PENGGUNAAN INSULIN BAGI PENDERITA DIABETES MELITUS DALAM PANDANGAN ISLAM

21 Jul

Diabetes Melitus

Diabetes melitus atau yang sering disebut kencing manis dalam bahasa awamnya, merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. World Health Organization (WHO) telah merumuskan bahwa DM merupakan sesuatu yang tidak dapat dituangkan dalam satu jawaban yang jelas dan singkat tetapi secara umum dapat dikatakan sebagai suatu kumpulan problem anatomik dan kimiawi akibat dari sejumlah faktor dimana didapat defisiensi insulin absolut/relatif dan gangguan fungsi insulin.

Secara epidemiologi, faktor resiko yang dapat menimbulkan DM adalah : bertambahnya usia, lebih banyak dan lebih lamanya obesitas, distribusi lemak tubuh, kurangnya aktifitas jasmani dan hiperinsulinemia. Dengan semakin meningkatnya usia harapan hidup manusia, maka kebutuhan hidup manusia terhadap insulin semakin bertambah. Karena secara alami, dengan bertambahnya usia, maka fungsi pankreas akan semakin menurun. Dengan menurunnya fungsi pankreas, maka menurun pula fungsi insulin yang dapat dihasilkan tubuh manusia. Dengan menurunnya insulin dalam tubuh manusia, maka kemampuan tubuh manusia untuk memecah gula dalam darah akan semakin turun. Pada saat itulah manusia terkena penyakit diabetes melitus, dan memerlukan suntikan insulin.

Diabetes melitus diklasifikasikan menjadi dua yaitu diabetes melitus tipe I yang bergantung pada insulin (IDDM), dan DM tipe II yang tidak bergantung kepada insulin (NIDDM). DM tipe I merupakan penyakit autoimun yang biasa dialami oleh anak-anak atau remaja, dimana sel β pankres dihancurkan sehingga tidak mampu memproduksi insulin endogen yang bertanggung jawab terhadap peningkatan glukosa darah DM tipe II, terjadi defisiensi insulin yang didahului oleh adanya resistensi insulin di otot, lemak, dan hati (terutama pada obesitas viseral), dan bersamaan itu disertai gangguan sekresi insulin sel β pankreas yang lambat laun menjadi defisiensi insulin yang permanen.

Selain itu, terdapat jenis diabetes melitus gestasional (DMG) yang juga disebabkan oleh resistensi insulin yang terjadi pada wanita hamil. DMG biasanya terjadi pada trimester kedua atau ketiga. Saat ini insulin dipergunakan untuk DM tipe I dan DM tipe II apabila pengobatan dengan antidiabetik oral gagal. Pasien DMG juga diberi terapi dengan insulin. Namun biasanya glukosa darah akan kembali normal setelah melahirkan.

Seseorang dikatakan menderita diabetes jika ia memilik kadar gula puasa >126 mg/dL dan pada tes >200 mg/dL. Kadar gula darah yang normal pada pagi hari setelah malam sebelumnya berpuasa adalah 70-110 mg/dL darah. Kadar gula darah yang normal cenderung meningkat secara ringan, tetapi progresif (bertahap) setelah usia 50 tahun. Terutama, pada orang-orang yang tidak aktif bergerak. Peningkatan kadar gula darah setelah makan atau minum merangsang pankreas untuk menghasilkan insulin sehingga mencegah terjadinya kenaikan kadar gula darah menurun secara perlahan.

Pasien dan Insulin

Insulin merupakan hormon yang terdiri dari rangkaian asam amino, dihasilkan oleh sel β pankreas. Dalam keadaan normal, bila ada rangsangan pada sel β, insulin disintesis dan kemudian disekresi kedalam darah sesuai kebutuhan tubuh untuk keperluan regulasi glukosa darah. Insulin berperan penting pada berbagai proses biologis dalam tubuh terutama menyangkut metabolisme karbohidrat. Hormon ini berfungsi dalam proses utilisasi glukosa pada hampir seluruh tubuh terutama pada otot, lemak, dan hepar. Apabila ada gangguan pada kerja insulin, menimbulkan hambatan dalam utilisasi glukosa dan peningkatan kadar glukosa serta peningkatan kadar glukosa darah. Secara klinis, gangguan tersebut dikenal sebagai diabetes melitus.

Seseorang diharuskan menggunakan insulin jika ia menderita diabetes tipe 1 (IDDM) yang kesembuhannya sangat tergantung kepada insulin. Diabetes melitus tipe 1 dapat dicirikan dengan kurangnya produksi insulin oleh pankreas. Gejalanya berupa kencing yang berlebihan (polyuria) dengan volume urin yang besar atau >2,5 L selama 24 jam, rasa haus (polydipsia), lapar berkelanjutan, penurunan berat badan, daya lihat menurun dan kelelahan. Gejala-gejala tersebut dapat terjadi secara tiba-tiba dan dapat berkembang sangat cepat dalam hitungan minggu atau bulan.

Tanda-tanda juga dapat dilihat dari hasil pengukuran konsentrasi gula darah. Bila konsentrasi gula dalam darah tinggi, melebihi kemampuan ginjal, maka penyerapan gula ginjal (dalam proximal ginjal tubuli) menjadi tidak sempurna, dan bagian dari glukosa akan tetap berada di air seni (glycosuria). Peningkatan glukosa dan air seni ini menyebabkan peningkatkan tekanan air seni (osmotic pressure) dan menghalangi penyerapan ulang (reabsorption) air oleh ginjal. Hal ini meningkatan produksi air seni (polyuria) dan peningkatan kehilangan cairan. Volume cairan darah yang hilang akan digantikan dengan cairan dari air yang diserap dari sel-sel tubuh lainnya, hal inilah yang menyebabkan dehidrasi dan peningkatan kehausan.

Gula darah tinggi yang berkepanjangan dalam darah menyebabkan penyerapan gula juga tinggi. Hal ini mengarah ke perubahan dalam bentuk lensa mata, sehingga menyebabkan perubahan pada penglihatan. Kontrol gula pada lensa biasanya mengembalikan kondisi ini ke bentuk aslinya. Penglihatan kabur adalah hal yang umum pada pengidap diabetes dan merupakan keluhan yang mengarah ke diagnosa diabetes. Pada diabetes melitus tipe 1, perubahan penglihatan ini berlangsung dengan cepat tidak seperti pada disbetes melitus tipe 2 yang berlangsungnya lebih bertahap.

Gejala lain yang biasanya timbul pada pengidap diabetes melitus tipe 1 yaitu adanya regulasi metabolisme yang ekstrim dengan dicirikan oleh bau acetone pada nafas pasien, berat bernafas, mual, muntah dan rasa sakit pada perut atau abdominal. Pasien juga mengalami salah satu dari banyak status kesadaran yang berubah-ubah seperti sifat permusuhan, maniak, kebingungan dan kelesuan. Semua gejala inilah yang dapat dikategorikan bahwa pasien tersebut mengidap diabetes melitus tipe 1 yang sangat tergantung pada insulin.

Insulin Babi

Sudah banyak penelitian yang dilakukan oleh beberapa ilmuwan, bahwa tidak sedikit dari insulin terbuat dari pankreas babi. Jika dibandingkan dengan insulin dari ekstraksi pankreas sapi yang hanya menghasilkan ½ cc saja, insulin babi dapat menghasilkan sekitar 1 L insulin dari gen pankreas yang diklon dalam ragi pada tabung fermentor kapasitas 1000 L. Bila diamati dengan cermat, secara ilmiah organ yang ada pada babi memiliki perwujudan yang sangat serasi dengan manusia. Perbandingan lain juga ditemukan dari hasil struktur kimia yang dimiliki oleh babi, ternyata struktur insulin yang dimiliki oleh pankres babi memiliki bentuk yang hampir sama dengan insulin manusia, yaitu :

Insulin Manusia : C256H381N65O76S6 MW = 5807,7

Insulin Babi : C257H383N65O77S6 MW = 5777,6

Dari perbandingan yang ditemukan itulah, kini banyak insulin yang beredar di seluruh dunia. Maka dari itu pengobatan untuk penderita diabetes kebanyakan menggunakan insulin babi. Kini timbul pertanyaan, “Apakah insulin tersebut boleh digunakan untuk penderita Diabetes Melitus yang beragama Islam ?”.

Jika dilihat dari pokok utama panduan umat Islam, Al-qur’an dan Hadist. Maka menggunakan insulin yang terbuat dari pankreas babi, HARAM. Pengharaman tersebut dilihat berdasarkan ayat Al-qur’an yang berbunyi :

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Haram juga menurut ayat ini daging yang berasal dari sembelihan yang menyebut nama Allah tetapi disebut pula nama selain Allah” (Al-Baqoroh : 173)

Dan juga sabda Rasulullah SAW, yang artinya :

Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra.

Bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda pada tahun penaklukan, ketika beliau masih berada di Mekah : Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan penjualan khamar, bangkai, babi dan berhala. Lalu beliau ditanya : Wahai Rasulullah, bagaimana dengan lemak bangkai yang digunakan untuk mengecat perahu, meminyaki kulit dan untuk menyalakan lampu? Beliau menjawab : Tidak boleh, ia tetap haram. (Shahih Muslim)

Tidak hanya dilihat dari dua pokok utama, Al-qur’an dan Hadist saja, ternyata sudah banyak pembuktian kebenarannya kenapa Allah mengharamkan babi untuk dimakan atau digunakan untuk apapun. Sesungguhnya pengharaman menggunakan babi dalam Islam, merupakan lompatan jauh ke depan bila ditinjau dari segi ilmu pengetahuan materi dan juga kesehatan.

Babi adalah hewan yang kerakusannya dalam makan tidak tertandingi hewan lain. Ia makan semua makanan yang ada di depannya. Jika perutnya telah penuh atau makanannya telah habis, ia akan memuntahkan isi perutnya dan memakannya lagi, untuk memuaskan kerakusannya. Ia tidak akan berhenti makan, bahkan memakan muntahannya. Ia memakan semua yang bisa dimakan di hadapannya. Memakan kotoran apa pun di depannya, entah kotoran manusia, hewan atau tumbuhan, bahkan memakan kotorannya sendiri, hingga tidak ada lagi yang bisa dimakan di hadapannya. Kadang ia mengencingi kotorannya dan memakannya jika berada di hadapannya, kemudian memakannya kembali. Ia memakan sampah busuk dan kotoran hewan.

Babi memiliki sifat yang tidak sesuai dengan fitrah manusia yang diperintahkan oleh Allah SWT, babi adalah hewan yang pemalas tidak pernah berusaha dalam mencapai sesuatu yang diinginkannya, babi tidak mengenal etika reproduksi sampai anak babi membuahi telurnya kepada induknya, babi tidak memiliki sifat pencemburu sampai ia tidak marah jika pasanganya diambil oleh babi lain, babi jantan sangat rakus sampai satu betina disetubuhi dengan banyak babi jantan, tidak memiliki rasa kasih sayang sekalipun kepada anaknya sendiri, dan babi memiliki sifat egois, yang selalu mementingkan dirinya sendiri. Semua sifat tersebut sangat bertentangan kepada apa yang sudah difitrahkan kepada manusia, Allah memerintahkan manusia untuk selalu berusaha dalam mencapai sesuatu, Allah memerintahkan agar manusia selalu berkasih sayang kepada siapapun, dan banyak lagi sifat yang seharusnya dimiliki oleh manusia yang diperintahkan oleh Allah SWT.

Selain itu babi juga adalah unsur dari berbagai macam penyakit, antara lain TBC, cacar, scabies, antrax, asam urat, dan yang saat ini masih hangat dibicarakan oleh masyarakat dunia adalah flu babi, serta masih banyak lagi penyakit yang dapat ditimbulkan oleh babi.

Maka dari itu dalam penggunaan insulin yang terbuat dari pankreas babi sangat diharamkan kepada penderita Diabetes Melitus. Coba kita bayangkan dari segi pemberian insulin. Contohnya saja pada pemberian insulin melalui suntikan subkutan. Pemberian insulin dengan cara penyuntikan melalui subkutan yang bertujuan mempertahankan gula darah dalam batas normal, dosis yang diberikan sepanjang hari yaitu 80-120 mg% saat puasa dan 80-160 mg% setelah makan. Jika dosis tersebut diberikan sepanjang hari, tubuh penderita secara otomatis menerima dan menyimpan asupan insulin dari pankreas babi dan akhirnya menjadi insulin utama dalam proses metabolisme selanjutnya.

Dapat disimpulkan semakin banyak insulin yang digunakan oleh sang penderita, banyak kemungkinan penyakit baru yang akan timbul. Tidak hanya itu saja, jika dilihat dari istilah dalam bahasa Inggris “You are as you eat”, yang memiliki pengertian bahwa sifat dan karakteristik manusia itu berasal dari apa yang ia makan maka tidak mustahil jika sifat yang dimiliki babi akan tertanam erat ke penderita itu sendiri. Semua itu adalah alasan kenapa Allah mengharamkan memakan atau menggunakan babi dalam bentuk apapun. Subhanallah . . .

Lalu Apa Solusinya ?

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku”. (QS. asy-Syu’ara (26) : 80)

Didalam hadist Nabi Muhammad SAW bersabda, yang artinya :

“Allah tidak akan menurunkan penyakit, kecuali Allah juga menurunkan baginya obat penyembuhnya”

Dari kedua pedoman tersebut memberikan keyakinan bahwa sebenarnya setiap penyakit yang diberikan Allah kepada manusia pasti disertai dengan jalan keluarnya. Oleh karena itu, bukan insulin saja yang dapat menyembuhkan diabetes melitus, tetapi masih banyak lagi jenis-jenis yang halal yang Allah berikan di dunia.

Dalam dunia kesehatan, ada dua cara medis lain yang biasa dilakukan untuk menangani penderita diabetes. Pertama, terapi dengan hipoglikemik oral yang berfungsi untuk menurunkan kadar gula darah secara adekuat, terutama pada penderita diabetes tipe 2. Salah satu contohnya adalah glipizid. Kedua, dengan obat jenis akabors yang cara kerjanya adalah dengan cara menunda penyerapan glukosa di dalam usus.

Selain dari dunia kesehatan, ada juga beberapa macam pengobatan yang menggunakan herbalisasi yang lebih mudah di dapatkan oleh masyarakat, terutama di Indonesia.

1. Tanaman Ciplukan

Untuk mengobati diabetes melitus (kencing manis), ambil tumbuhan ini secara utuh, lalu direbus dengan menggunakan tiga gelas air sampai yang tersisa satu gelas. Lalu disaring dan diminum dengan rutin.

2. Buah Jambu Monyet

Untuk mengobati diabetes melitus (kencing manis), yang dimanfaatkan adalah dua potong kulit batang jambu monyet yang dicampur adas pulawaras secukupnya. Kedua bahan tersebut kemudian direbus dengan 2L air, dan disaring untuk diambil airnya. Minumlah air itu dua kali sehari, pagi dan sore.

3. Daun Sirih Merah

Untuk mengobati diabetes melitus dengan daun sirih merah, daun sirih yang digunakan adalah daun sirih yang telah berumur empat bulan atau pada saat memiliki daun hingga 20 buah. Karena pada saat itu daun sirih akan terasa kaku dan tebal serta memiliki panjang hingga 20 cm.

Cara yang biasa dilakukan, yaitu : ambil daun sirih merah secukupnya dan bersihkan dari berbagai kotoran yang menempel. Daun sirih merah direndam dalam air selama 30 menit, setelah itu dipotong tipis-tipis dan dikeringkan dengan angin selama satu jam. Setelah kering, simpan daun dalam plastik kering. Hasil pengeringan ini kemudian direbus, disaring, lalu diminum paling tidak 2 kali sehari.

4. Daun Salam dan Sambiloto

Daun salam 8-15 lembar

Sambiloto 30 gram

Cara Membuat

Setelah daun salam dan sembiloto dicuci, rebus dalam 2 gelas air hingga tersisa 1 gelas. Angkat, dinginkan, lalu saring. Air rebusan ini diminum sebelum makan. Lakukan 2 kali sehari

5. Brotowali

Batang brotowali 1 ruas jari

Sambiloto 20 g

Kumis kucing 35 g

Cara Membuat

Cuci bersih semua bahan herbal. Potong batang brotowali. Rebus semua dalam 3 gelas air hingga tersisa 2 gelas. Angkat, saring, lalu diamkan. Minum 2 kali sehari sebelum makan.

References :

Al-qur’an & Terjemahan

Al-Hafidz. W. Ahsin. 2007. Fikih Kesehatan. Jakarta : Amzah

Isnawati, Nurlaela, & Rusdi. 2009. Awas ! Anda Bisa Mati Akibat Hipertensi & Diabetes. Jogjakarta : PowerBooks

Mahfudh, Sahal. 2005. SOLUSI Problematika HUKUM ISLAM Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbas. Surabaya : Lajnah Wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur

Suyono, Slamet. 2007. Ilmu Penyakit Dalam , edisi IV. Jakarta : Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jilid III.

2009. Herbal Indonesia Berkhasiat & Cara Meracik. Depok : PT. Trubus Swadaya

Wijaya, Permana, Yoga. 2009. “Fakta Imiah Tentang Keharaman Babi”. Bandung : File PDF

www.google.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: