Kita Sama dengan Barang ? What’s the Mean ?

8 Mar

Setelah saya baca beberapa buku karangan pak Agus Mustofa, saya jadi lebih banyak tahu seperti apa manusia itu. Inilah salah satu dari isi buku karangan beliau dari judul buku “Melawan Kematian

 

Aku, Sel yang Mengatur Kehidupan dan Kematian

Maha Besar Allah dengan segala Keagungan-Nya, dengan segala apa yang diciptakan-Nya. Allah menciptakan manusia dengan segala kesempurnaan yang tak terhitung harganya dan dengan segala keseimbangannya, ini telah dijelaskan oleh-Nya dalam kitab suci al-Qur’an yang artinya.

Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (sistem tubuh) mu seimbang, dan bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu” (QS. al-Infithaar : 7-8)

Kita, manusia di ciptakan begitu rumit. Kerumitan penyempurnaan kita bermula dari pertemuan antara dua sel, yaitu sel telur dan sperma di dalam rahim. Dari satu sel, menjadi dua sel, menjadi empat sel, menjadi 8 sel, dan begitu seterusnya hingga menjadi bertriliun sel yang ada dalam tubuh kita. Dari sel, kita dijadikan oleh-Nya menjadi jaringan dan akhirnya menjadi berbagai macam organ yang memiliki fungsi yang sangat sempurna hingga menyeimbangkan kita sampai saat ini. Subhanallah . . .

Sel dapat hidup dengan sendirinya dalam tubuh manusia. Ia menyerap berbagai macam zat yang ada di lingkungan dalam tubuh manusia. Di dalam sel ada kode-kode genetika yang berfungsi menegeluarkan perintah. Pusatnya ada di dalam inti sel. Ada sekitar 3-5 miliar kode genetika yang memberikan perintah agar sel tetap mempertahankan kehidupannya. Untuk itu sel dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas. Mulai dari membran sel yang bertugas menjadi benteng dan pintu keluar masuknya zat-zat kebutuhan hidupnya. Disini ada mekanisme screening yang berfungsi mengatur keluar masuknya zat-zat yang berbahaya bagi tubuh. Pengaturan membran sel itu di perintah oleh inti sel. Lalu zat-zat tersebut masuk ke dalam, lantas diolah menjadi protein-protein yang dibutuhkan. Pabriknya ada di dalam ribosom. Pasokan listriknya ada di mitokondria. Tatacara pembuatannya dikeluarkan oleh inti sel, sebagai pusat komando. Dan hasil-hasilnya, dibawa oleh bagian transportasi endoplasmic reticulum untuk didistribusikan sesuai perintah dari inti sel yang akhirnya akan bereplikasi. Di dalam inti sel inilah terdapat gen-gen yang dapat memerintahkan apakah masih dapat hidup atau tidak. Dari gen inilah ternyata adanya pemutaran kehidupan dan kematian bagi kita sebagai manusia.

Di dalam inti sel Allah telah menempatkan jatah waktu hidup kita di dalam gen yang sangat kecil. Dari untaian gen yang disebut telomer, manusia dapat mengetahui pendek dan panjangnya kehidupan. Subhanallah . . . begitu cermatnya Allah menciptakan kita. Pada orang-orang yang berusia tua, ternyata telomer mereka lebih pendek dibandingkan yang berusia muda. Hal ini terjadi dikarenakan adanya mekanisme telomerase alias replikasi yang unik di dalam sel-sel kita. Setiap kali sel terjadi pengkopian kode-kode genetika untuk mereplikasi sel itu selalu saja ada yang tertinggal. Ibarat halnya kita mengkopi sebuah buku yang tidak kita kopi dari awal sampai akhir, pasti ketika kita mengkopi ada saja halaman yang kita tinggal. Begitulah halnya proses telomerase dalam tubuh kita. Inilah yang membedakan pula antara manusia yang tua dan muda. Proses telomerase juga dapat menurunkan gen tersebut kepada keluarga yang berarti bahwa ketika telomer sang ayah atau ibu panjang maka berarti telomer yng dimiliki sang anak panjang yang mengartikan pula bahwa kelurga tersebut insyaallah berumur panjang. Inilah keajaiban yang ternyata kita tidak mengetahuinya secara terperinci bagaimana kita di cipatakan seutuhnya. Subhanallah . . .

 

Kita dan Barang Ternyata Sama

Ya, kita sama halnya dengan barang. Kenapa begitu ? karena ketika kita berada dalam rahim ibu, Allah telah menyiapkan jatah hidup kita seberapa lama kita akan hidup. Life Time atau jatah hidup yang kita miliki selama ini dapat berubah tergantung dari pola hidup kita. Selama kita menjaga Life Time tersebut maka life time kita akan semakin panjang. Ya kaya barang aja, yang sudah ditentukan oleh pabrik waktu kadarluarsanya atau garansinya. Kalau kita pakai barang itu dengan baik, ya . . . barang tersebut akan baik dan tidak akan kita bawa ke tukang service. Sama kaya kita kan ? kalau kita jaga pola hidup kita, ya kita tidak akan bolak-balik ke dokter untuk berobat.

Tapi pada kenyataanya, selama ini kita telah salah kaprah dalam mengerti semua itu. Selama ini kita berpikir bahwa jika kita meninggal pada umur, misalnya 20 tahun itulah kehendak Allah. Jika kita meninggal karena kita bunuh diri contohnya, kita berpikir bahwa itu adalah aturan Allah yang sudah di atur di lauhhilmahfuz. Semua yang kita pikirkan, salah. Jatah hidup yang Allah tentukan selama kita masih berada di kandungan Mamah ternyata tergantung dari pola hidup kita sendiri. Jika kita amburadul dalam hidup, seperti makan sembarangan yang jelas-jelas tidak baik bagi kesehatan itulah yang menentukan kahidupan kita, misalnya kita sudah ditentukan life time-nya 100 tahun tapi karena pola hidup kita yang amburadul ya bisa jadi kita meninggal pada umur 50 tahun. Contohnya lagi, Kalau kita meninggal karena bunuh diri, bukan berarti Allah telah benar-benar mengatur semuanya. Tapi memang Allah lah yang mengabulkan apa yang kita inginkan atau kita ucapkan. Kita berpikir ingin bunuh diri ya Allah pasti akan kabulkan . . .

 

Saatnya kita Melawan Kematian

Ternyata Kita Bisa Melawan Kematian

Don’t negative thinking dulu !!

Maksud dari melawan kematian disini ya gampang-gampang aja sich, kita cuma cukup bersyukur pada Allah yang telah menciptakan kita begitu sempurna. Bersyukur bukan berarti habis solat kita mengucapkan Alhamdulillah dan mengangkat tangan, tapi bersyukur disini ya kita jaga apa yang sudah Allah ciptakan kepada kita. Gampang kan ?! ngomong sich gampang, but kalau melakukannya emank agak sulit. Maka dari itu, tidak hanya dengan usaha aja tapi juga dengan do’a supaya kita minta bantuan kepada-Nya.

 

Ternyata terbukti Pribahasa “lebih baik mencegah daripada mengobati

Satu Tanggapan to “Kita Sama dengan Barang ? What’s the Mean ?”

  1. ayang mardiana Maret 9, 2011 pada 5:23 am #

    😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: