Fallot adalah koreksi primer yaitu penutupan defek septum ventrikel dan pelebaran infundibulum ventrikel kanan. Umunya koreksi primer dilaksanakan pada usia kurang lebih 1 tahun dengan perkiraan berat badan sudah mencapai sekurangnya 8 kg. Namun jika syaratnya belum terpenuhi, dapat dilakukan tindakan paliatif, yaitu membuat pirau antara arteri sistemik dengan dengan arteri pulmonalis, misalnya Blalock-Tausig shunt (pirau antara A. subclavia dengan cabang A. pulmonalis). Bila usia anak belum mencapai 1m tahun atau berat badan. Orang tua dari anak-anak yang menderita kelainan jantung bawaan bisa diajari tentang cara-cara menghadapi gejala yang timbul :
– Menyusui atau menyuapi anak secara perlahan.
– Memberikan porsi makan yang lebih kecil tetapi lebih sering.
– Mengurangi kecemasan anak dengan tetap bersikap tenang.
– Menghentikan tangis anak dengan cara memenuhi kebutuhannya.
– Membaringkan anak dalam posisi miring dan kaki ditekuk ke dada selama serangan sianosis.

KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita tetralogi Fallot antara lain :
 Infark serebral (umur 2 tahun)
 Polisitemia
 Anemia defisiensi Fe relatif (Ht < 55%)
 Perdarahan oleh karena trombositopenia

PROGNOSIS
Umumnya prognosis buruk tanpa operasi. Pasien tetralogi derjat sedang dapat bertahan sampai umur 15 tahun dan hanya sebagian kecil yang bertahan sampai dekade ketiga.

PDA (Patent Ductus Arteriosus)
Definisi
Patent Ductus Arteriosus (PDA) adalah kelainan bawaan di jantung dimana sebuah ductus arteriosus janin gagal menutup setelah lahir . Gejala awal jarang terjadi, tetapi dalam tahun pertama kehidupan mencakup peningkatan kerja pernapasan dan berat badan miskin. Dengan usia, PDA dapat mengakibatkan kongestif gagal jantung jika dibiarkan tidak dikoreksi.

Etiologi
Patent ductus arteriosus bisa menjadi idiopatik (yaitu tanpa penyebab yang diidentifikasi), atau sekunder untuk kondisi lain. Beberapa faktor-faktor umum pada manusia meliputi :
 Lahir prematur
 Sindrom rubela kongenital
 Kelainan kromosom seperti sindrom Down

Patofisiologi
Normal penutupan ductus arteriosus
Dalam mengembangkan janin , ductus arteriosus (DA) adalah hubungan vaskuler antara arteri pulmonalis dan lengkung aorta yang memungkinkan sebagian besar darah dari ventrikel kanan untuk memotong berisi cairan janin dikompresi paru-paru . Selama perkembangan janin, shunt ini melindungi ventrikel kanan dari pemompaan terhadap resistensi tinggi di paru-paru, yang dapat menyebabkan gagal ventrikel kanan jika DA menutup dalam-rahim.
Ketika baru lahir mengambil napas pertama, paru-paru terbuka dan resistensi pembuluh darah paru menurun. Setelah lahir, paru-paru rilis bradikinin untuk mengkerutkan otot polos dinding DA dan mengurangi bloodflow melalui Jaksa seperti menyempit dan benar-benar menutup, biasanya dalam beberapa minggu pertama kehidupan. Pada bayi baru lahir paling dengan patent ductus arteriosus aliran darah terbalik dari yang di rahim aliran, yaitu aliran darah dari aorta tekanan yang lebih tinggi dengan tekanan sekarang lebih rendah arteri paru.
Pada bayi baru lahir normal, DA secara substansial telah ditutup dalam waktu 12-24 jam setelah lahir, dan benar-benar disegel setelah tiga minggu. Stimulus utama untuk penutupan ductus adalah meningkatnya kandungan oksigen darah neonatal. Penarikan dari ibu beredar prostaglandin juga berkontribusi untuk penutupan duktus. Jaringan parut sisa dari sisa-sisa fibrosis DA, yang disebut arteriosum ligamentum , tetap di jantung dewasa normal.

Ductus Arteriosus Patent
Patent ductus arteriosus, atau PDA, adalah kondisi hati yang normal, tetapi membalikkan segera setelah lahir. Dalam PDA gigih, ada transmisi tidak teratur darah antara dua arteri paling penting dekat dengan jantung, aorta dan arteri paru-paru. Meskipun ductus arteriosus biasanya segel off dalam beberapa hari, di PDA, ductus arteriosus bayi baru lahir tidak menutup tetapi tetap paten. PDA adalah umum pada neonatus dengan masalah pernapasan gigih seperti hipoksia, dan memiliki kejadian tinggi pada anak prematur.Pada bayi baru lahir hipoksia, oksigen terlalu sedikit mencapai paru-paru untuk menghasilkan tingkat kecukupan bradikinin dan penutupan berikutnya dari DA. Prematur anak-anak lebih mungkin hipoksia dan dengan demikian memiliki PDA karena jantung dan paru-paru mereka belum berkembang.
Sebuah patent ductus arteriosus memungkinkan sebagian dari darah oksigen dari jantung kiri mengalir kembali ke paru-paru dengan mengalir dari aorta (yang memiliki tekanan lebih tinggi) ke arteri paru-paru. Jika shunt ini substansial, neonatus menjadi sesak napas: cairan tambahan kembali ke paru-paru paru-paru meningkatkan tekanan ke titik yang neonatus memiliki kesulitan yang lebih besar menggembungkan paru-paru. Ini menggunakan kalori lebih dari biasanya dan sering mengganggu makan pada masa bayi.Kondisi ini, sebagai konstelasi temuan, disebut gagal jantung kongestif .
Dalam beberapa kasus, seperti di transposisi dari pembuluh darah besar (arteri paru-paru dan aorta), PDA mungkin perlu tetap terbuka. Dalam kondisi kardiovaskular, PDA adalah satu-satunya cara yang darah beroksigen dapat bercampur dengan darah terdeoksigenasi. Dalam kasus ini, prostaglandin yang digunakan untuk menjaga paten ductus arteriosus terbuka.

Gejala dan Tanda Klinis :
 Batuk
 Tampak lelah waktu minum susu
 Sesak nafas
 Pertumbuhan fisik yang lambat
 Takipneu
 Sianosis setelah sindro eisenmenger
 Thrill ICS II kiri
 Hipertensi Pulmonal
 S2 mengeres
 Bising diastolik lemah atau hilang
 Kadang-kadang terdapat gagal jantung : machinery murmur, tekanan nadi besar (water hammer
pulse) dan ujung jari hiperemik

Diagnosis
PDA biasanya didiagnosis dengan menggunakan teknik non-invasive, yaitu :
• Echocardiography , di mana gelombang suara yang digunakan untuk menangkap gerakan jantung,
dan terkait Doppler penelitian adalah metode utama untuk mendeteksi PDA. Elektrokardiografi (EKG),
di mana elektroda digunakan untuk merekam dengan listrik aktivitas jantung, tidak secara khusus ' bermanfaat karena tidak ada irama tertentu atau pola-pola ECG yang dapat digunakan untuk
mendeteksi PDA.
• Pemeriksaan dada X-ray mengungkapkan ukuran keseluruhan hati neonatus (sebagai refleksi dari
massa gabungan dari ruang jantung) dan munculnya aliran darah ke paru-paru. Sebuah kecil PDA
paling sering menunjukkan hati yang berukuran normal dan aliran darah normal ke paru-paru. Sebuah
PDA besar umumnya menunjukkan siluet jantung membesar dan meningkatnya aliran darah ke
paru-paru.

Penatalaksanaan
 Tindakan pembedahan dilakukan secara elektif (sebelum masuk sekolah)
 Tindakan pembedahan dilakukan lebih dini bila terjadi :
o Gangguan pertumbuhan
o Infeksi saluran pernafasan bagian bawah berulang
o Pembesaran jantung/payah jantung
o Endokarditis bakterial (6 bulan setelah sembuh)
 Indikasi kontra tindakan pembedahan :
o Pirau yang berbalik (dari kanan ke kiri)
o Hipertensi pulmonal
 Tindakan pembedahan ditunda minimal 6 bulan bila terjadi endokarditis
 Kateterisasi intervensi, penutupan PDA dengan :
o Koil Gianturco pada PDA kecil,diameter < 3 mm
o Amplatzer Ductal Occluder (ADO) pada PDA sedang-besar.
 Atasi secara farmakologis keadaan-keadaan yang menyertai PDA :
o Infeksi
o Payah jantung
o Gangguan gizi/anemia.

Terapi Medikamentosa PDA pada Bayi Prematur :
Indikasi terapi :
o Bayi prematur umur 1,2 Obat yang dipakai : Indomethasin 0,2 mg/kg/dosis
p.o atau i.v. 1x sehari selama 3 hari berturut-turut.
o Ibuprofen 10 mg/kg/dosis p.o.1 x sehari selama 3 hari berturut-turut. Syarat pemberian
Indomethasin/ibuprofen : trombosit cukup, tidak ada perdarahan gastrointestinal atau tempat lain,
fungsi ginjal normal.

Komplikasi
– Endokarditis
– Obstruksi pembuluh darah pulmonal
– CHF

Prognosis
Tanpa perawatan, penyakit ini bisa berkembang dari kiri-ke-kanan (hati noncyanotic) shunt. Shunt ke kanan-ke-kiri (jantung sianosis) disebut sindrom Eisenmenger.

TGA (Transposition Great Arteriosus)
Definisi
Transposisi Arteri Besar adalah kelainan letak dari aorta dan arteri pulmonalis. Dalam keadaan normal, aorta berhubungan dengan ventrikel kiri jantung dan arteri pulmonalis berhubungan dengan ventrikel kanan jantung. Pada transposisi arteri besar yang terjadi adalah kebalikannya. Aorta terletak di ventikel kanan jantung dan arteri pulmonalis terletak di ventrikel kiri jantung.
Darah dari seluruh tubuh yang kekurangan oksigen akan mengalir ke dalam aorta dan kembali dialirkan ke seluruh tubuh. Sedangkan darah yang berasal dari paru-paru dan kaya akan oksigen akan kembali dialirkan ke paru-paru.
Transposisi arteri besar dikelompokkan ke dalam kelainan jantung sianotik, dimana terjadi pemompaan darah yang kekurangan oksigen ke seluruh tubuh, yang menyebabkan sianosis (kulit menjadi ungu kebiruan) dan sesak nafas. Bayi dengan kelainan ini, setelah lahir bisa bertahan sebentar saja karena adanya lubang diantara atrium kiri dan kanan yang disebut foramen ovale.
Foramen ovale ini dalam keadaan normal ditemukan pada bayi ketika lahir. Dengan adanya lubang ini, maka sejumlah kecil darah yang kaya akan oksigen akan mengalir dari atrium kiri ke atrium kanan, lalu ke ventrikel kanan dan ke aorta sehingga mampu memenuhi kebutuhan tubuh akan oksigen dan bayi tetap hidup.

Etiologi
Penyebab dari kebanyakan kelainan jantung bawaan tidak diketahui. Faktor-faktor prenatal (sebelum bayi lahir) yang berhubungan dengan transposisi arteri besar adalah :
• Rubella (campak Jerman) atau infeksi virus lainnya pada ibu hamil
• Nutrisi yang buruk selama kehamilan
• Ibu yang alkoholik
• Usia ibu lebih dari 40 tahun
• Ibu menderita diabetes.
Transposisi arteri besar terjadi pada 40 dari 100.000 bayi. Kelainan ini merupakan kelainan jantung sianotik yang paling sering ditemukan pada minggu pertama kehidupan seorang bayi.

Manifestasi Klinis
• Sianosis sejak lahir.
• Tanda-tanda gagal jantung kongestif yang sudah muncul sejak minggu-minggu pertama kelahiran
• Pasien terlihat takipneu dan seringkali disertai retraksi.
• Bunyi jantung S2 keras dan tunggal. Murmur tidak terdengar pada TGA tanpa VSD. Adanya
• VSD akan menyebabkan murmur sistolik (regurgitan), sedangkan adanya PS akan menyebabkan bunyi
murmur sistolik ejeksi
• Hepatomegali dapat ditemukan pada TGA dengan CHF.
• Hipoksemia pada pasien tidak akan responsif terhadap pemberian oksigen. Hipoglikemia dan
hipokalsemia sering pula ditemukan pada pemeriksaan laboratorium.

Pemeriksaan Penunjang
EKG
• Aksis QRS rightward (+90 sampai +270)
• RVH, dengan adanya upright gel. T di V1
• Combined ventricular hipertrophy (CVH) dapat terlihat pada pasien yang disertai dengan VSD besar,
PDA, atau PVOD.
• Kadangkala ditemukan RAH

Foto Ro Toraks
• Gambaran siluet jantung yang “egg-shaped”
• Seringkali ditemukan kardiomegali dan vaskulerisasi paru yang meningkat.

Ekokardiografi
• Parasternal long axis : pembuluh darah besar yang terletak posterior memiliki sudut dan mengarah ke
paru (PA). Pada bagian proksimal terlihat kedua pembuluh arteri besar berjalan sejajar, berbeda
dengan jantung normal yang saling menyilang.
• Parasternal short-axis : terlihat gambaran “double-circle” pada penampakan dua pembuluh arteri
besar, berbeda dengan normal yang “circle and sausage”. PA berada di sentral sedangkan aorta
terletak di anterior dan ke kanan terhadap PA.
• Apical dan subcostal five-chamber : terlihat bahwa PA keluar dari LV dan aorta dari RV.
• Adanya kelainan penyerta seperti VSD, ASD, PDA, LVOTO, maupun PS dapat diketahui dari
pemeriksaan ini.
• Anatomi dan distribusi arteri koroner diketahui melalui pandangan parasternal dan apikal.
• Tindakan BAS lebih lebih mudah divisualisasi melalui pandangan subkostal.

Daftar Pustaka
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku PATOFISIOLOGI. Jakarta : EGC
David Hull & Derec I. 2008. Dasar-dasar Pediatric, edisi 3. Jakarta : EGC
Hidayat, Alimul Aziz.2008.Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Jakarta: EGC
Iseelbacher, dkk. 2000. Harrison Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : EGC
Markam, Soemarno,dkk.2008.KAMUS KEDOKTERAN UI Edisi Kelima. Jakarta :
Balai Penerbit FKUI
Syaifuddin. 2009.Anatomi Tubuh Manusia.Jakarta: Salemba Medika
Yahya Akhyar Iskandar. 2010. Tetralogi Fallot. Pekanbaru, Riau : Files of DrsMed – FK UNRI
(http://www.Files-of-DrsMed.tk)

BUAH TANGAN UNTUK BUYUT (Konsep Pola Tidur dalam Mencegah, Mengurangi dan Mengendalikan Penyakit Alzheimer)

21 Nov

Apa sih definisi TIDUR secara fisik dan ilmiah ?

Secara fisik, tidur adalah kesempatan bagi tubuh untuk memperbaiki sel-sel, organ-organ, dan sistem kerja tubuh agar bekerja lebih prima. Sedangkan secara ilmiah (berdasarkan Ilmu Kedokteran), didefinisikan sebagai suatu keadaan bawah sadar saat orang tersebut dapat dibangunkan dengan pemberian rangsang sensorik atau rangsang lainnya. Dilihat dari kedua definisi tersebut dapat diketahui, bahwa tidur merupakan proses yang paling penting bagi tubuh yang tidak bisa digantikan begitu saja.

Tidur memiliki kaitan yang erat dengan persarafan yang terjadi di otak. Otak merupakan organ yang sangat vital bagi kelangsungan hidup manusia. Betapa tidak, didalam otak terkandung 100 miliar saraf yang terhubung dengan 10.000 saraf lainnya, salah satu diantaranya yaitu sistem saraf pusat. Otak memiliki fungsi sebagai pengatur gerakan dan proses homeostasis (keseimbangan) yang terjadi dalam tubuh. Otak juga mengkordinir seluruh perilaku yang dilakukan oleh manusia seperti emosi yang dikeluarkan, serta segala bentuk yang berhubungan dengan pembelajaran seperti menghitung, berbahasa, dan mengingat. Maka dari itu, ketepatan pola tidur dan keseimbangan waktu yang dibutuhkan untuk tidur harus benar-benar dijaga.

Betapa banyak orang yang harus mengeluarkan materi jutaan hanya untuk mendapatkan aktivitas tidur. Karena itu orang yang dapat tidur nyenyak tanpa gangguan apapun, merupakan nikmat besar yang harus disyukuri. Namun tidak selamanya tidur memiliki manfaat jika dilakukan secara sembarangan. Justru banyak masalah timbul diakibatkan aktivitas tidur yang tidak tepat. Banyak masyarakat umum yang meremehkan pola tidur yang tepat dan seimbang dalam kehidupannya sehari-hari, bagi mereka kurang tidur adalah kebanggaan tersendiri dalam hidup untuk mencapai kesuksesan. Tapi sebenarnya sangkaan tersebut sangat fatal jika kebiasaan kurang tidur dilakukan sepanjang hari. Menurut Dr. Chris Drake, peneliti senior Henry Ford Hospital Sleep Disorders and Research di Detroit sebagaimana dikutip Health Day News mengatakan, “Seseorang yang tidur hanya enam jam atau kurang akan mengalami banyak masalah”. Bahkan kekurangan tidur juga mengakibatkan penyakit bagi kesehatan dan mengganggu kejiwaan pelakunya.

Keadaan tidur menyebabkan timbulnya dua macam efek fisiologis utama : pertama, efek pada sistem sarafnya sendiri, dan kedua, efek pada sistem fungsional tubuh lainnya. Contoh efek yang ditimbulkan tidur pada sistem saraf, khususnya sistem saraf pusat yaitu korteks jika kekurangan tidur adalah timbulnya gangguan proses berpikir yang progresif, dan kadang-kadang bahkan menyebabkan aktivitas perilaku yang abnormal. Karena selama tidur, korteks (bagian otak yang antara lain mengatur pikiran, memori, dan bahasa) melepaskan diri dari pancaindera dan mengalami pemulihan. Semakin banyak membutuhkan pemulihan, maka semakin banyak pula membutuhkan tidur. Hal ini tampaknya seperti “pulih asal” (“rezeroing”) pada sebuah komputer yang aktivitas listriknya analog dengan otak, yang dipakai terus menerus secara bertahap akan kehilangan “base line” kerjanya. Sedangkan, salah satu contoh efek yang ditimbulkan pada sistem fungsional tubuh lainnya jika kekurangan tidur adalah mudahnya seseorang mengalami serangan jantung dan stroke, karena pada saat kurang tidur berkaitan erat dengan peningkatan tekanan darah.

 

 

Kekurangan Tidur vs Penyakit Alzheimer

Sebelum mengetahui apa hubungan dari keduanya, terlebih dahulu kita harus mengetahui apa itu Penyakit Alzheimer ?

Alzheimer atau disebut juga kepikunan merupakan suatu gangguan fungsi saraf otak yang kompleks dan tidak dapat balik yang dicirikan dengan kemerosotan secara perlahan dari ingatan, penalaran, bahasa, dan fungsi fisik (Santrock, 1995). Alzheimer paling banyak timbul terutama pada orang berusia 65 tahun ke atas. Penyakit ini tidak termasuk penyakit yang dapat menular, tetapi Alzheimer digolongkan ke dalam salah satu dari jenis nyanyuk (dementia) yang dicirikan dengan melemahnya percakapan, kewarasan, ingatan, pertimbangan, perubahan kepribadian, dan tingkah laku yang tidak terkendali. Maka dari itu, seseorang yang menderita penyakit Alzheimer membutuhkan seorang perawat untuk mengurus semua kebutuhannya.

Ada 10 gejala yang ditentukan oleh Alzheimer Disease and Related Disorders Association yang sering muncul pada penderita, yaitu :

  1. Hilang ingatan
  2. Sulit untuk mengerjakan tugas yang familiar
  3. Bermasalah dengan bahasa,
  4. Disorientasi waktu dan tempat
  5. Lemah atau kurang baik dalam mengambil keputusan
  6. Bermasalah dengan pemikiran abstrak
  7. Salah menempatkan segala sesuatu
  8. Perubahan mood atau tingkah laku
  9. Perubahan kpribadian
  10. Kehilangan inisiatif

 

Semua gejala yang terjadi pada penderita Alzheimer tersebut terjadi, karena adanya kerusakan pada sistem saraf pusat. Sistem saraf pusat terdiri dari otak (enchepalon) dan sumsum tulang belakang (medula spinalis). Dalam hal ini, sistem saraf pusat yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer yang juga sesuai dengan definisi diatas adalah otak. Hubungan yang terjadi dengan kurang tidur yaitu bahwa ketika kurang tidur dilakukan secara terus menerus akan mengakibatkan kerusakan pada saraf-saraf otak. Padahal pada konsep yang seharusnya, otak diharuskan mendapatkan proses pemulihan seperti penjelasan diatas. Maka dari itu, ketika kerusakan saraf-saraf otak terjadi maka akan mudah mengakibatkan penyakit sistem saraf pusat salah satunya yaitu penyakit Alzheimer. Bagian-bagian otak yang mengalami kerusakan pada penderita Alzheimer yaitu korteks serebi, hipokampus, ganglia basalis, talamus, dan bahkan serebelum. Dari kerusakan itulah timbul berbagai macam gejala yang telah disebutkan diatas tadi.

Maka dari itu, solusi untuk mencegah, mengendalikan, dan mengurangi penyakit Alzheimer yaitu dengan melaksanakan pola tidur yang tepat dan seimbang agar terhasil tidur yang nyenyak dan terhindar dari kurang tidur yang berlebihan agar menghasilkan proses pemulihan bagi otak. Kini timbul pertanyaan, bagaimana menciptakan pola tidur yang tepat dan seimbang ?

 

Konsep Pola Tidur Tepat dan Seimbang

Untuk sehat, bukan berarti mengharuskan tubuh kita untuk mengkonsumsi obat-obatan. Tapi tahukah Anda, ada salah satu resep selain obat yang sangat mujarab untuk mencegah, mengurangi, dan mengendalikan penyakit Alzheimer. Jawabannya adalah TIDUR dengan konsep yang tepat dan seimbang. Konsep pola tidur tepat dan seimbang adalah solusi utama yang paling tepat untuk mencegah, mengurangi, dan mengendalikan penyakit Alzheimer, baik bagi penderita atau seseorang yang belum terserang. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa TIDUR dan penyakit Alzheimer memiliki kaitan yang sangat erat dari segi kesehatan otak.

Keseimbangan pola tidur dapat dilakukan dengan memperoleh waktu tidur malam dan siang. Menurut para ahli, keseimbangan pola tidur terhasil jika seseorang mendapatkan waktu tidur malam sebanyak 7-8 jam/hari. Namun, waktu ini pun masih relatif, sebab ada orang yang membutuhkan tidur pada malam hari hanya 6 jam. Untuk mengetahui berapa lama waktu tidur yang dibutuhkan dalam sehari, kita harus berusaha memahami keinginan tubuh untuk mendapatkan istirahat cukup. Keseimbangan waktu tidur malam menurut suatu penelitian di Swiss, bahwa tidur malam dapat memperkuat hubungan antar sel-sel saraf, dimana pada otak terjadi proses belajar dan mengingat.

Selain keseimbangan waktu tidur malam, tidur siang juga sangat baik bagi  kesehatan otak. Menurut suatu penelitian yang dilakukan di AS, tidur siang selama 30 menit atau satu jam pada siang hari akan menjaga stamina kesehatan fisik dan mental. Tidur siang juga dapat mengaktifkan otak untuk selalu menyimpan informasi secara cepat, meningkatkan kewaspadaan, produktivitas, dan suasana hati.

Selain dengan keseimbangan waktu pola tidur, ketepatan pola tidur juga sangat berpengaruh bagi kenyenyakan tidur sehingga bedampak positif bagi kesehatan otak. Ketepatan pola tidur dapat terhasil dengan beberapa cara, yaitu :

1. Perhatikan Udara Sekitar

Udara sangat berperan bagi kesehatan sistem pernapasan, ketika tidur sistem pernapasan adalah sistem yang terpenting yang dibutuhkan saat tidur. Maka dari itu, kamar harus mendapatkan kategori sebagai kamar sehat. Kamar sehat adalah kamar yang memiliki jendela yang cukup. Setiap pagi sebaiknya jendela kamar dibuka agar sirkulasi udara di dalam kamar menjadi lancar. Kelancaran sirkulasi udara amat diperlukan.

Biasakan membuka jendela di pagi hari, untuk penggantian udara dalam ruang dengan udara segar yang baik untuk kesehatan. Agar cahaya matahari bisa menyelinap ke kamar, buka tirai sebelum tidur malam. Jadi begitu matahari terbit, cahayanya masuk dan memberi tanda bahwa sudah waktunya untuk bangun.

 

2. Tenangkan Diri

Tidur adalah tempat untuk mengistirahatkan tubuh dan otak. Saat tidur kita membutuhkan ketenangan untuk mendapatkan kenyenyakan tidur. Hilangkan semua konflik yang telah terjadi sebelum melakukan tidur, karena jika otak selalu terbebani dengan konflik tentu saja akan menimbulkan depresi yang semakin kuat dan ketenteraman juga semakin sulit diraih. Menutup mata sebentar atau tarik napas beberapa kali sangat berguna untuk menetralisasi kegelisahan yang melanda.

 

3. Waspada Telivisi

Saat ini tayangan telivisi sangat berperan penting bagi ketenangan tidur. Karena ketika tayangan televisi benar-benar melekat di otak, otak akan mengelolahnya menjadi sebuah memori yang akan diaktifkan kembali pada saat tidur dalam sebuah mimpi dan pada akhirnyan akan mengganggu kenyenyakan tidur. Maka dari itu, gunakan televisi se-efektif mungkin dengan memilih tayangan yang tidak ada pengaruhnya terhadap kenyenyakan tidur, kurangi jam menonton saat akan beranjak tidur atau lebih baik jangan meletakkan televisi di dalam ruang tidur.

 

4. Cek Kenyamanan Ruang Tidur

Ketidak nyamanan tidur adakalanya terjadi dari faktor eksternal seperti ruangan yang tidak enak dilihat mata. Penataan ruang tidur sangat berperan penting bagi kenyamanan tidur, karena penataan ruang tidur yang kuarang baik akan menciptakan masalah tidur. Maka dari itu, tata ruang tidur sesuai faktor terpenting dari ruang tidur dan kesesuaian orang yang menempati ruang tidur itu sendiri. Misalnya, ruang tidur untuk anak-anak lebih diarahkan pada suasana kamar yang ceria sehingga akan mengaktifkan imajinasi otak pada anak.

Kenyamanan tidur juga dapat diperolah dengan selalu membersikan kamar tidur dan semua yang ada di dalamnya. Dalam ilmu kesehatan, kebersihan tidur bukan hanya sekedar sprei bersih, melainkan kondisi yang akan membantu kita menciptakan atmosfir “istirahat aman” sehingga bisa tidur nyenyak dan terbangun dengan tubuh segar bugar.

 

5. Olahraga sebagai Relaksasi

Gaya hidup sehat sangat dianjurkan agar mudah mendapatkan tidur berkualitas, di antaranya dengan berolahraga. Olahraga untuk mendapatkan aktifitas tidur yang baik tidak harus mengeluarkan keringat, tetapi cukup hanya jalan kaki. Jalan kaki dapat mengaktifkan kinerja jantung yang sangat baik untuk meregangkan tubuh dan membuat rileks. Kegiatan olahraga juga ampuh membantu melancarkan peredaran darah ke seluruh tubuh, termasuk ke otak. Dengan begitu, otak akan mendapatkan suplai oksigen yang dibutuhkan untuk berfungsi dengan baik. Sehingga bisa membuat kualitas tidur lebih baik. Olahraga paling baik dilakukan pada pagi hari. Olahraga inilah yang dapat menghasilkan kenyenyakan tidur.

 

6. Tidur Tepat Waktu

Dalam hal ini, disipilin dalam waktu tidur memang perlu diterapkan seawal mungkin agar tidak menjadi sebuah kebiasaan yang berakibat pada peremehan jadwal tidur. Menurut Prof. Howard Friedman yang terlibat dalam penelitian tim Universitas California mengatakan, “orang yang terbiasa dengan pola hidup teratur dan disiplin tidak hanya memiliki kesehatan yang prima tetapi juga memiliki pekerjaan dan pernikahan yang stabil. Dengan karakter disiplin dan sifat teratur yang dimilikinya, umumnya kehidupan mereka lebih baik, jarang mengalami stress.” Jadi pastikan untuk selalu tidur tepat waktu sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan.

 

7. Jangan Makan Berlebihan

Dengan mengkonsumsi makanan, berarti membuat sistem pencernaan aktif bekerja saat organ tubuh sudah siap untuk beristirahat (tidur). Kegelisahan yang ditimbulkan oleh kelebihan ekstrakalori di malam hari, dapat memperburuk sistem saraf. Maka dari itu, menjaga pola makan sangat berperan penting untuk menjaga kenyamanan tidur karena jika makan berlebihan beberapa jam sebelum tidur akan menggangu kenyenyakan tidur dan akhirnya membuat kegelisahan.

8. Batasi Berponsel

Pada suatu penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Wayne State University di Detroit, Amerika Serikat dan Karolinska Institute di Swedia, menyebutkan bahwa menggunakan ponsel menjelang tidur akan mengurangi kualitas tidur. Sakit kepala, rasa lelah saat bangun tidur serta insomnia adalah efek dari menggunakan ponsel menjelang tidur. Penggunaan ponsel juga sebenarnya mempengaruhi perubahan spesifik pada bagian otak yang mengatur sistem penanganan stress. Tidak hanya dapat menimbulkan stress tetapi juga dapat membuat sikap menjadi lebih agresif dan cepat emosi. Maka dari itu, solusi yang tepat untuk menghindarinya yaitu dengan mematikan ponsel menjelang waktu tidur.

Keseimbangan dan pola tidur yang tepat tersebutlah yang dapat mengoptimalkan kinerja saraf-saraf otak sehingga dapat mencegah, mengurangi, dan mengendalikan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan otak, salah satunya yaitu penyakit Alzheimer. Maka dari itu, mengubah pola tidur menjadi pola tidur yang tepat dan seimbang adalah suatu pola hidup yang harus dilakukan oleh setiap individu.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Riadi, Arif, dkk. 2010. Fisiologi Tidur dan Pernapasan, File PDF. Jakarta:

Departemen Pumonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI

Corwin, J, Elizabeth. 2009. Buku Saku PATOFISIOLOGI. Jakarta : EGC

Hasan, F, Abdillah. 2010. The Power of Tidur. Jakarta : PT. Buku Kita

Guyton, C, Arthur, dan Hall, E, John. 2009. Buku Ajar FISIOLOGI KEDOKTERAN, edisi 11. Jakarta : EGC

 

Unduh :

Artikel dari www.wikipedia.org/alzheimer/. Selasa, 21-09-2010, 15:00 WIB

Blog dari www.Day’sBlog.wordpress.com. Sabtu, 25-09-2010, 20:00 WIB

STRATEGI POLA HIDUP UNTUK MENCEGAH KANKER

1 Okt

Apa itu KANKER ?

Kanker merupakan penyakit atau kelainan pada tubuh sebagai akibat dari sel-sel tubuh yang tumbuh dan berkembang abnormal, diluar batas kewajaran dan sangat liar serta kerap kali menyebar jauh ke sel jaringan lain dengan merusaknya. Sedangkan kanker dalam pengertian masyarakat umum adalah suatu benjolan yang timbul pada bagian organ tertentu yang menyebabkan kematian. Kanker juga terkenal sebagai salah satu penyebab utama kematian di negara berkembang maupun di negara maju. Di Indonesia kanker adalah salah satu penyebab kematian yang menduduki peringkat ke-7 dari beberapa penyakit lain.

Kanker dapat terjadi di berbagai jaringan dalam berbagai organ di setiap tubuh, mulai dari kaki sampai kepala. Sel kanker dapat berasal dari semua unsur yang membentuk suatu organ. Sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangbiakannya, sel-sel kanker membentuk suatu massa dari jaringan ganas yang menyusup ke jaringan di dekatnya dan atau bisa menyebar (metastasis) ke organ tubuh lainnya.

Sel-sel menjadi kanker melalui proses rumit yang disebut transformasi, yang terdiri dari tahap inisiasi dan promosi. Awalnya kanker mengalami proses inisiasi, dimana bahan genetik berubah, yang akan menjadi kanker. Perubahan dapat terjadi secara spontan atau diakibatkan oleh suatu unsur (agen) yang disebut karsinogen. Zat karsinogen dapat berupa zat kimia, makanan tertentu, virus, radiasi, dan sinar ultraviolet, serta faktor mental (psikis). Selanjutnya sel mengalami tahap promosi, yaitu proses induksi tumor pada sel sebelumnya telah diinisasi atau diinduksi oleh zat kimia. Pada tahap promosi, suatu sel yang telah mengalami inisiasi berubah menjadi ganas. Sel yang belum melewati tahap inisiasi tidak akan terpengaruh oleh promosi. Karena itu diperlukan beberapa faktor untuk terjadinya keganasan (gabungan dari sel yang peka dan suatu karsinogen). Dari kedua proses inilah sel tumor menjadi sel tumor ganas yang akhirnya disebut kanker.

Dalam hal ini, zat karsinogen dan faktor mental (psikis) sebagai bagian dari faktor penyebab kanker yang sering ditemukan di lingkungan sekitar dan dalam diri seseorang dapat tercegah jika pengaturan pola hidup yang tepat menjadi prioritas utama dalam hidup orang itu sendiri. Karena jika seseorang menjaga pola hidup yang tepat maka akan terjadi pencegahan awal yang efektif untuk tidak memacu perkembangan sel kanker dalam tubuh yang disebabkan oleh kedua penyebab kanker tersebut. Lalu, “Bagaimana pola hidup yang tepat untuk mencegah terjadinya kanker yang disebabkan oleh Zat Karsinogen dan mental (psikis) ?”

Upaya pencegahan kanker sangatlah besar manfaatnya dan patut untuk dilakukan, sekalipun kanker akan tetap tumbuh pada orang-orang tertentu. Upaya pencegahan awal untuk kanker sebenarnya sangat mudah untuk dilakukan, karena pencegahan ini sangat berkaitan erat dengan pola hidup sehari-hari, yaitu :

1. Mengatur Pola Makan

Mengatur pola makan berguna untuk mewujudkan pola makan yang seimbang dan sehat. Mengatur pola makan dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :

a. Mengatur waktu makan dengan tepat. Makan tepat waktu berguna untuk menghindari pola makan yang berlebihan, karena makan yang berlebihan akan mengganggu organ pencernaan (usus) dalam menjalani tugasnya sebagai penghancur makanan menjadi keletihan dan menyebabkan makanan membususk dalam perut yang akhirnya dapat menimbulkan kanker usus. Waktu makan yang tepat untuk mendapatkan makanan yang seimbang dan sehat yaitu pola makan yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW, yaitu “Kami adalah orang-orang yang tidak makan, kecuali setelah lapar, dan bila makan, kami tidak sampai kenyang.”

Inilah mukjizat yang telah difirmankan oleh Allah SWT dalam al-Qur’an bagi dunia kesehatan, yang artinya :

. . . Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. al-A’raf : 31)

b. Menghindari makanan yang mangandung lemak berlebih, karena lemak memiliki zat yang dapat menimbulkan kanker yaitu asam linolat. Asam linolat lebih banyak terdapat pada beberapa jenis minyak nabati, seperti minyak jagung dan minyak bunga matahari.

c. Mengkonsumsi vitamin E dan C dapat mencegah timbulnya kanker lambung, dan vitamin A dapat mencegah timbulnya kanker kulit dan payudara. Tetapi untuk vitamin A mempunyai kadar tertentu, karena memberikan kadar vitamin A yang besar dapat melemahkan tulang dan mengganggu fungsi hati.

d. Mengkonsumsi serat secara kontinue dapat memberi manfaat bagi tubuh. Serat dalam makanan dapat ditemukan pada biji-bijian, jamur, biji-bijian yang tidak dikupas kulitnya seperti gandum, rida, lupine, hulbah, adas, dan kacang tanah serta sayuran dan buah-buahan, seperti kol, kubis, seledri air, apel, alpukat, dan anggur.

e. Mengkonsumsi gula alami yang dapat dikonsumsi dari madu, umbi, kentang, dan roti daripada mengkonsumsi unsur gula sederhana, misalnya sukrosa yang biasa digunakan untuk minum teh atau kopi.

f. Mengubah kebiasaan mengkonsumsi makanan dibakar bara atau digoreng, memasak makanan berulang kali, mengkonsumsi makanan lama atau sisa kemarin, dan memakan rempah-rempah yang sudah diproduksi oleh pabrik.

2. Mengatur Pola Ruang dengan Tepat

Upaya mengatur pola ruangan yang tepat berkaitan dengan meletakkan alat-alat elektronik yang memberikan radiasi gelombang elektromagnetik untuk tidak diletakkan didalam kamar tidur.

Meletakkan alat-alat elektronik didalam kamar tidur akan mengakibatkan kanker otak dikarenakan pemancaran radiasi gelombang elektromagnetik yang berlebihan dapat menimbulkan sulit tidur, resah dan bahkan tidak bisa tidur, serta kerusakan pada saraf-saraf otak. Maka dari itu, letakkan alat elektronik pada tempat yang terpisah atau jika tetap meletakkan alat elektronik didalam kamar tidur, matikan secara total agar radiasi gelombang elektomagnetik yang ditimbulkan tidak terpancar.

3. Menjaga Kebersihan

Menjaga kebersihan merupakan hal yang sudah ditanamkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya yang artinya :

Janganlah kamu salat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba’), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu salat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (QS. at-Taubah : 108)

Dan juga dalam sabda Rasulullah SAW, yang artinya :

Jagalah kebersihan dengan segala usaha yang mampu kamu lakukan. Sesungguhnya Allah menegakkan Islam di atas prinsip kebersihan. Dan tidak akan masuk syurga, kecuali orang-orang yang bersih.” (HR. Thabrani dari Abu Hurairah)

Dari kedua pedoman tersebutlah keajaiban dari menjaga kebersihan mulai dipandang mata. Kebersihan lingkungan dapat mencegah perkembangbiakan dari virus dan bakteri yang dapat menimbulkan kanker. Virus tertentu menyebabkan kanker pada manusia dan virus lainnya dicurigai sebagai penyebab kanker. Virus papilloma yang menyebabkan kutil alat kelamin (genitalis) agaknya merupakan salah satu penyebab kanker leher rahim pada wanita. Dan beberapa virus retro pada manusia, misalnya virus HIV, menyebabkan limfoma dan kanker darah lainnya. Sedangkan bakteri yang dapat menyebabkan infeksi contohnya Clonorchis, yang dapat menyebabkan kanker pankreas dan saluran empedu.

4. Jauhkan Hidup dari Stres

Menjauhkan diri dari stres dalam menjalani hidup berperan penting bagi kesehatan tubuh karena tingkat stres psikis yang berlebihan akan berdampak kurang baik bagi tubuh, sehingga timbullah gejala-gejala fisik dan psikis. Hal ini dapat terjadi karena pada keadaan stres yang berat, tubuh akan mengeluarkan hormon-hormon secara berlebihan, diantaranya adalah hormon adrenalin. Keberadaan adrenalin dalam tubuh secara berlebihan menyebabkan tubuh dengan tekanan darah meningkat, jantung memompa darah dengan kuat, dan sel-sel tubuh dalam keadaan tegang yang memuncak. Keadaan ini dapat mengubah pola sel dalam bertumbuh dan berkembang, dimana sel-sel akan terangsang untuk tumbuh secara liar dan tidak terkendali, sehingga terjadilah kanker.

Upaya seseorang untuk menjauhkan stres yaitu mengupayakan jiwa batin tenang dengan tidak mendendam (selalu memaafkan), menikmati hidup, selalu bersyukur, percaya kepada Tuhan dan menyerahkan hidup ke dalam tanganNya, serta pandai mengelola atau menyiasati ambisi.

5. Mengelola Strategi Tidur yang Tepat

Pengelolaan strategi tidur bertujuan untuk mendapatkan proses tidur yang nyenyak. Karena proses tidur nyenyak akan mengoptimalkan proses metabolisme hormonal yang berkaitan dengan kanker dan proses de-toxin pada hati.

De-toxin atau Detoxifikasi (Detox) adalah proses pembuangan zat-zat yang tidak berguna (racun) di dalam tubuh kita. Detox alami terjadi pada waktu kita tidur dimalam hari. Tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang akan mengacaukan proses pembuangan zat-zat yg tidak berguna. Oleh  karena itu, jika kenyenyakan tidur terganggu akan menyebabkan seseorang tidur larut malam dan bangun terlalu siang sehingga menyebabkan gangguan pada proses de-toxin dan akhirnya akan mengakibatkan kanker hati.

Sedangkan hubungan antara tidur nyenyak dengan ke-optimalan proses metabolisme hormonal yaitu proses terjadinya stres yang diakibatkan oleh kurangnya waktu tidur bagi tubuh. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa stres juga beresiko menyebabkan kanker karena kelebihan produksi hormon adrenalin dari stres tersebut.

Cara memperoleh strategi tidur nyenyak untuk tubuh agar terhasil proses de-toxin yang optimal dan terhindar dari stres yaitu dengan beberapa cara :

· Perhatikan udara kamar tidur dengan selalu menjaga kelancaran sirkulasi udara dengan membuka jendela setiap pagi dan sebelum tidur.

· Tenangkan diri sebelum tidur

· Tidur tepat waktu, yaitu sekitar pukul 21:00, karena pada waktu inilah proses de-toxin dimulai.

· Tata ruang kamar untuk memberikan kenyamanan

· Selalu membersihkan tempat tidur

· Lakukan olahraga relaksasi sebelum tidur untuk mengoptimalkan kinerja jantung saat tidur.

· Pastikan keamanan rumah dari sesuatu yang dapat menimbulkan bahaya agar pikiran tidak cemas pada saat tidur.

· Hindari makan berlebihan sebelum tidur, karena memberikan asupan yang berlebih akan mengaktifkan proses kerja lambung secara ekstra pada saat tidur sehingga menyebabkan terbangun di tengah malam dan akhirnya tidak bisa tidur kembali.

6. Menjauhkan Diri dari Hidup Bebas

Kehidupan bebas masa kini membuat seseorang tidak dapat mengontrol diri. Berganti-ganti pasangan dan melakukan hubungan intim pada usia dini, meningkatkan resiko terinfeksi virus papiloma manusia yang berkaitan dengan kanker mulut rahim atau alat kelamin. Infeksi oleh virus herpes simpleks tipe-2 yang ditularkan melalui hubungan kelamin dapat meningkatkan resiko kanker. Virus hepatitis B dapat ditularkan melalui hubungan kelamin dan meningkatkan risiko kanker hati.

Inilah mukjizat yang diperlihatkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya yang artinya :

Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.

Kesimpulan dari ayat ini menjelaskan bahwa Allah melarang hamba-Nya untuk tidak melakukan hubungan kelamin karena Allah SWT menjaga agar hamba-Nya tidak terserang salah satu penyakit yang disebabkan oleh hubungan kelamin (zina), yang salah satunya adalah KANKER.

Referensi :

Al-Qur’an dan Terjemahannya. Al-Jumanatul ‘Ali

As-Sayyid, Muhammad, Basith, Abdul. 2006. Pola Makan Rasulullah.

Jakarta : Almahira

Corwin, J, Elizabeth. 2009. Buku Saku PATOFISIOLOGI. Jakarta : EGC

Hasan, F, Abdillah. 2010. The Power of Tidur. Jakarta : PT. Buku Kita

Junaidi, Iskandar. 2007. Kanker “Pengenalan, Pencegahan, dan

Pengobatannya”. Jakarta : BIP Kelompok Gramedia

Washfi, Muhammad. 2008. Menguak Rahasia Ilmu Kedokteran dalam Al-

Quran. Surakarta : Indiva Pustaka Kelompok Penerbit Indiva Media

Kreasi

Unduh dari internet :

http://batamcyberzone.com

http://one.indoskripsi

http://eprints.undip.ac.id/316/1/Anies.pdf

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai