Penyakit Kronik Jakarta

18 Feb

Penyakit kronik adalah penyakit yang dialami selama lebih dari 3 minggu. Penyakit inilah yang dari dulu hingga saat ini dialami oleh Jakarta, penyakit yang tidak bisa di cegah dengan beberapa penatalaksanaan yang sudah dicanangkan oleh pemerintah nasional maupun setempat. Apa penyakit kronik yang dialami Jakarta ? Penyakit kronik yang dialami Jakarta adalah MACET.

Macet adalah permasalah utama Jakarta yang dari dulu hingga saat ini menjadi topik hangat yang dibicarakan, karena hangatnya membuat semua orang yang mengalami macet terbakar emosiĀ  tingkat tinggi. Macet disebabkan oleh banyaknya kendaraan pribadi yang lalu lalang tanpa batas maksimal. Menurut data Badan Pusat Statistik (2006), jumlah kendaraan bermotor tersebut sudah mencapai 7.773.957 unit, terdiri atas mobil 1.816.702 unit, sepeda motor 5.136.619 unit, angkutan barang 503.740 unit, sedangkan bus hanya 316.896 unit.
Sementara itu, luas ruas jalan di Jakarta hanya 27.340.000 meter persegi. Bila semua kendaraan bermotor yang ada di Jakarta saat ini dikeluarkan, ruas jalan yang tersedia itu tidak akan mampu menampung semua kendaraan (http://www.ikman.wordpress.com, Senin, 9 Agustus 2010).

Memang setiap orang memiliki hak untuk memiliki kendaraan pribadi, tetapi kini hak tersebut malah disalah artikan menjadi tren terheboh dalam fashion kendaraan. Setiap orang memiliki satu kendaraan, dan dari satu orang tersebut menjadikan kendaraan sebagai fashion untuk berlomba-lomba memiliki kendaraan terbaru yang sedang in. Padahal mereka tidak memikirkan bahwa kesenangan akan timbul permasalahan. Macet adalah permasalahanya. Segala penatalaksaan sudah dilakukan oleh pemerintah setempat dari darat hingga ke air tetapi kini terbukti gagal menatalaksana macet yang sudah bertahun-tahun dialami Jakarta. Penatalaksanaan darat yang sudah dilakukan oleh pemerintah yaitu Trans Jakarta (Busway) yang telah beroperasi 15 Januari 2004, tetapi kenyataannya GATOT (gagal total). Ruas jalan yang sudah dikhususkan untuk busway kini malah dijadikan ajang tempat untuk menghindari macet kendaraan pribadi, yang lalu lalang seenaknya saja tanpa memikirkan konsekuensi yang akan terjadi. Sedangkan penatalaksanaan air yang dicanangkan tetapi kembali gatot yaitu Waterway yang beroperasi di kali Ciliwung dan telah diresmikan pada 6 Juni 2007 kini gagal mencegah masalah utama Jakarta. Kali Ciliwung sudah tidak digunakan sebagai kali untuk mengoperasikan waterway, malah kali Ciliwung sudah dioperasikan sebagai TPS (tempat pembuangan sampah) air yang pertama di Jakarta dan tempat peternakan penyakit karena banyaknya lalat yang berkembang biak disana. Lalu, apa solusi yang akan mencegah macet kembali ?

Dalam acara berita Seputar Indonesia (07 Agustus 2010, pukul : 12.00) menginformsikan bahwa kini pemerintah telah mencanangkan kembali KRL (kereta listrik) Jabodetabek (info lengkap di http://www.krl.co.id, Senin, 09 Agustu 2010) yang mungkin dapat dijadikan solusi untuk menghindari macet. Saat ini belum ada pembuktian nyata dari solusi terbaru ini, pembuktian solusi akan terwujud beberapa tahun kedepan. Kini timbul pertanyaan lagi, apa beberapa tahun kedepan akan berhasil ? apa jawabannya ? kita tidak tahu.

Penyakit kronis ini sebenarnya dapat ditatalaksana kembali jika pemerintah dan masyarakat memiliki komitmen dua belah pihak, tidak hanya satu pihak. Maksudnya adalah, jika pemerintah memberikan penatalaksanaan untuk macet seharusnya sebagai masyarakat mengikuti wacana dan rencana pemerintah serta peraturan yang ada. Lalu, Apakah kita sebagai masyarakat akan berkomitmen dengan pemerintah ?. Semua pertanyaan yang timbul ini akan terjawab dari diri kita sendiri dan akan terjawab dengan seiringnya waktu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: